“Nyet, lo mau semur ga?”

Kondisi ekonomi keluarga kami itu ditandai oleh beras apa yang dipakai,

Beras jepang: Projek lagi banyak-banyaknya, invoice lagi cair-cairnya
Beras cap lebah: Projek lagi banyak, invoice masih belum jelas hilalnya
Beras curah di pasar: Projek lagi sedikit-sedikitnya, invoice lagi beku-bekunya

Tapi,
tunggu dulu,
Jika kalian melihat rumah saya sedang pakai beras jepang, ditanya lagi, karena bisa jadi beras tersebut boleh minta dari Kakak kandung saya yang rumahnya hanya berjarak 2 blok dari rumah.
Karena projek sedang sedikit-sedikitnya, invoice sedang beku-bekunya

dan

tagihan, sedang banyak-banyaknya.

Di atas hanya sebuah ilustrasi kehidupan yang saya jalani dan baru saja saya ceritakan ke teman baik saya, seorang kawan yang meninggalkan pesan singkat “Nyet, mau semur ga lo? Gua gojekin.”

Tawarannya saya iyakan, bukan, bukan karena saya sedang susah-susahnya, tapi begitulah kami memaknai arti syukur karena hingga hari ini masih bisa bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi dan beratnya menerima kenyataan bahwa kami harus bekerja agar dapur tetap ngebul.

Kebetulan, saya dan kawan saya ini berbagi cerita yang sama, mantan anak gadis yang tidak pernah ada kata susah dalam kamus diri sendiri. Sebelum kami memutuskan untuk menikah, kami adalah daddy’s little girl, terlebih saya. Walau Ayah saya gualakk setengah mati, tapi beliau mencukupkan semua kebutuhan saya. Saya tidak perlu bekerja untuk beras keluarga, pasang AC semalam suntuk tidak terpikir untuk tagihan listrik, membuang-buang makanan yang umurnya sudah lebih dari 1 hari, keliling jakarta tidak peduli bensin dan hal-hal yang sekarang ini terasa makin mahal.

I took things for granted.
Dari uang sekolah, baju yang melekat, gawai terbaru hingga segelas starbucks. Nilai yang saya tau hanya enak dan tidak, bukan mahal dan murah.

Tuntutan pendewasaan dan kondisi suami yang masih menjadi residen sedikit banyak memaksa saya untuk meninggalkan kenyamanan bahu Ayah, berganti menjadi tumpukan beban dan tagihan di bahu sendiri. Lalu perlahan mengerti, bahwa selama ini saya menyia-nyiakan nilai yang seharusnya sudah terbentuk dari belia. Nilai akan mahalnya perut kenyang, pakaian bagus, tas yang proper, isi kulkas yang lengkap, listrik yang terbayar.

Semur dari teman saya datang,
Menyantapnya pelan tanpa saya hangatkan, ditemani nasi hangat beras jepang (alhamdulillah hasil beli sendiri) dan kerupuk sisa makanan kemarin.
Mewah,
karena perut kenyang.

Terharu,
Karena di atas piring ada tumpukan beras jepang tanda saya sedang merayakan nikmatnya makan enak, dan teman saya yang sedang berbalut rezeki karena bisa berbagi.

 

 

 

 

Mei 2017
“Kebeliii bek! kebeli! Lo inget-inget nih, tas ini. Tas pertama yang kebeli pake uang sendiri setelah hidup hits me hard.”
Sebuah tas Kate Spade diskon 50%  dijajal teman saya. Untuk dirinya yang semasa gadis tidak pernah mengenal kata susah lebih-lebih dari saya, harga tas tersebut terbilang sederhana, tapi hari itu ada perayaan mewah yang dirasakan. Suka cita tentang puji dan syukur karena sudah bisa mensyukuri sesederhana perut kenyang lewat makanan enak,

apalagi lewat tas bagus.

 

Bintaro, Juli 2017
“Baru?” teman saya bertanya, tentang tas hitam yang saya tenteng,
“Gua beli pake darah!”
“PUJI TUHAN YESUS!” pungkasnya
“eh tapi.. ingetin gua dong..” saya menimpali

 

“Apa?”
“pastikan nanti, 5 atau 10 tahun dari sekarang, ketika sudah bisa belanja di GF Plaza Indonesia, kita memiliki rasa syukur yang sama persis dengan lo beli tas merah lo di singapura, dan gua dengan tas hitam gua.”

“…deal”

23 thoughts on ““Nyet, lo mau semur ga?”

  1. So lovelyyyy bubeks tulisannya. Selama ini selalu baca blog tehfala kalau ada postingan baru, dan ngingetin aku banyak hal hingga hal kecil yang biasanya aku abaikan.
    Makasih ya, teh :’D terus menginspirasi banyak orang..

  2. Semua tulisan teh falla simpel, tapi penuh makna dan manis sekali. Suka huhu <3 Salam kenal ya teh saya Wina dari Semarang, #fallawers twitter teh Falla dari jaman tweet glw "Hidup akan lebih tenang tanpa ada mantannya pacar atau pacarnya mantan." hihi

  3. Sedang dalam progress perpindahan dari daddy’s little girl -> hidup sendiri di Jkt, dimana ngatur uang buat makan itu sulit karena biasanya mau makan apa aja gampang. Baru 4 hari, hampir tiap malam nangis karena ga mudah
    Terima kasih ya sudah menginspirasi, teh. I’ll survive.

  4. Hal sederhana yang sering terabaikan. Disulap jadi postingan yang menghangatkan. Selesai baca postingan ini, di bibir pembaca hampir pasti ada guratan senyuman.
    Terimakasih~

  5. Selalu suka sama tulisannya bubek ini….
    Bikin ga berhenti buat terus nunggu cerita apalagi nih…
    Makasih bubeks
    Salam buat kak kiko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *