Menjadi Ibu Bukan Perlombaan Kebahagiaan

Trend “menjadi ibu” belakangan ini sudah mulai bergeser, bila dulu menjadi Ibu adalah tentang menunjukkan fase hidup, kali ini, para ibu dan yang belom menjadi Ibu mulai termotivasi menjadi ibu yang paling bahagia.

Dimulai dari trend Instagram, di mana banyak influencer yang mencitrakan diri sebagai seorang ibu yang penuh tawa dan senyum,

anak yang seakan-akan tidak pernah rewel dan mengganggu ibunya,
Strecthmark yang tidak muncul,
ASI yang langsung banjir keluar,
Kado ajaib berupa senyum pertama anak,
Tidur malam yang tidak tergganggu karena anak yang tidak begadang,
Perut yang kembali ramping selepas melahirkan,
Parade ASI berkulkas-kulkas,
suami yang gesit dan cekatan merawat bayinya,
Ibu yang langsung punya kekuatan untuk olahraga,
Ibu yang langsung menjaga pola makan,
Indahnya memberi ASI

endebray endebray sejuta kebahagiaan lain menjadi Ibu.

Saya juga tergolong ibu amatir, baru diberi kepercayaan oleh Tuhan selama 2 tahun 3 bulan menyandang gelar dan predikat Ibu dari buah hati saya.

Bahagia? Iya, tentu. Anak saya adalah doa yang diamini oleh Tuhan, saya masih ingat saya pernah bersujud pasrah di tanah suci hanya untuk meminta diberikan anak. Saya juga masih ingat perjuangan panjang saya mempertahankan ia di dalam rahim yang tidak sehat.

Selalu bahagia? Itu lain cerita.
Ketika anak saya lahir, semua drama penting dan kurang penting mulai berhamburan satu persatu, dari mulai orang yang ada di silsilah keluarga saya mendadak hadir bahkan saat bius saya belom hilang pasca operasi (mau mati ga lo rasanya? hehe), generasi eyang buyut yang sibuk mengkritisi saya memberikan ASI,

ASI yang belom keluar sehingga anak saya makin ((( kisut ))), belom drama puting groak karena anak saya tongue tie dan lip tie. Itu baru 7 hari pertama Kiko lahir ke dunia, jadi bisa dibayangkan berapa juta drama sudah saya lewati hingga hari ini anak saya berusia 2 tahun 3 bulan?

Menyusui membahagiakan tidak? Nggg…
Bangga? Lumayan lah, karena memberikan ASI untuk saya adalah sebuah prestasi, saya si Ibu pemalas dan dulu… maunya sufor ajalahhhh. Tapi otak perlu diisi ilmu, kebanggaan saya hanya saya berhasil memberikan nutrisi terbaik. Tidak lebih.
Berkesan? Masa memberikan ASI, hingga saat itu, belum mau saya ulang; walau sangat berkesan. 😀

Membawa anak kerja? Pernah. Saya masih ingat ketika itu saya harus menjadi narasumber untuk suatu acara, suami saya menemani sembari menjaga anak saya yang masih bayi. Di tengah acara, suami saya mendadak dipanggil operasi. Mau tidak mau, ia berangkat. Anak? Ya diberikan lagi ke saya, alhasil sepanjang talkshow, bayi saya; terpaksa saya gendong.:)
Bahagia? Nggggg..
Bangga? Lumayanlah, kesannya kan jadi Ibu dedikasi banget yekannnnnn..
Berkesan? Sangat. :) .. tapi jika bisa memilih, saya lebih memilih ia digendong Bapaknya sih, jadi saya lebih profesional bekerja.

dan contoh-contoh drama kurang menyenangkan menjadi Ibu.

 

Itu realita yang saya jalani sih,
Mungkin semua Ibu memiliki ceritanya masing-masing, yang ingin ia ceritakan dan yang ingin ia simpan sendiri.

Tapi,

tulisan ini dimuat bukan untuk mengkritisi siapapun, melainkan untuk menyuarakan kepada semua Ibu yang sedang berjuang dan bersedih;

bahwa kalian semua normal.
Bahwa menjadi Ibu ya tentang pergulatan diri sendiri terhadap kegiatan baru yang tidak disangka… kok pelik ya.

Wajar untuk menangis,
Wajar untuk merasa lelah,

dan wajar untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita sekuat itu,
Bahwa kita tidak pernah mengeluh.
Bahwa kita adalah ibu sempurna yang selalu berbahagia akan kehadiran anak.

 

Tapi kami mengerti kok,

konten Instagram itu penting.

 

yang menjadi gagap informasi kan ketika kita menganggap, bahwa foto indah menjadi ibu yang maha sempurna yang wara wiri di Instagram itu adalah gambaran Ibu yang “benar”.

 

itu bukan benar.
Itu hanya konten.

 

 

Salam anak yang tidak mau makan malam dan cuma mau ngemil Coco Crunch.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *