Eh, Anak Gadis Jangan Pulang Malam!

Familiar dengan judul di atas? ketika orang tua mewanti-wanti anak gadis untuk tidak pulang malam, atau perhatian sejenis seperti:

“Anak perempuan jangan pergi sendiri naik taksi, ah..”
“Baju yang sopan ya kalau ke terminal. Jangan pake rok mini..”
“Jangan lewat gank ujung sana, Nduk.. Banyak laki-laki gangguin”

familiar? Tentu.

Kemarin, saat saya sedang scrolling my timeline, ada yang bertanya mengapa harus perempuan yang diberikan ultimatum untuk menjaga dirinya tapi laki-laki tidak? Mengapa perempuan selalu dianggap sosok yang lemah dan kaum terpinggirkan sehingga harus kaum perempuanlah yang menutup dirinya agar terhindar dari kejahatan seksual dan semacamnya.

Saya  mengerti benar keresahan yang dirasakan, bahwa feminisme bukan semata hanya bagaimana perempuan bisa hidup tanpa adanya laki-laki, tapi semangat untuk bagaimana perempuan bisa melawan patriarki, tentang bagaimana perempuan setara tanpa adanya bias gender antara laki-laki dan perempuan,

perjuangan mulia tentang mengaburkan sisi gelap patriarki, di mana laki-laki menjadi bintang utama, punggawa rumah tangga, pemimpin kehidupan, kaum yang lebih unggul. Tapi dari wadah patriarki itu sendiri ternyata muncul dikotomi bahwa untuk bisa disebut laki-laki maka ia haruslah sosok yang “jantan” bukan kemayu, straight bukan pecinta sesama jenis, bekerja bukan bapak rumah tangga dan doktrinasi kejantanan lain. Feminisme adalah semangat perjuangan melawan stigma ini, bahwa kejantanan adalah bibit unggul dan selebihnya adalah produk sekunder yang lemah.

Saya paham benar mengenai keresahan ini, saya yang sering mendapat perlakuan tidak senonoh dari laki-laki, dari catcalling hingga sex chat dan akhirnya masyarakat akan menyalahkan saya mengapa saya memakai baju terbuka, atau mengapa saya berusaha ramah pada laki-laki. Perempuan masih selalu menjadi sasaran kemana telunjuk mengarah ketika berbicara mengenai perbuatan kurang menyenangkan ke arah kejahatan seksual dan pelecehan lain. Perempuan masih menjadi kaum nomor 2.

Itu realita yang dihadapi,
Maka dari itulah semangat feminisme lahir, dari kontraksi keresahan perempuan yang merasa bahwa dunia tidak ramah kepada kaum ini. Keresahan akan budaya patriarki yang masih kental di sini.

keresahan yang saya dukung jutaan persen agar saya, sebagai perempuan bisa hidup lebih nyaman dan berjalan lebih aman tanpa khawatir akan dilecehkan.

Terima kasih sudah berjuang untuk itu.

Mempertanyakan mengapa hanya perempuan yang diwanti-wanti untuk jaga diri dan masyarakat cenderung membiarkan laki-laki untuk berpakaian sekenanya merupakan tindakan preventif yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan kaum perempuan itu sendiri. Itulah realita kehidupan hari ini, dan alasan mengapa semangat feminisme dibutuhkan untuk meruntuhkan nilai itu semua.

tapi ketika sebuah ajakan manis untuk menjaga diri, menutup belahan dada ketika di keramaian yang tidak familiar dianggap sebagai sebuah degradasi nilai perempuan dan hal yang dianggap tidak semestinya, maka buat saya, nilai perjuangan itu menjadi kelewatan maknanya. Ajakan menjaga diri untuk perempuan bukan dibangun atas dasar anggapan bahwa perempuan itu lemah, tapi karena mengamini bahwa dunia ini bukan tempat yang aman dan nyaman bagi perempuan,

dan untuk itulah semangat feminisme dibutuhkan, agar suatu hari nanti, kami bisa berjalan tegap tanpa takut dilecehkan.

Sederhana?
Iya.

Paralel dengan perlawanan kawan-kawan menjadikan dunia tempat ramah perempuan, maka beberapa orang di luar sana memilih tindakan preventif agar di tengah dunia yang jahat ini perempuan merasa nyaman, mungkin caranya terdengar degradatif bagi beberapa orang,

“lah kok jadi gua yang disuruh pake baju ketutup? kenapa bukan mereka yang harus jaga mata dan omongan?”

pertanyaan di atas menjadi simpel untuk dijawab, karena itulah feminisme ini menggelora, untuk itulah mereka berjuang, tapi bersamaan dengan perjuangan mulia itu,

 

buat saya, tidak salah untuk tindakan pencegahan.
Perempuan menjaga diri,
laki-laki diajarkan dari sejak dini untuk menghormati perempuan.

 

ke depannya, dunia akan menjadi tempat lebih baik.

 

 

salam,
Orang tua 1 anak laki-laki yang selalu mengajarkan anaknya untuk menghormati perempuan dan tidak merasa memiliki nilai lebih hanya karena ia laki-laki.

4 thoughts on “Eh, Anak Gadis Jangan Pulang Malam!

  1. Itulah mengapa dalam agama Islam, perintahnya dua arah teh, untuk lelaki perintahnya adalah ghoddul bashor (menjaga pandangan) dan perempuan ada perintah utk menutup aurat. Ini dalil jangan sampe salah dipake. Kesadaran masing2 gender itu yg perlu. Jadi yg laki2 jangan cuma nyuruh2 perempuan utk jaga pandangan aja. Tapi juga menumbuhkan kesadaran utk jaga pandangan. Yg perempuan, ingat untuk menjaga kehormatan, karena Tuhan menjadikan tubuh perempuan indah di mata laki-laki. Intinya saling mengingat kewajiban masing-masing. Utk lebih lengkap bisa dibaca di kultwit @togaMD. ( https://mobile.twitter.com/TogaMD/status/904672620938801152?p=v) Selain teh falla, bang Toga dan @ryuhasan adalah selebtwit favorit saya. Makasih sudah menulis dan ngetwit utk membantu saya menjaga kewarasan di dunia yg sudah gila ini ya Teh Falla. Njenengan sungguh keren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *