Akhirnya Mampu Memaafkan dan Menerima

“Gua ga punya teman selama SMA..”

Ya, tidak bisa dibilang sepenuhnya tidak memiliki teman sama sekali, tapi tentu saya tidak memiliki gank teman akrab. Beberapa yang menganggap saya teman dari SMA masih berkomunikasi dengan saya hingga hari ini, sebagian besar tentu tidak pernah menanyakan kabar saya, karena nama saya tidak pernah ada dalam database pertemanan mereka.

Saya ketika SMA adalah seorang anak yang ketika jalan di koridor sekolah maka anak populer akan mendorong salah satu temannya ke arah saya, sembari berucap dan tertawa “Pacar lu tuhh.. Hahahhaha.”,
Lalu anak populer yang didorong ke arah saya tadi akan menampilkan gesture jijik, dan teman-temannya yang lain di belakang tertawa.

Saya dulu memang tidak tau cara berkawan, mungkin mereka menganggap saya aneh. Atau ntahlah apa namanya. Setelah diingat-ingat, saya ini memang SKSD alias sok kenal sok dekat, mencoba berkawan dengan bertanya hal-hal yang sekiranya relate dengan kehidupan mereka. Mencoba mencari tau hobi mereka, asal sekolahnya, siapa keluarganya dan lain sebagainya. Dulu, saya menganggap, pintu masuk untuk berkawan adalah dengan mengenal lebih dulu. Ah, nyatanya saya salah.

Hingga lulus sekolah, teman saya tetap.. sedikit. Tidak punya gank, dan lebih sering makan siang sendiri, tak pernah diajak nongkrong.

 

 

Masa kuliah saya, tak semenyedihkan masa SMA. Teman saya cukup banyak, tapi saya membawa satu bagasi masa lalu yang cukup berat,
“saya tidak mau teman-teman kuliah saya tau, bahwa saya pernah tidak punya teman..”

Saya trauma luar biasa dengan beratnya diperlakukan seperti makhluk terpinggirkan ketika sekolah. Tidak pernah tau salahnya apa, tapi diperlakukan seperti racun oleh  mereka yang dari dulu hingga sekarang populer. Saya ingat, dulu, tas saya menutupi jalan salah satu anak populer dan ia berteriak dari ujung jalan “Woy, tas lo nih!” .. Oh baik.

Selama periode  pertemanan baru pasca SMA, saya selalu menutupi kenyataan bahwa saya tak punya teman. Saya akan merasa malu luar biasa bila salah satu teman saya saat kuliah menanyakan hal tersebut pada saya, walau pada akhirnya ternyata mereka tetap jadi teman saya. Tapi perasaan trauma itu menghantui,

Bagasi saya berat.
Tirai saya untuk menutupinya tak kalah besarnya.

Apa yang paling berbahaya dari cerita saya?
Saya pernah  berada pada fase saya merasa SAYA LAYAK diperlakukan seperti itu. Ya karena saya aneh, ya karena saya sok akrab, ya karena saya berbeda mungkin, ya karena saya tidak cemerlang, ya karena saya ini itu ini itu dan semua kepermisifan saya akan kenyataan bahwa saya diperlakukan tidak sebagaimana mestinya.

Saya merasa, bahwa yang mereka lakukan terhadap saya sudah benar. Bahwa saya berhak mendapatkannya, bahwa respon mereka wajar. Bahwa mereka sama sekali tidak melakukan hal di luar normal.

Bahwa saya tidak berharga.

 

 

Usia 29,
Rentang waktu yang cukup panjang hingga akhirnya saya mampu untuk memaafkan, mampu untuk menerima dan mampu untuk melangkah tanpa bagasi sisa SMA. Hampir 15 tahun saya memendam semua dendam,

Hampir 15 tahun waktu yang dibutuhkan saya sendiri untuk menghargai diri sendiri, bahwa masa SMA saya memang menyebalkan, tapi saya tetap berharga, dan sudah waktunya saya melepaskan semua yang mengganjal,
Memaafkan semua yang pernah membuat sesak.

Saya perlahan memperbaiki diri sendiri,
Menjaga lingkaran pertemanan saya, belajar dari masa lalu. Di sela itu semua, saya juga belajar untuk tidak mempertahankan siapapun yang tidak ingin tinggal. Bahwa pertemanan seakrab apapun ada masa kedaluwarsa, mungkin karena kesamaan sudah mulai berbeda, waktu yang tak lagi beriringan, atau nilai yang tak lagi sejalan. Apapun alasan pertemanan harus berakhir, atau melonggar; tidak ada yang salah dengan diri sendiri,

karena pertemuan alamiah pertemanan, maka mungkin akan tak lagi akrab; dan itu semua, bukan salah siapa-siapa. Hanya waktunya usai.

 

Saya yang hari ini, adalah saya yang berani untuk mengakui bahwa saya pernah memiliki catatan kelam untuk diri saya sendiri. Hal yang sering membuat duka, yang saya panggul bebannya 15 tahun terakhir.

Saya tidak dendam,
Tak pula tersisa penyesalan,

Tak juga saya merasa bangga bahwa saya berhasil menjadi lebih baik.

 

Saya hanya cukup bangga,
Karena saya mampu menerima, mampu memaafkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *