Teri Kacang Dalam Tupperware Ungu

Tepat 3 tahun lalu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Pesan yang menanyakan kepada saya yang sedang hamil di bulan ke lima mengenai apa makanan yang saya inginkan..

“Mau sambel goreng ati dan teri kacang pedes sedeng, deh..”

Pesan yang terkirim beberapa saat kemudian, balasan dari ponsel saya. Hari itu masih suasana lebaran hari kedua, jadi wangi sambel goreng ati masih merebak, rendang masih hangat, teri kacang juga masih lekat dalam rak meja. Seseorang yang mengirimkan saya pesan tersebut bukan chef terbaik di dunia, tapi masakannya selalu “pas” di lidah saya; bahkan dalam kondisi saya susah makan sekalipun ketika bleeding di awal kehamilan.

Tak butuh waktu berjam-jam hingga sambel goreng ati dan teri kacang sampai ke saya. Dikemas dalam 2 Tupperware ungu. Saya ambil nasi ke belakang, memakan sambel goreng ati hingga habis, dan membawa sisanya pulang, yaitu 1 tempat makan penuh berisi teri kacang.

Lebaran hari ketiga,Pagi sesederhana nasi hangat dan teri kacang yang saya bawa pulang, dan kembali sisanya saya simpan ke dalam lemari dapur. Masih di dalam Tupperware berwarna ungu.

Hari tidak terasa ada yang ganjil, saya tidak terlalu mengingat mengapa saya ada di Sevel Menteng, seingat saya karena saya mau membeli beberapa buah minuman menyegarkan hingga ponsel saya berbunyi.

Kakak saya yang nomor 4 menelpon. Tanpa berpikir apa-apa, saya angkat telponnya, karena memang masih suasana lebaran, mungkin ingin memberi kabar bahwa ada saudara yang mampir ke rumah. Tapi tidak sampai 1 menit telepon itu, mengubah hidup saya, bahkan hingga hari ini.

“Dek, Yu Caca pingsan. Sekarang di Siloam. Denyut jantungnya udah ga ada, tapi masih berusaha ditolong oleh dokter.”

Saya tidak menjawab apapun, hanya terdiam lemas dan, ya, saya yang mempunyai background medis tidak bisa “dibohongi” oleh kalimat ‘denyut jantung sudah tidak ada, tapi sedang berusaha ditolong’. Resusitasi Jantung Paru, it is.

Selang tidak sampai 3 menit, nomor yang sama kembali menelpon. Saya tau apa yang dikabarkan, saya yakin apa yang mau kakak laki-laki saya kemukakan ke saya. Ponsel saya berikan ke Pak Juno dan saya biarkan mereka berbincang. Suami saya terdiam, mematikan telpon dan memeluk saya erat sambil perjalanan menuju pulang ke rumah.

 

Kakak perempuan saya sudah tidak ada.

Secepat itu.

 

Saya ini punya sedikit keanehan, di mana kondisi sedih tidak mampu mengeluarkan air mata. Saya hanya menangis sebentar sekali, memikirkan Ayah dan Ibu saya yang sudah terlalu sepuh untuk mendapatkan kabar buruk, anaknya berpulang. Ketika itu, yang baru tau kabar ini hanya saya dan kakak saya yang lain. Ayah dan Ibu saya belum.

Suami saya bertolak langsung ke Siloam untuk mengurus jenazah, dan kami berjanji akan bertemu di rumah duka. Saya lagi-lagi hanya  bisa terdiam, adik ipar saya mendatangi saya ke kamar membawakan beberapa yasin untuk dibaca bersama, dan saya hanya bisa terdiam. Memikirkan semua terjadi begitu cepat, dan memikirkan kondisi Ayah dan Ibu di sana.

Malam, ketika jenazah sudah datang, saya berangkat ke rumah duka. Terbaring Kakak perempuan saya, dengan anak-anak yang mendampinginya. Saya masuk ke rumah yang begitu asing untuk saya, karena saya terbiasa dengan kondisi rumah hangat dan kumpul keluarga lengkap. Hari itu semua keluarga lengkap,

tapi untuk mengantar kepergian Kakak perempuan saya.
Hari itu rumah ramai, tapi untuk pertama kali, rumah itu tanpa tawa.

Ibu saya mendekati saya, memeluk saya erat karena ia tau, saya pasti sangat kehilangan dirinya. Kakak perempuan yang selalu ada, membela saya dan “menutupi” kenakalan remaja saya. Seorang anak tengah, penyeimbang keluarga. Sesama leo yang emosional, yang bahkan ketika kami bertengkar, Ayah bisa memaklumi dengan “Yaudalah, sama-sama Leo..”

“Yayang.. ini qadarullah. Ikhlas ya..”

Pesan Ibu saya kepada saya.
Saya mengangguk.

Saya mengantarkan kakak perempuan saya hingga ke pemakaman, dengan mengenakan baju miliknya. Sebuah dress hitam agak kegedean di saya, karena memang tubuhnya lebih besar dari saya..

Hari itu,
episode kehilangan itu dimulai.

 

Beberapa minggu kemudian.

Duka sudah lebih baik, saya sudah bisa merelakan walau belum bisa menyembuhkan begitu pedihnya rasa ditinggalkan.

Lapar,

saya membuka lemari dapur.
Setoples tupperware warna ungu berisi teri kacang.

 

Saya ambil,
Saya buang semuanya disertai air mata yang pertama kali jatuh sebegitu derasnya setelah kepergian Kakak perempuan saya.

 

Tupperware pertama,

dan mungkin terakhir,

yang hilangnya tidak pernah ditanyakan Ibu saya. 🙂

 

 

 

 

 

Selamat ulang tahun, Yu Caca.

27 Juli.

2 thoughts on “Teri Kacang Dalam Tupperware Ungu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *