Kadang Kita Butuh Kesamaan

Waktu menunjukkan hampir tengah malam, suami saya mengetuk pintu rumah. Wajahnya lelah, mungkin karena operasi hingga matahari mengalah untuk tak lagi singgah. Ia masuk ke kamar, bebersih diri dan merebah.

“Tadi operasinya memanjang, karena ternyata pas dicek lagi fiksasi wirenya ga beres. Yaudah.”

..

Saya mendengarkan di sampingnya, sama-sama posisi merebah karena siap untuk terlelap. Hanya menimpali superfisial, karena keengganan masing-masing untuk menceritakan lebih detail.

“Tapi bisa distabilin tuh?”
“ya bisa akhirnya, jadi ternyata approaching wirenya salah. Dibenerin.”

 

Lalu kami tertidur.

Di atas adalah hal yang kerapkali terjadi. Walau, kami bukan tipe pasangan yang “membawa pulang” masalah kantor ke rumah. Tapi juga tidak menutup semua topik tentang kesehatan. Kami tidak memiliki waktu khusus untuk bercerita mengenai teknik kedokteran terbaru, bahkan terbilang sangat jarang.

Kami, walaupun memiliki background yang sama tapi topik obrolan kami justru didominasi oleh hal-hal umum. Mengenai politik bangsa, permusikan terkini, hal-hal umum atau tentang anak kami. Mungkin berbekal itu, kami pernah berpikir bahwa kecocokan itu bukan tentang kesamaan pekerjaan, dan background sekolah yang sama. Karena, akan menjadi sangat sakit kepala bila isi rumah hanya tentang pekerjaan.

Begitu?

Ternyata, seiring berjalan waktu dan saya menemukan banyak kolega baru di luar keilmuan saya; memiliki pasangan dengan background pekerjaan sama itu.. treasure. Mungkin bukan tentang sharing ilmu, atau membawa pulang pekerjaan untuk diperbincangkan bersama. Tapi tentang berkeluh ringan mengenai hari.

Karena sungguh,
Menceritakan apa yang saya lalui sebagai dokter, kepada teman yang bukan dokter itu melelahkan di 2 sisi. Saya yang harus menceritakan proses, dan mereka yang harus memvisualisasikan hal baru yang saya ceritakan.

Dan saya beruntung memiliki teman hidup yang mengerti, di mana saya tidak perlu kembali menjelaskan tentang hal yang saya lalui di siang hari. Karena kami sama-sama paham.
Ini bukan tentang diskusi panel,

tapi tentang keluhan-keluhan kecil.

 

 

 

Mobil suami sudah sampai di depan klinik tempat saya bekerja, waktu menunjukkan pukul 10 malam. 2 jam molor dari seharusnya saya sudah lepas masa kerja.

Badan yang sudah lelah,
Merelakan punggung untuk ditopang jok mobil bagian depan.

“How was your day?” ia bertanya.
“Lelah, jadi tadi tuh dapet pasien, mukanya udah kebanyakan kena steroid plus pernah konsumsi isotretinoin juga kan. Tapi ya gitu…”

Mobil berjalan menuju pulang.
Lelah saya sedikit hilang, karena tumpahan keluh sudah disampaikan kepada orang yang mengerti, tanpa perlu penjelasan lagi mengenai… apa itu steroid, misal?

🙂

 

 

6 thoughts on “Kadang Kita Butuh Kesamaan

  1. Liat teh Falla dan a Juno sangat mirip sama aku dan pasangan. Sama dari segi dia Leo aku Gemini dan profesi yang sama. Tiap kali baca cerita teh Falla dan a Juno ini selalu senyum senyum sendiri :’)

  2. Setuju dan senyum-senyum baca ini 🙂 Aku pun kadang bersyukur punya background yang sama dengan suami karena kalau curhat bisa hemat waktu… nggak usah ngejelasin dulu mekanisme kerja wireline logging. :’))) Apalagi pas LDR.. hemat pulsa.

  3. Menarik teh tulisannya..
    Adakah cerita mengenai pasangan berbeda profesi, atau lebih khususnya seorang dokter yang berpasangan dengan profesi lain, teh? Saya ingin tahu bagaimana bersikap dalam menghadapi ketidaksamaan profesi. Bila ada boleh tolong dibuat tulisannya juga teh? Dek koass ini ingin tau
    Terima kasih teh

  4. hal yang sama mungkin terjadi di pernikahan orang tua saya, keduanya dengan background komputer. dan tanpa dipaksa, saya pun mengikuti jejak mereka. entah seperti apa pasangan saya nanti, semoga kelak bisa merasakan lega yang sama seperti A juno dan teh falla 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *