Membagi Kangen di Senggigi

Ayah saya bukan seorang pejalan, ia pegawai biasa, ia tidak terlalu suka pergi berlibur ntah karena menabung karena anaknya lima, atau memang ia bukan tipe yang suka pergi jalan-jalan. Ayah hanya suka sedikit sekali tempat di dunia. Jerman, sudah pasti, ayah lama di sana. Jepang, tentu saja, Ayah kuliah di sana. Di Indonesia, ingatan saya tertinggal di sebuah pantai bernama Senggigi.

Pantai yang terletak di Lombok ini memberikan banyak cerita hangat. Bukan satu dua kali Ayah mengajak saya ke pantai, menginap di hotel dekat sana. Saya masih terlalu kecil untuk tau mengapa Ayah beberapa kali mengajak saya ke sana, tampaknya kunjungan kerja.

Tentang Senggigi, saya tidak mengingatnya sebagai pemandangan pasir putih dan laut biru, tapi tentang hangatnya cinta Ayah. Pernah suatu kali, saya agak lupa usia berapa, mungkin sekitar 6 tahun — saya dikejar anjing di cottage Senggigi, saya berlari kencang, menangis. Ayah saya keluar dari cottage, berlari, menghalau anjing tersebut. Saya dipeluknya, dicium. Di situ saya tau, Ayah saya ada, untuk saya. Dunia akan baik-baik saja.

Setelah Ayah pensiun, praktis kami tidak pernah berpergian jauh. Tapi hingga hari ini, Ayah masih sering menceritakan Senggigi kepada orang, tentang cerita saya dikejar anjing. Tentang pemandangannya yang indah.

Iya, saya kangen Senggigi. Bukan karena udaranya yang khas, tapi bila saya kembali ke sana, ada cinta ayah di sana.

 

 

Channel NewsAsia, PicMix sedang menyelenggarakan kompetisi menulis dengan tajuk #LagiKangen, ceritakan mengenai kekangenan kamu tentang suatu tempat, seseorang, atau suatu hal lainnya, dan submit cerita kamu di:

https://t.co/Sm0jRSLNnE

Untuk cerita paling menarik, akan difilmkan lho oleh Channel NewsAsia , yay menarik banget kan?

#CNABringsYouHome #LagiKangen #PicMix

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *