Kami Mau Pindah Rumah! (yeay?)

Iya, kami mau pindah rumah.

Saya, Kiko dan suami memutuskan untuk benar-benar meninggalkan rumah dan berusaha main rumah-rumahan sendiri. Sebenarnya banyak alasan yang memperkuat kami mengambil keputusan ini, meninggalkan rumah orang tua (baca: mertua) yang nyaman untuk menjalin hidup kami sendiri.

Kenapa baru sekarang?
Karena keadaan finansial saya baru cukup untuk sekarang. Pekerjaan saya sudah mulai jelas setelah selesai internsip dokter. Pak Juno sudah mau masuk semester senior di residensi; beliau akan keliling Indonesia start by Januari selama 1.5 tahun, praktis kami akan LDRan, maka dengan segala konsekuensinya saya memilih untuk hidup lebih mandiri (walau sebenarnya tidak terlalu mandiri juga, karena kakak kandung saya memiliki rumah tidak jauh dari kediaman kami..). Kedua, adik ipar Pak Juno, Mbak Joja akan melangsungkan pernikahan akhir tahun ini dan untuk sementara juga akan tinggal di rumah Bapak mertua, jadi kalau kami masih di sana maka akan ada 3 kepala keluarga. Weeew rame ya. Seru sih ya sebenarnya, tapi yaudah, gapapa, kami ingin sedikit mengambil peruntungan untuk keluar dari rumah.

 

Rumah seperti apa yang dipilih?
Rumah mungil di Tangerang Selatan, kami sewa dari seorang pemilik yang baik hatinya. Rumah kosong yang tidak ada apa-apa. Berbekal tabungan saya dan Pak Juno, mudah-mudahan kami selalu ada rezeki untuk sedikit-sedikit punya furnitur yang cukup layak untuk kami tinggali. Awalnya kami berencana untuk KPR rumah, dengan perhitungan 2 tahun di awal saya yang tutup, tapi karena tampak terlalu ambisius dan gegabah, mengingat pekerjaan saya itu bisa dikatakan 80% freelancer, maka kami urungkan niat itu. Bila ada yang bilang “keluarga adalah tameng kehidupan terdepan” mereka benar, rumah yang kami tempati nanti sedikit banyak juga kebaikan keluarga. Bahkan jemuran saja adalah hibahan kakak saya. Ehe.

 

Apa modal paling kuat untuk keluar rumah?
Tabungan, Iya, tabungan saya dari pekerjaan saya jadi buzzer dan dokter saya kumpulkan untuk ini. Pak Juno masih ada sisa residensi sekitar 2 tahun, dan Insya Allah dalam 2 tahun itu ada beberapa peran yang saya ambil alih. Tidak apa, dalam hidup dokter-dokter macam kami, hal seperti itu super lumrah. Namanya juga sekolah.. :)

 

Takut ga hidup mandiri?
Takut. :)
Tapi hidup harus terus jalan dan naik kelas kan, keputusan yang kami ambil juga sudah lewat pemikiran matang dan kami siap untuk semua konsekuensinya.

 

..

Sekarang kami sedang sibuk untuk “isi” rumah, bukan kok, bukan beli, tapi memakai saja barang yang ada. Kami tidak mau memaksa untuk membeli barang bagus sesuai impian, bisa tinggal layak saja sudah cukup.

Degdegan? Tentu.
Tidak sabar? Jelas.

Jika tidak ada aral melintang, rumah mungil itu akan kami tempati akhir Desember. Mudah-mudahan tidak ada halangan apapun ya. Bismillah, doakan kamiiiii..

Hahaha.

 

Kalau ada yang mau nyumbang meja atau sofa, dengan senang hati lho.. #Lho #murah

😀

21 thoughts on “Kami Mau Pindah Rumah! (yeay?)

  1. Waah, orang tua ku dulu juga begitu. Pindah provinsi dan Rumah kecil dengan peralatan seadanya bahkan dulu belum masuk aliran listrik, tapi kalo diingat suka buat senyum sendiri. semangat ya mbak

  2. wah teteh …selamat suka sekali isi posting nya penuh kejujuran dan kerendahan hati, bismilah semoga sukses yah akhirnya tinggal sendiri, semoga segera dimudahkan memiliki rumah sendiri & berkumpul ma pa juno lg ( keliling indnya aja blm ) amiin

  3. Halo
    membaca cerita ini seperti de javu 9 bulan lalu, abis nikah langsung ngontrak kosongan…nyicil ngisi…hihihi seru seru sedaaap tapi nikmat tiada tara
    Selamat dan semangat

  4. Wah sama Teh. InsyaAllah senin besok aku jg mau pindahan, ngungsi dari rumah ortu hihi. Bedanya, rumahku suami KPR krn dia perantau dari Medan. Samanya lagi, gak jauh dari rumah Kk Ipar dan kebanyaakan isi rumah lungsuran dari Kk Ipar
    Semangat Teh. Semoga kita bisa melewati hari-hari baru yg lebih indah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *