Gado-Gado Media Sosial

Hari ini, media sosial adalah keseharian, tempat banyak orang berlalu-lalang, membuang sampah dan sekadar mencari hiburan. Banyak sekali kegiatan di sana, berdagang hingga bernyanyi, berceramah hingga memberi materi, bercengkrama hingga berbagi.

Diisi oleh jutaan manusia yang memilih untuk memberi cerita yang ingin mereka bagi, diisi oleh jutaan isi kepala yang berbeda, ditempati oleh hati yang rapuh atau hati yang sekuat baja, dihujani badai pikiran yang beragam. Media sosial menempatkan dirinya sebagai sebuah tempat yang kita sendiri, bebas mendeskripsikannya.

Untuk saya,

Saya pernah menganggap media sosial khususnya Twitter sebagai taman bermain yang penuh gula dan bianglala. Berwarna-warni pastel dan neon, setiap sudutnya ada hiburan, setiap sisinya ada pengetahuan baru, setiap perjalanannya ada teman untuk disapa. Di sana saya bisa berlari cepat, melambatkan laju karena menonton pertunjukkan kata yang menarik. Di sana saya bisa menari, sesekali beristirahat untuk mencoba berkreasi dengan aksara tua yang mulai lapuk.

Tapi ya, sungguh, itu dulu.

Beberapa tahun belakangan ini, taman bermain yang penuh dengan keceriaan magenta dan pita-pita seperti mulai usang, ia tidak ditinggalkan, tapi begitu banyak pendatang. Bebas saja untuk siapapun bermain di sini, karena pintu gerbangnya tidak pernah terkunci. Karcis masuknya gratis, dan kita bisa mendapatkan tiket terusan dan diperbolehkan untuk melakukan apapun di sana.

Salah? tidak. Karena inilah era hari ini. Era di mana internet adalah modal utama untuk mencari hal-hal yang dirasa perlu, tempat untuk membuang keluh juga kesah, tempat untuk meluncurkan opini yang setiap pengunjungnya diberi kebebasan untuk menanggapi.

Twitter pernah menjadi tempat yang sangat menyenangkan. Di sana banyak bertemu teman untuk berjabat, banyak cinta tumbuh, banyak persahabatan terjalin hingga hari ini. Dulu, twitter adalah tempat yang ramah, tempat manusia bercanda melemparkan humor segar yang ditanggapi santai bagi mereka yang memang pergi ke taman bermain untuk mencari hiburan ringan.

Twitter pernah saya anggap sebagai harta karun, karena di sana gelas-gelas terisi dan terus terisi, menemani obrolan hingga larut hari. Tempat kue gula disajikan tanpa terasa giung, tempat patah hati paling syahdu karena rangkaian puisi terlintas rapi, lewat dan meninggalkan hangat yang bisa dirasakan perihnya. Di sana, saya menemukan dunia yang pernah saya impikan, tempat di mana saya bisa merangkai kata tanpa takut ada bias.

Tapi, ya, itu dulu.

Hari ini twitter menjadi tempat bermain yang kehilangan warna cerianya. Masih tersisa sisi neon yang terang menyenangkan, tapi bisa redup hanya dengan satu timpukan karena dianggap leluconnya memojokkan sudut busur derajat sebelah sana. Masih ada remang-remang ruangan penuh sajak, tapi bisa kembali gelap ketika pagi, karena pada dini hari taman bermain itu sepi, jadi sajak bisa lebih nyaring terdengar. Ketika pagi, sajak mati, terganti oleh orasi tentang isu-isu yang panasnya lebih terik dari mentari. Akibatnya, sajak-sajak tua yang tahun-tahun lalu pernah begitu mahsyur, mulai ditinggali, bukan karena tidak ada lagi penggemarnya, tapi karena setiap petikan luka karena cinta tidak ada nilainya dibanding nyerinya perang antar agama.

Hari ini, twitter menjadi tempat yang mencekam. Memilih kata senormal-normalnya agar tidak dibungkam oleh teriakan asal yang hanya tau sepertiga masalah. Bahkan untuk menu sesederhana bumbu kacang di atas gad0-gado, pendatang taman bermain itu bisa begitu kritis menyampaikan kritik, dibalut emosi, mengiris nadi perangkai seni yang menapaki karya dimulai dari sini.

Hari ini, Twitter menjadi rekap sejarah, rekam jejak manusia lain. Ada sudut di taman bermain yang berfungsi sebagai arsip, yang bisa mengeluarkan opini bertahun-tahun lampau, yang para pengunjung taman ini bisa mendapatkannya, untuk menjatuhkan orang lain. Seakan isi kepala tidak bisa berubah, seakan keyakinan tidak bisa goyah, seakan kontemplasi tidak pernah mendapatkan hasil. Di sudut sebelah sana lagi, ada pengadilan tanpa hakim, di sana manusia yang mau dan sudah berubah, ditunjuk bersalah karena sebuah ujaran masa lampau. Mereka tidak bisa membela diri, selain diam, menunduk dan keluar dari ruangan itu untuk kembali menjalani hidup. Karena di taman bermain ini, tidak mengenal kurungan atas hukuman, tapi mengenal hukuman tanpa pengadilan.

Hari ini, Twitter menjadi taman bermain semua kalangan, sesuai misinya di awal. Tapi tidak apa-apa,

kita hanya perlu terbiasa.

dan tetap berusaha menyampaikan hal baik, hal jenaka dan menunggu senja lewat agar kata dari pedihnya luka ditinggal cinta, kembali terajut.

Pilih areamu sendiri, dan bila harus diredupkan, biarkan.

Karena lampu remang-remang, gula di atas donat manis dan warna-warna pastel masih berhak mendapatkan tempatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *