Mas Herul, Inspirasiku.

Saya tidak pernah terlalu suka zumba, untuk saya, olahraga itu harus yang membuat lelah, berkeringat dan ngos-ngosan.

Untuk saya,
Zumba tidak masuk kriteria itu.
Tapi anggapan itu berubah sejak saya iseng masuk kelas zumba karena dipaksa rekan saya yang kebetulan bertemu di gym.

Herul,
Nama instrukturnya.
Kelasnya sama seperti zumba pada umumnya, walau memang, di bawah komando Mas Herul; zumba yang saya masuki jadi berkali-kali lipat lebih lelah. Tapi saya bukan mau bercerita tentang itu, tapi tentang bagaimana Mas Herul memimpin kelas zumba tanpa pernah sedikitpun kehilangan senyum dan semangatnya.

Kelas zumba diakhiri oleh saya yang berkeringat banjir dan Mas Herul yang tetap tersenyum lebar. Kelas yang saya masuki itu pagi, jadi coba dihitung berapa sisa kelas yang masih harus Mas Herul pimpin dalam 1 hari. Lah, saya saja ikut kelas keluar lelah kok, pasti secara fisik Mas Herul juga lelah. Tapi secara hati?
Saya rasa senyum yang terpancar dari setiap kelasnya, bercerita banyak.

24 Oktober,

Saya mendapat banyak pesan pribadi ke sosial media saya. Kurang mengerti apa mereka memang sekadar ikutan trend, atau memang mereka peduli. Ucapan ‘Selamat Hari Dokter’ masuk bertubi-tubi.

Beberapa tweet juga terlihat di linimasa, akan puja puji pekerjaan dokter yang dianggap cukup mulia karena tugasnya menolong orang banyak.

Benar? Ya tidak salah juga.
Salah? Lebih tepatnya tidak terlalu sepakat.

Terkadang, menjalani profesi dokter ini jadi agak risih. Ada yang beranggapan kami lebih mulia dari jenis pekerjaan lainnya, ada yang tidak segan untuk mencari mantu seorang dokter karena dianggap memiliki masa depan yang lebih jelas. Myeh…

Menjadi dokter,
Sama seperti profesi lainnya. Kemuliaan tidak datang dari tugas mereka merawat orang sakit,atau meningkatkan kualitas hidup manusia. Tapi kemuliaan profesi hadir dari sejauh mana kita menghidupi pekerjaan kita dengan lebih bermakna.

Menjalani dengan profesional, selelah apapun harinya.

Mas Herul dan banyak orang di sana yang selalu tampil profesional lebih cocok memiliki hari nasional,
Dari sekadar dokter yang terjebak rutinitas dan mulai lelah belajar.
Dari sekadar dokter yang menganggap profesinya lah yang terbaik, karena masa pendidikan yang sulit.

Dokter ya dokter,
Kami biasa-biasa saja.

walau benar,
Tidak sedikit juga dari kami yang seluar biasa Mas Herul.

🙂

Selamat Hari Dokter Nasional.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *