Bekal Menyambut Seorang Anak

Kami bukan orang tua yang mahir menjadi orang tua, usia kami menjadi Bapak dan Ibu baru 3 tahun, baru seumur jagung yang sangat mungkin disepelekan, dianggap tidak kompeten ketika memberikan wejangan mengenai parenting apalagi teknik membesarkan anak. Dengan segala keterbatasan yang kami punya, kami sendiri pun mengakui bahwa kami bukan orang tua yang sempurna, bukan juga orang tua yang ideal.

Ketika kami memutuskan untuk memiliki anak pertama, kami hanya 2 orang anak manusia yang secara sadar ingin meneruskan keturunan. Pertama, karena saya dan bapak anak saya terikat dalam perkawinan, kedua; ntah mengapa, ada kerinduan untuk memiliki seorang anak kecil di tengah keluarga kecil kami. Iya, hanya itu. Pada dasarnya saat itu, saya dan suami memang ingin memiliki anak, terlepas dari apapun alasan logisnya.

Lalu, lahirlah anak pertama kami, Kiko. Ia tumbuh menjadi anak kesayangan yang baik dan menyenangkan, hari kami sempurna setelah hadirnya. Cinta kami seluas itu bahkan untuk menerima semua kekurangan bahkan semua yang tidak pernah ada. Sayang kami besar, bahagia kami membuncah. Anak kami adalah salah satu alasan terbesar kami ingin tiba di rumah, walau kadang juga menjadi alasan kami untuk berpergian sejenak. (hehe)

Lahirnya Kiko adalah pondasi keluarga kami yang baru, karena kami tau, dalam lemahnya ia adalah hal paling kokoh untuk menyangga kami berdua. Iya, Kiko seberharga itu.

Anak kami sudah 3 tahun, usia yang kata keluarga dan omongan sekitar, seharusnya sudah ada 1 adik lagi. Tapi memang, kami yang bahkan belum beres jadi orang tua ini, yang secara sadar untuk menunda hingga waktu yang belum jelas kapan untuk mendatangkan satu lagi manusia ke tengah-tengah kami.

Belum siap? Iya.

Kami belum siap kedatangan satu lagi manusia, yang sebenarnya ia tidak pernah meminta untuk hadir. Kami yang memanggilnya datang, lewat doa yang terpanjat, lewat doa yang diaminkan. Karena sebenarnya, seberapapun anak tidak minta dilahirkan, ia tetap sebuah kiriman berharga, dan pinta yang dijawab iya.

Kehadiran Kiko, sedikit banyak memberikan gambaran mengenai bagaimana proses membesarkan anak. Tentang pemenuhan kesehatannya, pendidikannya dan segala hiruk pikuk urusan anak, dan kehebohan menjadi orang tua. Dibutuhkan banyak hal untuk kembali bersiap mendatangkan anggota keluarga kecil dan merah. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menunda.

Keputusan ini bukan tanpa alasan sepele kok, karena memiliki anak itu membutuhkan biaya yang besar, dan kondisi keuangan keluarga kecil kami belum sestabil itu bila harus menanggung satu lagi manusia. Percaya kok dengan rezeki anak itu ada jaminannya, tapi kami lebih menyukai menjadi menusia yang mempersiapkan dan berusaha di depan lalu mendapatkan reward rezeki anak, dibanding menjadi orang tua yang hanya berharap pada “rezeki anak”.

Memiliki anak adalah juga tentang kesediaan waktu. Kami berhutang banyak pada Kiko, karena lahir di tengah segala keterbatasan bahkan untuk urusan waktu. Ketika usianya 2 bulan, saya sudah harus kembali ke rutinitas jaga UGD karena status saya sebagai dokter daerah untuk program internsip. Suami saya apalagi, ia harus ke luar kota berbulan-bulan atau nginap di rumah sakit walau tinggal 1 kota. Hutang waktu yang belum dapat kami tebus, dan kami tidak mau lagi menambah hutang itu kepada orang lain.

Memili anak juga tentang perencanaan finansial, mengenai asuransi kesehatan dan pendidikannya. Setiap keluarga memiliki standar kesehatan dan pendidikannya masing-masing, begitupun dengan saya dan suami. Alhamdulillah Allah Maha Besar, hingga saat ini kami mampu menyekolahkan Kiko di standar yang kami tetapkan sendari, tapi hingga saat ini, standar itu hanya mampu kami berikan pada 1 anak. 2 anak? nanti dulu.

Memiliki anak juga tentang mental dan kesiapan. Saya masih ingat betapa tertekannya saya ketika Kiko masih bayi, atau tentang lelahnya saya menjawab bombardir pertanyaan yang ditanya seorang bocah 3 tahun yang baru lancar berbicara. Memiliki anak itu butuh kesiapan energi, butuh kesabaran ekstra. 1 anak? cukup. 2 anak? Nanti dulu. 🙂

Cerita di atas adalah hal yang bisa saya bagi, dari sudut pandang orang tua amatir yang memilih menunda untuk hadirnya anak kedua. Pemikiran yang secara garis merah diartikan sebagai “persiapan untuk memiliki anak”, bahwa mendatangkan manusia ke dunia itu butuh persiapan, dan persiapan itu disesuaikan oleh kondisi rumah tangga masing-masing individu. Artinya, standar seseorang bisa saja berbeda walau rumahnya hanya berjarak tembok.

Memiliki anak itu sebuah keputusan, pun dengan keputusan untuk tidak memiliki anak. Tapi saya sepakat, bersiap-siaplah semuanya, sebelum datangnya malaikat kecil itu.

Sambutlah dia secara indah. Karena dia berhak untuk bahagia dan memiliki hidup terbaik, sesuai jalan hidup keluarganya.

One thought on “Bekal Menyambut Seorang Anak

  1. Hai, Kak Falla! Membaca post ini (begitu pun post-post di twitter sejak awal Kak Falla menikah dan ditanya orang tentang kapan hamil dsb) secara tidak langsung membentuk pemikiran baru dalam diri saya bahwasanya semua orang memiliki keputusannya sendiri yang harusnya orang lain ga perlu tanya “lha memangnya kenapa?” hhhh kadang kesel juga ya harus menjelaskan hal pribadi seperti itu ke orang lain, kecuali ke orang terdekat. Sekarang saya masih terus belajar untuk memahami setiap keputusan yang orang lain buat, setidaknya selama tidak merugikan kemaslahatan umum. Gausah lah kepo tanya-tanya kalau cuma buat basa-basi. Hehehee…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *