Realita Lapangan Menjadi Ibu

Berbagai gambaran indah menjadi ibu mudah sekali ditemukan di berbagai media, dari mulai majalah yang menampakkan pose ibu baru melahirkan dengan badan yang sudah kembali semampai, di sosial media yang menunjukkan betapa bersyukurnya dan betapa bahagia meluap seorang Ibu dengan 2 anaknya yang masih kecil-kecil, hingga di berbagai poster di rumah sakit.

Ibu,

selalu digambarkan sosok yang penuh senyum, hangat dan rapi.
Berbagai posting di sosial media seakan mengikuti trend ini, semua ibu berlomba menampakkan sisi dirinya yang berbahagia, bersyukur, penuh haru penuh cinta kepada setiap anak-anaknya. Posting menu MPASI, ASIP berkulkas-kulkas, baju yang matching, foto dengan filter seragam dan banyak hal lain yang sesekali membuat saya,

Ibu yang lebih sering ada di kondisi berantakan, bertanya

“Mengapa saya tidak bisa menjadi Ibu seperti mereka?”
Tepat ketika pikiran itu mulai menggelayuti, saya matikan ponsel saya, saya pandang kamar saya yang berantakan,

perut yang masih ada sisa gelambir,
Rambut yang awut-awutan,
kulit muka yang tidak terawat,

Lalu mengucap satu hal,

semua ibu merasakan hal yang sama.

Sosial media memang wadah seseorang untuk  berbagi, tak sedikit dari mereka yang memakainya untuk membangun brand dirinya sendiri. Beberapa dari mereka memang sengaja men-setting semua foto agar terlihat ideal dan alami.

Salah? Tidak,
karena tidak ada poinnya berbagi hal yang menyedihkan,
Tidak ada manfaatnya memperlihatkan kekurangan.

.

Tapi sedikit, izinkan saya bercerita mengenai apa yang sebenarnya terjadi setelah seorang perempuan menjadi Ibu, hal yang mereka tidak ceritakan,

yang wajar bila dirasakan,

karena ibu juga manusia.

  • Seorang ibu akan selalu hidup dalam penuh kekhawatiran, overthinking, dan memperkarakan hal kecil..
    • Saya pernah terbangun jam 10 malam, tergesa mencari minyak telon dan merapikan tempat tidur karena anak saya terbangun dan merengek karena kakinya gatal. Saya selalu ingin pulang setiap saya berada di rumah, tapi juga selalu ingin pergi ketika badan saya ditempel anak terus menerus. Saya khawatir akan masa depannya, akan bisakah ia diterima di sekolahnya, bisakan ia mandiri setelah saya tidak ada….
  • Ada anak = banyak pengeluaran
    • Frase “banyak anak banyak rezeki” tampak sudah tidak relevan di waktu sekarang ini, karena sungguhlah, anak adalah sumber pengeluaran terbesar. Vaksin, biaya pengasuh, baju-baju, makanan, sekolah dan hal remeh temeh lainnya seperti diapers, sabun mandi, minyak telon hingga pengeluaran tidak penting seperti mengenalkannya pada bianglala, Anak membuat seorang ibu dan juga ayah berpikir ulang untuk boros demi kebutuhan hidup mereka, anak membuat orangtuanya…. bokek. hey, iya, itu fakta lapangan lho.
  • Badan pasca melahirkan yang ideal, selain lewat metode gym yang rutin, juga lewat aplikasi facetune dan baju yang dipilih untuk menutupi cela.
    • Sudah setahun belakangan ini saya rajin olahraga demi mengembalikan kondisi tubuh, setahun berlalu, iya badan saya membaik, tapi beberapa bagian tidak dapat berbohong. Perut saya masih memiliki sisa lemak, paha saya menjadi lebih besar, payudara saya lebih kendor. Lalu yang bisa saya lakukan? Ya saya tutupi. Sesekali saya ratapi ketika malam, karena badan sebelum hamil masih jauh untuk digapai, atau bahkan tidak mungkin bila hanya melalui jalur olahraga tanpa operasi plastik. Apa? Mau operasi plastik, coba baca kembali poin.. banyak anak = banyak pengeluaran. Uangnya dari manaa? :)))
  • Full time mom? LELAH
    • Iris telinga saya bila ada di luar sana seorang ibu yang benar-benar bisa menjalani harinya dengan baik sebagai ibu rumah tangga, apalagi untuk mereka yang tidak memiliki bantuan. Lelah, tahap lelah mereka berada di level, mandi saja adalah me time. Mereka tidak sabar menunggu suami pulang karena ada bantuan yang bisa memegang anak mereka. Tapi di suatu sore ketika ibu dan anak sudah mandi, mereka akan foto selfie sembari membunuh waktu, dan mengunggahnya di sosial media dengan caption “My life.. my everything..”
  • Seorang Ibu dengan sukarela melambatkan karir, atau bahkan berhenti sama sekali dari dunia kerja, tapi tidak pernah berhenti iri pada mereka yang mampu berkarir.
    • Iya, cinta seorang Ibu sampai pada tahap mereka rela untuk tidak terlalu ngoyo pada karir, tapi jauh di dalam lubuk hati, mereka ingin sampai di tahap itu. Memiliki anak membuat seorang perempuan memiliki banyak pilihan, antara berjuang untuk dirinya sendiri atau berjuang untuk anaknya, dan kebanyakan dari mereka memilih yang kedua. Bukan karena anak adalah investasi, atau karena cinta ibu sepanjang masa, tapi karena anak adalah sebuah tanggung jawab. Iya, kami memiliki tanggung jawab besar untuk membuatnya berdikari di usia dewasanya. Maka seorang Ibu memilih menyerah pada karirinya, untuk melihat anaknya menggapai cita-citanya. Tapi kembali lagi, Ibu tidak akan pernah berhenti merasa iri, pada mereka yang mencapai tujuan berkarirnya. Ehe.

Jadi, semua posting mereka di sosial media hanya pencitraan dong?
Bisa jadi..

Tapi jauh dari gambaran ideal, seorang Ibu tetaplah seorang Ibu dengan semua keberantakan dan perasaannya.

Kami akan selalu khawatir, sensitif,

 

juga melakukan banyak cara, agar anak-anak kami tumbuh sesuai dengan haknya.

Hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

:)

31 thoughts on “Realita Lapangan Menjadi Ibu

  1. Hei falla, slm kenal yaa dlu kita satu SD d pulomas, tp aku kelas A sama Givan, hihi. Suka banget sm tulisan ini, bulan dpn aku lahiran dn udh resign dr hamil 5 bln, bener bgt iri sm tmn2 lain (yg blm pny anak) yg karirnya kece smpe kliling dunia haha, tp untungnya biar resign tp ga berhenti ngidupin passion. Intinya blajar bgt utk ga egois :)

  2. Selalu suka dengan tulisan Ibu Kiko. Tulisan yg benar2 sesuai dgn kenyataan di lapangan , tidak dibuat indah seakan-akan pencitraan.
    Terimakasih Ibu Kiko untuk semua sharenya yg sangat bermanfaat :))

  3. poin yang bisa saya tangkap bahwa hidup itu harus realistis dan tidak bisa disandingkan dengan kesamarataan kebahagiaan “yang ideal”. setidaknya kita selalu berusaha untuk menjadi ideal di segala lini menurut ukuran kita sendiri… tulisan yang bagus Teh Fal.

  4. karena mengunggah foto2 cantik di medsos bisa jadi salah satu terapi “membahagiakan diri sendiri” bagi buibuk yg seharian lelah mengurus rumah dan anak
    tapi realitanya, buibuk tetep identik dengan rumah berantakan gr2 toddler, mandi dan dandan ala kadarnya dsb, keep awesome teh falla

  5. Ah…teh aku bacanya sambil berkaca kaca :'(
    Btw, aku ibu anak 1 br 3 bulan melahirkan.. jd full time mom, dan yaa sangat benar sekali..mandi adalah me time :)

  6. Hi Dok, terima kasih telah mewakili Perempuan, menjabarkan bagaimana sebenarnya menjadi Ibu dengan segala ke-menye-menye-annya 😀
    Tahun ini, saya menunda melanjutkan kuliah karena sedang hamil Anak kedua,
    Ikhlas! karena masih bisa digapai ditahun berikutnya, atau mungkin berikutnya lagi :)

  7. Point terakhir.. :”))
    Ibu tdk akan pernah berhenti iri..
    Iya banget deh
    Apalagi yg mutusin nikah lebih cepat setahun dr teman2 sebaya..

  8. Hai Bu Dokter,
    Tulisan ini sepenuhnya realita hidup seorang Ibu. Patur bersyukur kalo kita punya pasangan yang tidak pernah protes akan hal- hal tersebut, pun bersyukur saat pasangan mempersilakan kita untuk tetap berkarier ditengah gempuran status- status ngilu ” Anak orang kamu didik di sekolah, anak sendiri kamu kasihkan ke pengsuh”.
    Terima kasih Ibu Kiko :)

  9. Hai teh falla, dikira cuma saya aja yang punya pikiran “selalu ingin pergi ketika badan saya ditempel anak terus menerus. “, suka nyalahin diri sendiri kenapa punya pikiran sejahat itu. Suka iri sama ibu yang bisa me time ke salon, saya mah mau buang air aja susah.

  10. Always love your posting ka, selalu membuat saya ibu muda yang terkadang masih galau sana sini, baper sana sini, untuk lebih memantapkan diri dan mental..

    Semua ibu adalah super tanpa terkecuali..

    Pencerahan malam2 gini, sambil nyuci pakaian setumpuk. baca postingan dirimu
    Its feel so alive ^^ lebay ya, tapi ya itu adanyaa…

    Semoga selalu bisa menjadi ibu yang lebih baik dari waktu ke waktu… xoxo

  11. Kata2 ini aku bgt, “Seorang Ibu dgn sukarela melambatkan karir atau bahkan brhenti sama sekali dari dunia kerja,tp tidak prnah brhnti iri pada mreka yg mampi berkarir”.. Demi full nyusuin 2th,aku nunda kerja jd bidan.. Tp knpa semakin tinggi keinginan kita bwt kerja,smakin ngga tega kita bwt ninggalin anak… :(

  12. teh tulisannya bagus banget, aku ibu yg juga bekerja dan sekarang lagi galau buat tetep bertahan kerja atau gak, galau dengan bnyknya omongan orang soal anak yang mereka terlalu sok tau untuk berkomentar, tpi semua balik ke pilihan kita sendiri dan IYA! Anak kita, gimana kita bukan orang lain ! btw aku izin share ya teh biar suamiku baca dan dia ga rewel klo aku mandi lama atau sekedar creambath di salon haha :))

  13. Selalu stalking blog bu juno,dan selalu di bikin berkaca kaca soal seperi ini,anak,suami,pekerjaan,semoga bahagia dan sehat selalu ya ibu nya kiko

  14. Waaaaa Kak, I’m your first time reader and a first time mom who happens to work from 9 to 5 to help my husband provide our little family with much better life.

    Tulisannya bagus sekali! Iya ya, jadi Ibu itu ga seindah postingan di sosmed hahahaha makanya aku pribadi ga pernah posting soal being a mom on social media. By the way, Kak, OOT sih, apakah masih pake BS dari Tiara Cipta? Pengen sekali tahu current situation soal per-BS-an ini.

  15. Hi fala..!! Salam kenal sejawat…
    Selalu suka dan inspiratif bget baca blok kamu. Btw aku sbagai ibu baru dg bayik usia 2 bulan dan syluka galau dg karir aku kdepannya. Skrg sdh sedikit lega …
    .
    .iri liat temen yg bisa maks gelar dr.nya di Rs di IGD. Memiliki anak itu piligan dan tanggung jawab. Great blok fal. Thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *