Gentle Birth, dan super ego di baliknya

Beberapa bulan terakhir ini, ntah berapa puluh kali saya mendengar istilah “gentle birth”. Dipopulerkan oleh beberapa artis yang sukses melakukan metode tersebut dan diikuti oleh yang lain.

Pada dasarnya, metode gentle birth diartikan awam sebagai metode melahirkan yang tanpa rasa sakit, dibuat kondisi senyaman mungkin. Alternatifnya dengan menggunakan metode water birth atau hipnobirth. Kurang lebih seperti itu.

Metode seperti ini, diclaim bisa membuat ibu lebih nyaman, terhindar dari baby blues, anak yang tidak mudah rewel, tidak suka bangun malam, bonding ibu dan anak yang jauh lebih kuat dan hal-hal sempurna lainnya,

yang Ibu dengan metode gentle birth meyakini, anak yang lahir dengan gentle birth menjadi sosok yang lebih baik dibanding mereka yang bukan.

Sesungguhnya,

saya belum bertanya apakah anak gentle birth:

  1. Bisa angkat galon sendiri atau tidak..
  2. Tidak memuntahkan makanan ke muka ibunya atau tidak..
  3. Ibu bisa terus tersenyum 24 jam sehari atau tidak..
  4. Ibu tidak mengalami gagap aktivitas karena terbiasa tanpa anak atau tidak..
  5. Ibu bisa mandi dengan tenang atau tidak..
  6. Anak tidak sesekali bangun malam lalu minta main atau tidak..
  7. Ibu tidak memiliki kantong mata atau tidak..
  8. Ibu tidak memiliki stretctmar atau tidak..
  9. Ibu langsung kurus atau tidak..
  10. Anak bisa langsung algoritma di usia setaun atau tidak..

..

Stop it, Bubekss.

Saya,

sebagai tenaga medis,
mengerti sekali dengan metode gentle birth ini. Sebuah cara melahirkan yang dipilih sendiri oleh Ibunya, dengan kondisi senyaman-nyamannya agar proses hidup mati ini berakhir mulus dan tanpa komplikasi apapun. Bayi sehat, Ibu sehat, ASI lancar.
Saya,
Sebagai Ibu,
Mengerti sekali bahwa proses persalinan merupakan proses besar dalam hidup dan harus dirayakan atau dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Memilih metode yang paling sesuai, didukung oleh keluarga dan tim medis terkait, memastikan anak tanpa komplikasi, berada di tempat yang paling aman dan bisa memeluk bayi saya setelah dilahirkan dengan penuh suka dan cita.

Lalu, apakah metode gentle birth ini adalah pilihan terbaik?
Atas nama keilmuan yang saya jalankan dan saya pelajari, saya bisa bilang “tidak”. Karena setiap ibu memiliki kondisinya masing-masing, dan persalinan adalah hal besar menyangkut 2 nyawa manusia yang harus diselamatkan, persalinan gaya apapun yang dilakukan dan terpenting dipilih oleh sang ibu harus berdasarkan faktor tadi:

aman untuk kedua nyawa.

 

Lalu, apakah ibu-ibu dengan metode persalinan caesar memiliki risiko baby blues lebih besar? Tidak juga.
Apakah Ibu dengan persalinan normal di verlos kalmer memiliki anak yang lebih rewel dibanding anak gentle birth? Tidak juga.

 

Yuk dibuka lagi, dipahami lagi informasinya.

Persalinan harus nyaman, saya sepakat.
Persalinan nyaman itu lewat gentle birth, sini ngobrol sama saya dulu. Saya siap mengeluarkan banyak argumen untuk ini.

Mungkin akan bias bila saya bercerita hanya mengenai diri saya yang memilih untuk melahirkan secara sectio caesaria, di rumah sakit tempat suami saya praktik, di tanggal yang saya pilih sendiri berdasarkan jadwal kosong suami saya. Di kamar yang saya pilih sendiri luasnya, di dokter yang saya pilih sendiri.

Proses persalinan saya, walau bukan water birth dan hypnobirth menimbulkan rasa aman dan nyaman di diri saya. Kala itu, saya merasa saya di tempat yang tepat, dikelilingi orang-orang yang siap menyambut bayi saya, dipegang oleh dokter yang saya percaya, di kamar yang membuat saya nyaman.

Itu tentang saya,
Mungkin juga ini tentang mereka yang memilih melahirkan di bidan dekat rumah, di ruang bersalin ditemani oleh Ibunya, di kamar VIP atau yang memilih seperti saya, di ruang operasi.

Apapun metode persalinannya,

bukan gentle birth yang membuat ibu dan bayi sehat, tapi ambience positif yang dihasilkan dari ibu dan lingkungan sekitar. Bukan metode persalinan jenis apa yang membuat bayi sehat, tapi proses persalinan yang steril, bersih dan tanpa komplikasi.

Bukan melahirkan di air yang membuat ASI mengalir, tapi kebahagiaan Ibu menyambut bayi baru dan rasa nyaman Ibu sehingga oksitosin bisa keluar.

 

 

Menjadi Ibu yang bebas baby blues, bebas anak rewel dan lain sebagainya; bukan tentang metode persalinan.

Semua tentang kenyamanan dan support sekitar.

 

 

Lalu, mengenai cerita di atas.

Saya Fala Adinda, seorang dokter dan konselor laktasi, melahirkan lewat proses sectio caesaria yang didukung oleh keluarga dan saya persiapkan semaksimal mungkin untuk kenyamanan saya.

Iya,

saya gentle birth.

 

🙂

 

 

..

 

 

wait, brb,

anak mainin tong sampah.

17 thoughts on “Gentle Birth, dan super ego di baliknya

  1. Setuju bubeks! Gentle birth menurutku juga bukan yang harus di air atau gimana-gimana. Menurutku melahirkan yang nyaman sangat tergantung psikis ibu. Mau itu sendiri atau ditemani, mau itu di air kek, di rumah, di RS, di puskesmas, atau di mobil sekalipun, jika itu sangat mendesak, asal ibunya bisa mengkondisikan psikisnya untuk tetap tenang selama proses persalinan, buat aku itu sih gentle birth. Keutamaan melahirkan kan hanya; 1) ibu dan bayi selamat, 2) ditangani dengan bersih dan higienis. Jikapun darurat harus melahirkan di mobil atau di rumah (tanteku gitu, bayinya lahir di mobil karena ga tahan lagi mau keluar) setelahnya tetap harus ditangani yang ahli juga, potong tali pusat kan nggak bisa sembarangan pakai piso daging Yakalo ada ortu yang memutuskan untuk tak memotong tali pusat bayinya itu lain cerita, aku tak bisa komentar Tapi entah kenapa jadi trend setelah beberapa public figur melakukannya, I’m so speechless
    Dan bayi suka bangun malam? Suka begadang? Rewel? Menurutku biasa sih soalnya kan tuh bayi adaptasi ya, biasa di perut emaknya aman-aman aja. Anak kan lahir bawa karakter masing-masing. Bayi begadang dibilang ortunya nggak disiplin nidurin bayinya. Oh guys, don’t say such a lame thing if you don’t know what happened Terutama yang belum ada pengalaman ngurus bayi
    Untuk aku pribadi, ibu yang melahirkan spontan (nggak terlalu suka nyebut normal karena seolah yang lain nggak normal) maupun SC, semua ibu yang melahirkan dengan keyakinan terbaik untuk bayinya adalah gentle birth; yang memilih ASI ataupun suport sufor, ibu tetaplah ibu yang inginkan terbaik untuk buah hatinya. Itu sedikit pandangan aku yang hanya seorang ibu dan bukan dari tenaga medis maupun ahli di bidang ini.
    Saya, Tikka
    Ibu rumah tangga sekaligus mamak dari anak yang suka tidur malam, memilih melahirkan spontan dengan 5 hari kontraksi (karena sangat takut SC) dengan persiapan senyaman mungkin

    Saya gentle birth

  2. Thanks Falla, udah nulis nilai lain tentang Gentle birth. Waktu baru melahirkan, saya merasa gagal karena konsep gentle birth bner2 gabisa terlaksana. Setiap liat postingan seseartis di IGnya tentang melahirkan gentle birth dan anaknya yang tidak rewel bla bla bikin saya tambah sedih mungkin ditambah pengaruh baby blues juga.. Kelelahan karena begadang dan proses lahiran yang berat, anak yang bangun terus ketika malem dan bla bla tetek bengek tentang ibu baru. Sempet merasa ga bahagia dan ga bersyukur dengan keadaan sbg ibu baru karena liat postingan IG artis yang gentle birth apa karena saya lahiran ga gentle birth jadi kaya zombie bgt rasanya habis lahiran. But setelah 2 bulan lahiran, kewarasan mulai pulih ternyata yang terpenting dari setiap proses lahiran adalah keselamatan dari ibu dan anak.. Caranya aja yang beda2.

    Salam dari Ibu baru berdaster yang bau gumoh.. Hehe

  3. Waaaah ini banget teh Falla.
    Kadang yang bikin saya sedih sebagai ibu yang melahirkan secara SC di RS, selalu aja ada yang bilang “belum sempurna jadi Ibu kalo ga melahirkan normal” duuuuh~~
    Ditambah lagi ‘trend’ gentle birth ini, jadi makin banyak yang mikir, gentle birth ini metode melahirkan yang PALING BAIK DAN BENAR. Juga (secara tersirat) mereka menganggap yang melahirkan selain water birth/hypnobirth ini salah. duuuuuuh~~~ (2)
    Padahal, kalo boleh curhat dan maaf membandingkan, orang terdekat saya ada yang melahirkan cuma selisih sebulan sama saya, secara spontan di rumahnya sendiri, bidan pun baru (bisa) dateng setelah anaknya lahir, terus anaknya malah lebih rewel daripada anak saya. Itu masih saya juga yang salah?

  4. “di tanggal yang saya pilih sendiri berdasarkan jadwal kosong suami saya. Di kamar yang saya pilih sendiri luasnya, di dokter yang saya pilih sendiri”
    Jika semua tentang kenyamanan, maka mari Dok saling support or okey i will make it clear, jangan nyinyir dengan calon Ibu yang memilih dokter dan bidan/suster perempuan.
    😉

  5. yes..gentle birth ga melulu soal normal, water birth, gentle birth itu adanya di hati. Hati dan pikiran yang nyaman dan juga support system yang mendukung. Hidup seorang ibu baru ga semulus ibu kawkaw :)))

  6. Gentlebirth. Bukan metode persalinan..
    Tapi sebuah filosofi..
    Persalinan pervaginam atau persalinan SC atau persalinan pervaginam di air, di darat, di udara..itu metode
    .
    Gentlebirth bukan tentang metode, tapi filosofi..
    .
    Jika ibu dokter bebek telah memilih metode persalinan SC seperti yang diceritakan di atas dengan sadar .. dan bahagia..thats gentlebirth
    .
    Jika mba artis telah memilih metode persalinan di air, di rumahnya sendiri..lalu dia ingin membagikan kebahagiaan yang dia capai (meskipun utk beberapa orang jadi tekanan atau dianggap lebai)..thats gentlebirth
    .
    Jika saya, melahirkan di rumah saya sendiri dengan ditangkap suami sendiri dan bidan datang 15menit kemudian, terdengar tidak aman, terdengar sembrono dan nekat, tapi percayalah itu juga gentlebirth..karena ternyata dibalik tuduhan sembrono dan nekat saya sudah membuat plan persalinan hingga D yang telah saya komunikasikan dan pantau oleh 2 obgyn saya..dan sepanjang bersalin ‘sendiri’ ada bidan yang mendampingi di telepon dan obgyn yang menemani di whatsapp..dengan persiapan yang matang (birthplan saya dari A-D bagaikan cerpen drama satu babak sangking detailnya haha)
    .
    Di balik ibu-ibu yang berharap dan mempersiapkan persalinannya sebaik2nya dengan metode apapun itu, ternyata ada hal lain .. yaitu ada bayi2 yang juga ingin dilahirkan oleh ibu yang sadar.. sadar akan dirinya, sadar akan tubuhnya, sadar akan pilihannya..dan berbahagia atas perjalannya..ini kan tentang mereka (bayi2), bukan tentang kita(ibu2)..apalagi jika ada perbandingan dan persaingan di antaranya
    .
    Ibu ibu gentlebirth..percayalah, produk akhir dari filosofi ini adalah diri kita sendiri, mau bayi kita tenang atau tidak, jika kitanya mengenal bayi kita, tentunya kita paham kok bahwa bayi kita tentu berbeda dengan lainnya..maka ketika kita masih terganggu akan kebahagiaan orang lain atas pencapaian orang lain dan justru jadi membandingkan dengan anak kita sendiri.. biarlah dia menangis hanya 10menit sehari, sementara anak lainnya 30menit sehari.. yang penting kita tetap tenang dan tidak berhenti mengasihinya..
    saya dapat berbicara 5000kata sehari sementara suami saya hanya 500kata sehari, kami berdua sama2 manusia yang tenang kok..hehe..
    apalah arti persalinan secara sadar dan bahagia yang telah kita lalui itu jika masih terganggu dengan satu dan lainnya?
    .
    Saya, irma syahrifat
    Seorang ibu, seorang pegiat gentle birth
    Ingin meluruskan kesalah kaprahan jika masih ada beranggapan bahwa gb adalah sebuah metode yang setara harus dengan waterbirth, homebirth, etc.. ingin meluruskan bahwa gb adalah sebuah filosofi..
    Dan saya menerapkan filosofi gentlebirth pada persiapan saya..saya yakin juga saya tidak sendiri..
    Apakah bayi saya rewel atau tidak karena filosofi ini? Biarkan hubungan kami berdua yang dapat menjawabnya..tidak perlu saya dinilai lebih baik atau lebih buruk ..
    kita sama2 ibu , kamu ibu, saya ibu.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *