Perpisahan, Cinta dan Keteduhan Payung Teduh

Saya bukan seorang yang pandai menulis rangkaian cerita tentang musik, bukan pula seorang yang paham benar mengenai skena juga instrumen. Saya hanyalah penikmat lagu, dan memberikan apresiasi juga penghormatan kepada musisi Indonesia. Tapi mendengar keretakan Payung Teduh membuat sedikit bagian di hati saya patah dan sebagian lagi melebur bersama keteduhan kenangan yang tumbuh bersama lagu-lagu dari Payung Teduh.

Saya tidak merasa diri hebat karena mendengarkan mereka dari awal, diperkenalkan oleh mantan pacar saya yang memang memiliki waktu sebegitu luang sehingga bisa memilah dan memilih mengisi iPodnya dengan musik yang sebagian besar tidak pernah saya tau. Payung Teduh, salah satunya.

Hmmm Amy, lagu yang bisa saya hapal hanya dari sekali dengar. Tapi di lagu itu saya jatuh cinta lagi, pada petikan gitar yang kala itu, tak sengaja dimainkan oleh mantan pacar saya. Cerita saya dan Payung Teduh juga mantan pacar saya tidak lama, karena kami harus menyudahi hubungan yang terjalin. Tak ada sangkut pautnya dengan lagu Payung Teduh manapun, karena saat itu, semua lagu bisa menyisakan luka.


J.

Juni, 2012

Cipularang – Jakarta.
Cinta saya kembali, terang; bahkan di ujung malam. Terang, yang sanggup membuat terik. Dalam perjalanan di tol Cipularang, tengah malam, sepasang muda mudi baru saja berikrar untuk mencoba lagi mencinta, di atas semua resah. Di ujung malam, di antara lelap dan sadar, ia mengemudikan mobil menuju Jakarta.

iPod abu-abu berkaret biru tergeletak, dan saya memilih Payung Teduh untuk menemani malam itu. Malam yang penuh bunga, tapi tidak ada bintang, mungkin karena saya.. sedang cantik-cantiknya.

Berdua saja,
Bergenggaman tangan. Melintasi kabut di antara suara kami yang mulai terdengar parau terlalu banyak tertawa. Kecupan punggung lengan, atau jatuhan kepala di bahu. Ada yang tak sempat tergambarkan, tapi saya bisa lukiskan,

malam itu seperti masa kecilku, menyenangkan.

Malam itu jadi saksi, kita berdua di antara kata. Kadang tidak terucap, tapi kami tau, setidaknya kami mencoba untuk kembali menumbuhkan cinta dan tinggal dalam payung yang sama.

Malam itu milik kita,
Sekaligus milik Payung Teduh yang meneguhkan posisi sebagai suara halus yang menceritakan keikhlasan mengenai melepaskan bawaan berat bernama masa lalu.

Malam itu tentang kita,
Bukan tentang cerita tentang gunung dan laut yang tak punya rasa.
Seperti angin yang memuja hujan,
Saya memuji dirinya, yang duduk di sebelah saya.

Saya pernah sengaja mencari di mana Payung Teduh main di Jakarta, dahulu, langka. Hingga akhirnya mereka main di sebuah cafe di Kemang, dan saya sengaja menyempatkan diri, menembus macetnya hanya untuk membuktikan dramatisnya dipeluk dari belakang ketika Mas Is melantunkan “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan”. Ya, hanya itu.

Dramatis.

..

Dramatis yang tetap sama, dirasakan di penampilan Payung Teduh baru-baru ini, tapi dengan crowd yang sangat berbeda. Dahulu, penampilan Payung Teduh adalah tentang panggung kecil dengan penonton sedikit, bernyanyi berpeluk berpeluh dan tak sedikit yang meninggalkan kecup.

Payung Teduh hari ini, masih teduh, tapi dengan cuaca yang terik, bukan hujan. Saya kehilangan teduh dari hujan rintik yang menyisakan bau tanah, berganti menjadi gerah menghalau silau. Akad tetap Payung Teduh, tapi penampilan langsung mereka mengikis saya yang merasakan nyaman beberapa tahun lalu.

Payung Teduh, tak lagi sendu.

Bukan lagi tentang cinta,
Lebih tentang industri hingar bingar yang bermain apik.

 

 

Tapi apapun yang terjadi,
Cinta itu tetap ada,

 

Di balik lagu-lagu aransemen lama,
Di situ ada melodi indah,
ada kenangan dan kasih sayang;

 

ada saya,
Juga dia.

 

 

 

 

Selamat menempuh babak baru, Mas Is.
Saya merindu berteduh di bawah rintik gerimis, bukan di bawah matahari terik.

3 thoughts on “Perpisahan, Cinta dan Keteduhan Payung Teduh

  1. andai semua dokter bisa begitu jentreng menuliskan sisi humanisnya manusia, seperti ungkapan resahnya terhadap payung teduh yg tidak lagi meneduhi. berangkat dari concern kami di desa, yg sedang berusaha menyediakan pangan lokal sehat untuk publik luas. untuk menjadi sehat tidak semata soal minum obat. tapi idealnya memahami fungsi tubuh dan kondisi lingkungannya. functional doctor sudah waktunya.

    terimakasih sdh berbagi rasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *