Kejujuran Dini Hari

Dini hari, seperti fitrahnya ia menawarkan gelap, jauh lebih kelam dari para perangkai kata menggambarkan senja. Pada waktu ini, konon katanya, irama tubuh sedang dalam kondisi terbaiknya.

Irama sirkadian membuat tubuh menerjemahkan malam untuk lelah dan merebah. Pada waktu itu, badan menyesuaikan dirinya, menyuruh alam bawah sadar untuk terlelap lebih dalam.

Dini hari,
waktu di mana tubuh mengajak untuk terpejam,

tapi tak jarang,
Hati memerintahkan untuk terjaga.

Kata orang bijak, carilah seseorang yang memikirkanmu ketika pukul 2 siang, bukan pada pukul 2 malam. Karena di sela sibuknya pekerjaan, ia masih menyempatkan untuk sekadar menyapa. Menghubungi lewat layar besar, dan mengingatkan agar tidak tinggal ibadah.

itu kata para penenun aksara,
kata saya,

kejujuran itu ada dini hari, ketika mata sudah berat,
badan sudah tak sanggup berbuat banyak, tapi isi kepala lebih riuh dari sekitar.

Seseorang hadir mengisi pikiran di saat bintang sedang cantik-cantiknya, ia hadir mengisi tapi tidak pernah menggenapkan kekosongan. Ia yang melintas adalah sejujur-jujurnya perasaan yang bisa dialami manusia,

ia yang melintas adalah kebenaran yang tak bisa ditolak.
ia yang mampu membuat terjaga, tapi bukan untuk menjaga raganya.

terjaga,
untuk menikmati kehampaan, dan diam-diam memikirkan raganya sedang berada jauh di sana.

 

Itu kejujuran,
sebuah dialog dalam kepala, di dini hari.

 

Tentu,

ada kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *