Keras Pada Tubuh Sendiri

Pagi ini, haid hari dua. Saya tetap bersepeda seperti tidak ada apa-apa, hanya saja hari ini menyerah pada putaran ketiga. Pinggang saya nyeri, kepala saya sakit berputar dan dari betis hingga paha cukup tidak nyaman untuk dipakai mengayuh lebih jauh lagi.

Tidak ada yang berubah dari rutinitas haid atau biasa kami menyebutnya dengan menstruasi, hanya saja saya harus minum beberapa tambahan obat sakit kepala dan mual, berganti pembalut dan memakai celana berwarna gelap. Tapi sesungguhnya, periode menstruasi adalah masa di mana saya merasa tubuh ini utuh. Karena ini adalah waktu tubuh saya menemui kodratnya, yang biasa masyarakat salah persepsikan sebagai mengurus anak, memasak di dapur dan melayani suami.

Kodrat perempuan yang yang paling nyata saya rasakan dan keras saya rayakan adalah menstruasi. Karena tentu, kehamilan belum lagi saya rencanakan, menyusui belum tentu akan terulang. Jadi kehadiran darah pervaginam adalah waktu tubuh saya merasa utuh menjadi perempuan lengkap dengan kodratnya, ia merasakan dan disegarkan lagi.

Tulisan ini diketik siang ini, kala menahan pusing setelah meminum 1 tablet penghilang nyeri. Setelah saya berkontemplasi tentang betapa kerasnya saya terhadap tubuh saya sendiri, terlebih saya sebagai seorang perempuan.

Saya sering berkelakar di sosial media bahwa saya sangat ingin seorang anak perempuan agar saya memiliki seorang teman di rumah. Bagaimana tidak, bahkan kucing saya saja melahirkan 5 ekor kucing jantan. Tapi mungkin, ini bukan tanpa sebab, karena saya tumbuh semakin tahun semakin keras terhadap tubuh saya sendiri, terhadap isi kepala saya sendiri dan terhadap nilai saya sebagai perempuan.

Saya memaksa tubuh saya yang kata orang lemah untuk pergi sejauh mungkin, saya memacu isi kepala saya yang kata orang sempit berpikir selebar mungkin, saya menggaungkan suara saya yang kata orang tidak terdengar untuk bisa lantang dan kuat bagi yang lain. Karena hidup, sebagai perempuan, untuk saya; bukan tanpa tujuan.

Saya keras kepada tubuh saya,
Saya paksa mereka untuk bekerja sejauh yang mereka bisa, semampu yang mereka mau.
Saya biarkan sela inchi tubuh saya merayakan kehidupannya, dan setiap fase periode kodrat saya untuk seutuhnya mendapat tempat.

Saya keras kepada tubuh saya, karena saya perempuan.

jadi,

Bayangkan bila saya memiliki anak perempuan.
betapa kerasnya saya akan mendidik dan menanamkan nilai pada dirinya?
Mungkin karena itu,

anak laki-laki lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *