Meninggalkan, Akan Selalu Ada Alasan

Ketika dulu,

Sebuah glorifikasi akan cinta berputar-putar dalam benak, di hari-hari di mana sahabat-sahabat saya diindetifikasikan menjadi separuh kekasihnya. Sekeliling saya berisi mereka yang baru jadian, mereka yang baru lamaran atau setelah melangsungkan akad nikah. Cinta tersebar di udara, terhirup bahagianya, terpancar dan tertular di sekitarnya.

Pada masa itu,
Cinta, tergambar sebagai bentuk kalimat “tidak butuh banyak alasan untuk mengasihi..”

Meski pada hari ini, sebagian kecil dari orang-orang yang dulu bersuka mulai menampakkan duka, walau lebih banyak yang masih memegang komitmen untuk tetap bersama, sembari melihat dan merefleksikan masa lalu mengenai saat pertama cinta itu hadir, mempertahannya untuk selalu hadir.

Perkara meninggalkan,
untuk dua orang yang pernah saling cinta sekalipun, memiliki kekuatan untuk tak lagi saling mencari. Mulai membuat-buat alasan dan pembenaran atas hilang perlahannya degup jantung tidak teratur ketika bibir menyatu.

 

Mereka, yang dulu saling cinta tanpa ada alasan, mulai memilliki satu persatu alasan mengapa mereka harus pergi,

yang tak jarang,

alasan itu sudah ada sejak awal mereka menyebut satu sama lain sebagai bagian dari hidup.

..

Ironis memang,
karena di awal mereka bersatu tanpa mempedulikan cela yang sudah ada,
Tapi pergi karena hal yang sudah mereka lihat di awal.

Atau,
Kalaupun mereka memiliki daftar mengapa mereka mencintai pasangannya, ketika pergi, mereka tidak lagi melihat itu sebagai sebuah keindahan yang layak dipertahankan.

Mantan pacar saya, yang tidak brengsek-brengsek banget itu acapkali menyebut mata saya sebagai mata yang menyenangkan. Menurutnya, mata saya itu banyak memancarkan cerita, bola matanya hitam pekat dan bentuknya bulat.

Tapi nyatanya ia tetap pergi,
walau hingga hari ini saya tidak pernah operasi mata.

..

Salah seorang Eyang Buyut saya, mengalami stroke berkepanjangan, tapi pasangannya tidak ada sehari pun pergi meninggalkan. Walau saya yakin, banyak yang hilang dari semuanya, tapi keputusan pergi, setidaknya, tidak dijalani.

Banyak alasan untuk pergi,
Tapi cinta tidak butuh banyak hal untuk tetap bertahan.

 

Jadi,
apa yang berbeda?

 

Kita memang tidak selalu memiliki alasan yang konkret untuk saling mencinta.
Bisa karena kemandiriannya, karena wawasannya, karena kesabarannya,

karena kulit cokelatnya, karena rambut pendeknya,

karena hobinya, karena ia memelihara kucing, karena ia piawai di dapur.

Namun, sebagaimanapun ia tidak pernah berubah, bila seseorang ingin pergi, ia akan selalu memiliki alasan untuk pergi.

Jadi sungguh sia-sia,
Mempertahankan orang yang ingin pergi. Karena, mungkin, cintanya masih ada, tapi ia ingin pergi dengan alasan yang ia karang-karang sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *