A Memory

Lantai 5 sebuah bangunan baru di bilangan Salemba Jakarta sekitar 6 tahun lalu,

di sebuah ruangan berukuran 4×4, sebuah ranjang pasien dan sebuah alat canggih yang bisa memancarkan keajaiban dan mempedengarkan bisik paling membuat desir, detak detak yang berpacu dalam detik kehidupan.

Pagi itu mungkin hari yang biasa untuk seorang pria dewasa muda bergelar Doktor yang ntah mengapa, matanya kerap terlihat sayu.

Bagi saya,
Pagi itu nyaris malapetaka.

Saya terduduk tanpa daya, tak berhenti mengucap doa, tidak pernah ada kepasrahan untuk mempertahankan seorang anak yang didapatkan dengan usaha dan kepayahan. Seorang anak yang dikandung, buah dari doa yang dikabulkan. Hasil dari lirih dan bait-bait malam yang didengar, dan dilepaskan Tuhan, dihembuskan nyawanya ke dalam rahim saya.

Hari itu,
Darah tidak berhenti mengalir. Tapi detaknya masih ada.

Dokter Iko, menyambut saya dengan hamparan tangan yang terbuka, meminta uluran jemari saya, dan saya menyambutnya dengan seluruh kekuatan saya, sisa-sisa kelelahan untuk meyakini bahwa anak saya berada di tangan yang tepat.

Jabatan tangan itu,
adalah kenangan,
tentang arti sebuah penguatan, mengenai hal kecil yang tidak disadari berdampak penuh makna pada hancurnya harapan seseorang.

Uluran tangan itu,
adalah kolase film yang sekarang adalah kenangan masa pandemi.

Di mana jabat tangan,

bukan lagi hal yang dapat dicapai.

#30HariMenulis

#MengisiPSBB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *