Meghan Markle dan Manten Manglingi Ala Indonesia

Saya menjadi bagian dari jutaan orang yang terpana pada Royal Wedding seminggu lalu. Untuk saya yang tumbuh dengan film-film Disney, keluarga kerajaan Inggris adalah nyata yang difilmkan. Film dan imajinasi kepala yang tergambar sebagai realitas, walau nun jauh di sana.

Semua terasa memikat,
Tamu yang berdatangan, Oh how I really love Beckham and Posh, still left me warmfeeling even after a week after. Gaun yang dikenakan, makeup simpel yang memukau, kelucuan Prince George. Bahkan hal kecil seperti paduan suara, atau topi khas yang dikenakan sebagai asesoris formal kalangan kelas atas di Inggris.

Sesederhana itu untuk terpikat.

 


 

Di Indonesia,
Penikmat Royal Wedding terbagi menjadi dikotomi besar. Mereka yang sebagai penikmat dan pengomentar hal-hal kurang fundamental,

 

dan mereka yang membandingkan pernikahan ala Barat yang “sederhana” dan pernikahan ala Indonesia yang memang jauh berbeda.

“Di Indonesia sih, tamu 600 pasti digosipin hamil.”
“Di Indonesia sih, manten wanita itu makeupnya tebal sampe ga bisa dikenalin.”
“Di Indonesia itu, prosesi pernikahan lebih ribet daripada perjalanan pernikahan itu sendiri.”

dan lain-lain.

Sebagai orang asli berdarah Indonesia campur-campur, saya bangga sekali dengan negara tempat saya berpijak ini. Terutama dari segi budaya mereka yang beragam dan buat saya.. Unik. Prosesi pernikahan merupakah salah satu hal yang bisa membuat saya tersenyum, terperangah, terharu dan terbawa dalam situasi sakral dan khidmat.

Ketika saya menikah, saya tidak menjalani ritual penuh pernikahan. Hanya akad nikah, dan resepsi. Akad nikah mengenakan kebaya Sunda, dan resepsi mengenakan adat Jawa. Ribet? Oiya jelas. Makeup tebal? Saya menghabiskan lebih dari setengah bungkus kapas dan cairan pembersih.

Tapi memang saya memilih untuk menjalani pernikahan adat (walau hanya setengah) dan menerima semua keribetannya. Semua sasakan, dan sakit kepalanya.

Seorang sepupu baik saya, memilih untuk mengenakan adat internasional dalam pernikahannya. Dengan makeup dan hiasan kepala cenderung tidak terlalu heboh seperti saya. Gaun putih simpel, dan semua keribetan yang ia eliminasi sendiri.

Cantik?
Jelas.

 

Apapun pilihan adat pernikahan yang dipilih, buat saya, tidak elok untuk diperbandingkan mana yang lebih baik ataupun mana yang lebih tidak masuk akal.

Merasa adat Indonesia ribet dan malas jalaninnya? Kita selalu punya pilihan lho untuk tidak menjalaninya. Dipaksa orang tua? negosiasi.

Tidak bisa? Yasudah jalani. Hitung-hitung membahagiakan orang tua dalam melepas anaknya dan menyelesaikan tugas besar mereka yaitu menikahkan anaknya.

Why bother?

Maksud saya begini,

 

Jika bukan kita yang bangga atas adat Indonesia sendiri,
Lalu siapa lagi?

 

 

Bangga dengan keragaman budaya Indonesia, tidak selalu diikuti dengan kewajiban menjalaninya kok. Santai saja.

Berbeda itu, ada.

Tapi bitter untuk hal yang sudah turun temurun ada sih,

 

hi,

who hurts you?

2 thoughts on “Meghan Markle dan Manten Manglingi Ala Indonesia

  1. Banget kak!
    Aku ngerasain keduanya.
    Nikah pakai yang nasional aja, pilihanku. Ngga ada adat. Pake dress putih menjuntai, karena aku mau ala ala inces hahaha. Cuma akad, esoknya resepsi. Kenapa beda hari?. Ya biasa, jawa.
    Pas ngunduh mantu, adat blas. Ngga terlalu ribet si, tapi unggah2annya tetep ber-step2.
    Negosiasi?. Ada juga. Tadinya aku disuruh pake paes. yaaa… berjilbab+paes = aneh. Selain aneh, pasti akan keliatan ngga berjilbab, walaupun, rambut dan leher ditutupin, tapi ditutupnya pake konde, dan leher ditutup pake kain warna kulit. Hasilnya ya sami mawon.

    Keduanya ngga bisa dibandingin, karena ngga seimbang :’

  2. Hihihi lucu aja bandingin hal yg emang beda ya. Saya jawa tulen waktu nikah ya ikut prosesi adat lgkp hehehe. Seneng2 aja tuh. Bangga malah karena ngerasa ikut andil melestarikan budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *