Sepatu 55 Juta

Tidak kok, saya bukan sedang membahas spek mengenai sepatu seharga 55 juta, saya juga tidak akan berdebat mengenai sepatu ini mahal atau tidak..

Bermula dari post twitter teman saya Iman, ada seorang anak SMP yang membeli Adidas limited edition seharga 55 juta tunai, lalu saya tergelitik kembali mengenang saya SMP. Jelas saya tidak akan membandingkan sepatu yang saya kenakan dengan si Anak, tapi saya jadi flashback kepada bagaimana Ayah membesarkan saya dengan — ya — kata saya dulu — kepelitannya.

Saya bukan berasal dari keluarga tidak berkecukupan, pada masanya Ayah saya adalah seorang General Manager di Join Operating Body JAPEX Pertamina. Jadi ya, bila dipikirkan sekarang, gaji Ayah saat itu bisa dikatakan lebih dari cukup untuk sekedar membelikan saya sepatu yang dijual di mall besar.

Saya masih SD hingga SMP kala itu, kala ketika saya hanya bisa menatap dari etalase toko akan sepatu bermerk Adidas, Nike, Skechers atau New Balance. Taruhan sama saya, Ayah saya tidak akan pernah membelikan. Lebih tepatnya, ia TIDAK AKAN MAU membelikan saya sepatu seharga itu. Tahun itu, rata-rata sepatu mentereng dan bagus itu seharga 400 hingga 500 ribu. Ketika jalan ke mall bersama Ayah, saya selalu menyempatkan diri mampir ke Athlete’s Foot atau Sports Station, sekedar mencuci mata. Memegang-megang, tapi tidak pernah sekalipun berani meminta, boro-boro ditawarin beli ma Ayah.

Iya itu Ayah saya,
beliau yang tidak pernah memanjakan saya dengan barang-barang mahal apalagi mewah. Ayah tugasnya hanya 1, memastikan saya tidak kekurangan apa yang saya butuhkan. Sepatu bagus? Itu sih kemauan, bukan kebutuhan.

Sepatu yang saya kenakan ke sekolah tidak pernah jelek, bagus. Tapi harganya tidak mahal. Begitupun dengan tas, baju-baju, ponsel. Bila saya memakai barang yang lumayan bermerk, atau mahal, bisa dipastikan itu bukan dari Ayah. Ntah hibahan kakak saya yang sudah bekerja, atau Kakak ipar saya yang ketika itu lumayan royal pada saya. Itupun tidak banyak, mungkin hanya 1 barang di rentang 1 tahun.

Iya, itu Ayah saya.

Hari ini, di usia saya yang sudah tidak muda, saya baru merasa bahwa didikan Ayah saya adalah yang terbaik untuk saya.

Di saat peer group saya berlomba untuk PO tas keluaran terbaru, saya lebih suka duduk di antara mereka, menyeruput kopi dan ikut senang merasakan keseruan yang mereka lakukan.. dan itu saya lakukan dengan sadar, saya merasa harga barang itu — “terlalu mahal” — untuk saya, walau saya mampu membelinya. Saya cukup senang dengan tas seharga 10 kali lipat di bawah tas yang sebenarnya, mampu saya beli.

Saya cukup happy dengan baju-baju keluaran konveksi. Saya cukup nyaman dengan sepatu Payless, Stradivarius, Zara diskonan dan seharga itu.

Bukan juga karena ingin hidup sederhana,

sesimpel Ayah saya menanamkan nilai seperti yang saya ceritakan di atas hingga saya merasa cukup nyaman memakai barang — yang biasa-biasa saja.

Saya cukup bangga dengan diri saya yang tidak kalap belanja, tidak konsumtif dan memelihara gengsi untuk bertahan di hidup yang sudah susah ini. Sedikit demi sedikit saya paham apa yang Ayah saya tanamkan sejak kecil,

bahwa barang mahal itu tidak sebernilai itu untuk dipakai. Tapi bukan berarti tidak boleh memiliki dan memanjakan diri.

Ayah saya menanamkan nilai yang… saya syukuri saya miliki:

merasa cukup

9 thoughts on “Sepatu 55 Juta

  1. Sama kyk papa aku Fal… ceritamu bikin keinget jaman sekolah dulu, beli sepatu adidas pertama kelas 2 sma, harganya 400rb, itupun papa aku cm kasih 200rb, sisanya harus nabung mati2an
    Dan skrg perasaanku persis sama kaya kamu. Merasa bersyukur dididik seperti itu…

  2. Sama persis kayak yang diajarin orang tua saya kesaya teh. Dulu saya kira orangtua saya pelit, tetapi setelah saya besar saya tau manfaatnya. Sampai sekarang pun saya masih begitu, membeli harga yang kiranya cocok dengan dompet dan selera saya. Ketika teman-teman ingin beli barang yang harganya fantastis, saya cukup bisa mengukur berapa harga yang mampu dan cukup untuk saya beli dan barang itu nyaman. Karena semua tidak diukur hanya dari harga :)

  3. Sama banget sama yg diajarin mama saya ini teh. Padahal waktu SD-SMP suka ‘iri’ lihat temen punya barang yg trendy-trendy. Tapi sekarang jadi bersyukur sendiri karena ngga ‘terjebak’ dalam gaya hidup seperti itu. Pernah kejadian dong, ngga sengaja ketemu temen di mall (yg sebenernya ngga terlalu deket), liat-liat baju dan ada yg harganya mahal utk ukuran baju menurut aku, dan dia bilang “lah ini segini doang? lumayan banget ih pegang deh bahannya blablabla”, sedangkan aku baru mau ngomong, “ih mahal amat kaos aja harga segini”, akhirnya cuma bisa ngomong dalem hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *