Nilai, Juga Kenangan

Sekitar 1 bulan lalu, saya dan Bapak Suami menyempatkan diri menonton film Indonesia berjudul Cek Toko Sebelah, film garapan Ernest Prakasa ini sedikit banyak meninggalkan bekas di ingatan, dan memberikan sedikit nilai baru bagi hidup saya.

Kurang lebih cerita dari film ini adalah mengenai keterikatan seorang Ayah kepada toko yang telah susah payah ia dirikan, konflik berlanjut di mana anaknya — Ernest — tidak mau melanjutkan toko karena memilih untuk membangun karir di Singapur. Di sisi lain, Ayah di film ini juga sangat tidak mau menjual toko tersebut karena memiliki kenangan yang kental mengenai arti keluarga.

Simpel.

 

Ingatan saya bergeser ke sebuah barang yang ….. yha…. baru berhasil saya buang beberapa minggu lalu, ketika kami packing pindahan. Saya memutuskan membuangnya, setelah sekian lama “sampah” tersebut saya simpan bertahun-tahun.

Benda tersebut adalah kumpulan spuit dan ampul, puluhan suntikan yang dikumpulkan suami saya setelah selesai menyuntik perut saya ketika saya hamil.

photo (13)
penampakannya begini, diambil dari post blog sebelumnya :D

Benda tersebut tidak ada gunanya, tapi saya seakan memiliki keterikatan emosi dengan mereka yang membuat saya enggan membuangnya. Bertahun-tahun mereka ada di kotak penyimpanan di pojok kamar saya, mereka ada di situ, dan setiap saya mencari barang lalu melihat mereka, ada sekitar beberapa menit waktu saya kembali ke masa lampau dan bersyukur bahwa hari itu bisa kami lewati.

Bertahun-tahun benda itu melekat pada diri saya, memiliki nilai yang kuat — bahkan terlalu berat untuk saya hilangkan begitu saja. Benda yang mungkin, bila dilihat orang hanya seonggok sampah tapi bagi saya benda tersebut adalah perjuangan. Kenang-kenangan bahwa saya pernah berjuang sebegitu besarnya untuk seorang anak manusia di dalam perut saya.

 

Setelah lebih dari 2.5 tahun, akhirnya saya berhasil mengikhlaskan ‘mereka’. Membuangnya. Karena saya hanya merasa, bahwa hidup harus tetap berjalan, dan bukan tidak mungkin saya harus melewati hal yang sama lagi nanti.

Nanti, tunggu siap.

Seperti Koh Afuk, yang akhirnya merelakan tokonya pergi dan berganti. Seperti itu juga saya merelakan semua suntikan saya pergi.

Memelihara nilai itu baik,

tapi terperangkan pada kenangan dan menikmati lukanya, tidak sehat juga. :)

 

18 thoughts on “Nilai, Juga Kenangan

  1. duhhh bener banget teh, banyak banget emang barang dikamar yang dibiarin ga jelas karena ‘sayang’ dan ‘belum rela’ kalau dibuang. Semoga pas beres2 nanti sudah legowo untuk menbuang atau memberikan ke yang lebih perlu. hehehe

  2. baguuus tulisannya teh falla, terima kasih pencerahannya ya buat org2 yg masih “terperangkap pada kenangan dan menikmati lukanya” (read:me)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *