Dua Sembilan dan Kandidat Orthopedi

Jika harus ada yang saya rayakan di usia 29,
Mungkin itu tentang bagaimana saya berhasil memanjangkan rambut dan menurunkan berat badan selama hampir 1 tahun.

Tapi,
Jika ada yang harus saya simpuh dalam syukur, walau sungguh saya bersimbah peluh,
adalah tentang bapak anak saya yang memasuki bulan-bulan terakhir residensi.

Bakoel Koffie, Cikini. Circa 2013
Sebuah pesan singkat hadir dalam ponsel, pengumuman kelulusan.
Awal dari perjalanan panjang,
Berliku,
Dan bebannya tidak hanya berada pada bahunya yang selalu saya suka ketika ia berada di atas saya,
Tapi ternyata juga ada di punggung saya sendiri, dengan derajat lordosis yang cukup mengkhawatirkan.

Dalam perjalanan menemani sekolah,
“no news is a good news” tidak berlaku. Karena tidak ada kabar, artinya adalah tentang pengaturan ulang janji makan malam,
menyobek tiket konser,
atau menghapus kembali riasan wajah yang telah terpasang.
Tidak sekali, dua kali, atau sepuluh kali ia hadir terlambat. Tapi tidak pernah sekalipun ia tidak hadir sama sekali, dan untuk itu; saya hargai sepenuh hati.

Pukul 2 pagi,
Setiap hari,
pintu gerbang terbuka, mematikan mesin kendaraan beroda empat, langkah kaki terdengar lebih jelas karena sunyi sudah tanpa tepi.

Pukul 4 pagi,
Sepi masih menemani,
langkah kaki sudah terdengar kembali, mesin kembali berbunyi.
Ia harus pergi lagi.

..

..

 

dua puluh sembilan,
dan ia yang akan mengakhiri perjalanan.

Walau ke depan,
Ada hari baru yang dimulai.

Tapi,

Bagaimana bila kita rayakan saja hari ini dengan penuh haru?
Karena saya masih bertahan,
Karena saya masih menunggu.

 

Selamat ulang tahun, Ibu Fala.
Selamat jadi kandidat, Pak Juno.

 

Bila ada hal yang bisa kita kalahkan di sepanjang perjuangan ini,
Tentu itu adalah keinginan-keinginan kita untuk berjuang sendiri.

 

 

 

16 Agustus 2018,

Bakoel Koffie Bintaro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *