When I Said “I do”

When I said “I do” 5.5 years ago, I knew that we would struggle. That at times we would argue, push each other limit to make things work. What I didn’t know is, that you picked up extra hours to get us by.

 

Or simply, I’d miss you like crazy during your long residency life.

 

 

Tidak ada yang kamu minta selain kesabaran, bukan untuk sekadar menunggu, tapi berjuang lebih keras untuk keluarga yang kita bangun atas dasar kesadaran sendiri. Ketika banyak pasangan di luar sana menuntut banyak hal, kamu tidak, yang kamu lakukan adalah menyingkirkan ego kamu sebagai laki-laki untuk menyerahkan tugas menjaga rumah dan membangun tiang keluarga di punggung saya yang — kamu tau — tidak pernah sekuat itu.

.

Tjikini, 2013
Saya sedang bercengkrama dengan sahabat saya, sebuah pesan singkat dari kamu hadir

“Tangggg.. suami kamu residen!”
I was happy in tears. Mengantar kamu menggapai mimpi, diterima di sekolah yang kamu inginkan, dan berkontemplasi mengenai pundak saya yang akan otomatis diisi oleh pikulan benda yang jauh lebih berat.

Ini tentang berbakti,
Begitu kata orang tua.
Ini tentang kesempatan yang datang lebih dulu,
Begitu kata orang-orang yang mengerti.
Ini tentang investasi,
Begitu kata mereka yang telah menjalani

Saya lebih suka menyebutnya dengan berbagi peran. Kesetaraan yang diagungkan di rumah, bahwa perempuan yang bekerja itu tidak apa-apa, bahwa perempuan yang tidur larut karena memikirkan uang sekolah itu, hal yang biasa. Tidak perlu dilebih-lebihkan.

Kita tinggal terpaksa berjauhan, terpaksa mengenang cerita manis bersama di tempat yang berbeda. Untuk sementara, semoga. Suatu hari, kamu akan pulang kembali ke rumah kita yang sederhana, yang kamu percayakan untuk kamu titipkan ke perempuan lemah yang selama 23 tahun hidupnya hampir tidak pernah merasa susah.

Menjadi teman kamu itu menyenangkan,
Sekaligus tantangan,

ah mungkin bukan tantangan, tapi jalannya saja sedikit berliku ya. Menjalankan rumahtangga berlawanan dengan arus utama, tidak akan pernah mudah. Untuk saya, terlebih untuk kamu. Tapi tenang,

ini untuk sementara.

Belajar yang banyak, serap ilmu di sana.
Tidak usah khawatir tentang rumah.

Karena walaupun ketika saya mengucap “I do”, saya sedikit salah membayangkan mendampingi kamu harus dirundung sepi terkadang sendiri,

tapi saya tidak selalu meleset,

mengantarkan kamu berjuang itu tetap selalu menjadi hal yang saya syukuri.

 

Salam 400 km tanpa notifikasi.

5 thoughts on “When I Said “I do”

  1. Terharu baca tulisan ini.
    Jadi teringat saat suami mengabari bahwa dirinya resmi menjadi mahasiswa pascasarjana, bahagia bersyukur sekaligus menyadari bahwa akan ada banyak tantangan yang harus dihadapi dengan baik.

    Terimakasih Bubeks untuk kalimat indahnya “Mengantarkan kamu berjuang itu tetap selalu menjadi hal yang saya syukuri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *