Lantunan ‘Banda Neira’ di Selasar Xiamen

 

November, 18th, 2017

Pagi yang sendu sesungguhnya dimulai tidak terlalu menusuk kulit, angin semilir sesekali menggoyahkan rambut halus di tengkuk, memberikan rasa sejuk yang sangat bisa dinikmati.

Pagi sendu itu mengandung rindu,
Juga mendekatnya waktu ke kata perpisahan, pada sebuah kota yang jejaknya mulai saya nikmati, yang sudutnya mulai saya sambangi untuk meninggalkan hal manis,
kota yang mulai saya cintai, tapi harus cepat-cepat saya pergi,

karena di rumah,
Ia menunggu saya pulang.

 

Xiamen bukan sebuah kota besar di dataran Tiongkok, terbagi menjadi dua daerah pulau dan daratan. Tapi jelas, ini kota yang unik. Ia membagi kesederhanaan rasa nyaman, berbalut segala kemudahan yang mengikuti era hari ini. Kota ini menyenangkan, sekaligus menenangkan. Ia memberikan rasa aman, sekaligus rasa dekat sekali dengan rumah karena penduduknya yang hangat. Kota ini… sendu, lengkap dengan para lansia yang menari di taman kala malam, dan anak muda menjajakan mangga dengan senyum manja. Sendu, seperti langit yang berbicara lewat selasar-selasar kota, bahwa bertandanglah sejenak ke Xiamen,

karena di kota itu,
Dibangun dengan riang, tapi dengan aura melankolis yang cukup untuk rindu peluk nyaman.

 

Pagi perpisahan itu, saya memutuskan untuk berjalan menyusuri pusat kota di sana. Sebuah sungai dan tatanan pemandangan gedung tinggi, juga taman luas yang hijau. Sebuah pagi yang biasa saja semestinya, tapi semestaNya berkata berbeda.

Hujan turun,
Awalnya rintik,

Saya mengambil jaket di tas, tapi udara terlalu menusuk untuk saya yang memutuskan mengenakan celana pendek. Saya tutup kepala, lengkap dengan pemutar musik yang tersambung dari ponsel ke telinga saya.

Banda Neira – Sampai Jadi Debu.

Teputar secara acak, di tengah hujan yang tak lagi rintik. Di tengah kabut yang mulai mengganggu gedung tinggi. Di tengah langkah kaki saya menyusuri setapak di antara taman hijau yang luas, di antara bangku-bangku kosong yang tak berpenghuni. Di antara aspal tanpa sampah, yang seakan berkata,

di sini hanya ada cerita.

Lagu dari negeri saya sendiri, yang mengingatkan saya akan rumah saya sendiri. Di sana, di rumah, ada yang menunggu. Sendu itu terus melagu,

terus..
Membuat rindu semakin tanpa tumpu.

Perpisahan kian dekat,
Tapi saya sekuat itu mengangkat lambaian tangan untuk segala cerita mengenai kesederhanaan dan kecantikan arsitektur juga susuran basah hujan yang seakan juga mengucap salam.

 

Banda Neira di tanah Tiongkok, di dingin menusuk hujan.
Kamu terlintas,
lebih deras.

 

 

 

 

thank you Xiamen Air for giving us this awesome trip, I promise I’ll be back there, soon. 

3 thoughts on “Lantunan ‘Banda Neira’ di Selasar Xiamen

  1. duh teh fala ini bikin gak bosen buat mampir lagi dan terus
    i’m your big fans teh…

    can’t wait to read the next !!

    xoxo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *