Nilai Finansial dalam Relationship

Memiliki rumah tangga yang agak anomali macam saya ini memang risikonya adalah agak terlambat memiliki mata dan insight yang terbuka mengenai nilai finansial. Walau sebenarnya tidak bisa disebut terlambat juga karena memang setiap rumah tangga memiliki gayanya sendiri tentang urusan membiayai dan dibiayai. Tapi sebelum bahas hal agak berat seperti rumah tangga, saya mau sharing sejenak mengenai nilai finansial saya dahulu deh..

dari mata seorang perempuan.

 

Saya dari dulu, cenderung adalah seorang perempuan yang tidak pernah keberatan untuk keluar duit dalam lingkup hubungan. Artinya, saya tidak keberatan untuk patungan bensin, bioskop, makan. Bahkan, saya tidak keberatan untuk “ngebayarin” pacar. Untuk saya, finansial bukan masalah besar untuk diperdebatkan dan dipermasalahkan, jadi ketika saya ada rezeki, saya tidak akan sungkan untuk mengeluarkannya dan dinikmati bersama.

Tapi, nilai ini sedikit bergeser ketika saya sudah menikah. Saya cenderung konservatif untuk urusan finansial, yang dalam hal ini dipersempit definisi operasionalnya menjadi “nafkah”, konservatif dalam arti saya menempatkan diri sebagai istri yang “dinafkahi” oleh suami saya, sekecil apapun itu, sehimpit apapun kondisi kami.

Dalam agama saya, perihal nafkah ini bukan hal kecil. Karena ketika kami berjanji untuk bersama di meja akad, ada poin penting mengenai pemberian nafkah suami kepada istri. Bahwa yang berkewajiban untuk menafkahi adalah laki-laki, dan istri berhak mengajukan perpisahan bila kewajiban ini tidak berjalan. (yang tentunya dengan beragam sebab musabab ya..)

Penempatan nilai seperti yang saya utarakan di atas saya jalankan sejauh ini, memang, rumah tangga kami alhamdulillah hingga saat ini tidak pernah mempermasalahkan nafkah, tapi posisinya; saya adalah seorang istri yang kebetulan bekerja, memiliki penghasilan sendiri, dan cukup untuk menghidupi diri sendiri dan orang lain.

Namun, hal ini menjadi menarik ketika beragam narasi hadir di media sosial mengenai bagaimana bila perempuan memiliki kemapanan finansial yang lebih kuat daripada suami? Sanggupkah laki-laki menerima? Potensial konflik kah bila terjadi? Dan beragam contoh-contoh kasus dari mulai yang tidak sama sekali keberatan, hingga nilai laki-laki yang lebih ingin menjadi tulang punggung keluarga secara utuh, termasuk perkara menafkahi.

Kemarin, di #TipsOm2 , saya mendapatkan insight yang cukup baru untuk hal ini, membuka sedikit banyak nilai baru bahwa dalam rumah tangga, finansial itu hal penting, tapi bukan yang terpenting. Nilai finansial bisa berbeda, tapi bagaimana rumah tangga berjalan atas dasar kestabilan finansial itu tetap menjadi hal yang utama. Kebetulan, para om-0m kemarin semuanya berada pada posisi “breadwinner”, tapi beberapa dari mereka pernah ada di posisi istri mereka memiliki penghasilan lebih besar.

Keberatan? Tidak
Terganggu? Mungkin iya. Ini bukan tentang masalah gender, tapi memang ini tentang ego patriarki di mana laki-laki terdidik untuk menjadi tulang punggung keluarga, di mana ketika peran itu diambil, maka ada perasaan terganggu; tapi sejauh mana ketergangguan itu dikompensasi yang mungkin, bisa berbeda pada setiap orang.

Tapi saya menyukai untaian argumen dari Om Deje:

“Ego laki-laki ga perlu dikelonin, tidak perlu meminta maaf hanya karena perempuan memiliki penghasilan lebih besar. Itu hal biasa saja, tidak ada yang salah untuk itu. Fungsi laki-laki dalam rumah tangga kan bukan hanya urusan finansial, banyak variabel lain yang berperan. Udahlah, laki-laki itu egonya ga usah dikasih makan dengan dihormati lebih hanya karena… perempuan punya penghasilan lebih besar.”

 

 

Manut, Om.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *