Kok Baby Sitternya Ga Dikasih Makan?

Ketika belum memiliki anak, saya sering ngebatin sendiri dalam hati kalau lagi jalan ke mall dan makan di sebuah restoran dan melihat 1 keluarga menikmati hidangan yang disediakan dengan nikmatnya. Kontras, di ujung meja, atau bahkan berbeda meja, ada baby sitter yang mengurus bayi mereka, tidak makan apapun. Tidak hanya sekedar duduk terpisah, tapi juga tidak ada makanan apapun di atas mejanya.

Sering iba melihatnya, tidak jarang mengumpat karena ketika itu, saya berpikir bahwa.. duh, traktir makanan apa mahalnya sih. Kan mereka bisa makan 1 keluarga dengan nikmat, tapi masa kasih 1 porsi makan ke orang yang telah berjasa bagi buah hatinya kok gak mau.

Tapi itu dulu..

Semenjak jadi Ibu dan karena terganjal pekerjaan, saya dan suami memutuskan memakai jasa baby sitter. Alhamdulillah kami tidak memiliki banyak drama mengenai baby sitter. Selama hampir 2 tahun ini, saya baru ganti baby sitter 1x, transisi dari new born ke toddler.

Di sela itu, ada 2 suster infal ketika hari raya idul fitri. Jadi total kami pernah mempercayakan anak kami ke 4 baby sitter. Semuanya memiliki karakteristik yang berbeda mengenai perkara “makan di restoran”.

Baby sitter pertama saya, Mbak Asih. Ia cenderung mau makan bersama kami, di 1 meja. Rasanya hampir semua restoran dia bisa menikmati setiap masakannya. Oh, kecuali 2, restoran Jepang dan Korea. Pernah kami pulang dari resto Jepang, dan berakhir Mbak Asih mual-mual karena tidak kuat mencium bau, yang menurutnya, ditimbulkan dari resto Jepang. Ok…

Lalu, di tengah itu ada infal bernama Mbak Titi. Tidak jauh berbeda dengan Mbak Asih, Mbak Titi juga cenderung tidak keberatan bila kami makan di luar. Hanya, ia memilih menu yang paling aman dari semua. Nasi goreng. Karena statusnya hanya suster infal, kami tidak terlalu banyak interaksi mengenai makan. Seingat saya, Mbak Titi tidak terlalu ribet untuk urusan makan.

Lalu, ketika Kak Kiko sudah berusia 1 tahun, baby sitter kami berganti jadi Mbak Lisa, suster kami hingga hari ini. Mbak Lisa ini tidak keberatan untuk menemani kami makan di restoran ketika kami pergi ke pusat perbelanjaan, tapi bila dihitung statistik, dari 10 kunjungan, hanya sekitar 3-4x ia tidak keberatan untuk memesan menu makanan. Sisanya Mbak Lisa hanya meminta segelas es teh manis, dan menghabiskan waktu menjaga anak saya. Sesekali keluar restoran, membawa anak kami jalan-jalan.

Ketika idul fitri kemarin, kami memilih suster infal, karena saya dan suami tidak mendapat cuti. Suster pengganti ini orangnya baik, telaten. Tapi…. ia tidak pernah mau memesan apapun ketika kami makan di luar rumah. Ia juga lebih nyaman duduk tidak semeja dengan kami, walau kami sudah kepayahan untuk menawarkan. Ia lebih suka duduk di pinggir meja, agak melipir atau malah secara ekstrem memilih duduk di luar resto di dekat stroller. (T_____T), saya yang ga enakkk mbakkkk… Huhu. Karena memang ia lebih nyaman seperti itu, lalu kami harus memaksa gimana kan……

 

Ilustrasi di atas adalah pengalaman saya langsung dan membuat pandangan saya mengenai keluarga yang “terlihat” tega membiarkan baby sitter mereka duduk di luar atau tidak diberi makan jadi berubah. Kehidupan yang tampak itu selalu ada 2 sisi, ada alasan di balik itu semua.

Kemarin, ada mention masuk ke twitter yang bilang kalau baby sitter tidak dikasih makan itu karena susternya tidak mau dipotong gaji. Atau, karena memang keluarga tidak menawarkan. Ya, saya tidak bisa membantah, mungkin saja memang demikian. Tapi,

besar kemungkinan juga tidak seperti itu.

Alasan baby sitter itu melipir dan hanya minum ya sesimpel… mereka menolak makanannya. Ntah karena sudah makan di rumah, tidak cocok dengan ragam masakannya, atau ya… mereka segan saja duduk semeja dengan orang-orang yang ia anggap sebagai “atasan” mereka.

Bukan hanya tentang perilaku baby sitter di resto, tapi semua hal yang terlihat janggal hampir pasti selalu memiliki 2 sisi, dan bila berdasarkan asumsi, kemungkinan benar akan asumsi yang kita pilih ya hanya 50%.

Argumen yang sama bisa diterapkan juga pada gambaran…

 

Kok sesar sih? Ga mau ngeden ya?
ngga, karena sudah 40 minggu ketuban mulai keruh, tapi bayi belum masuk pintu atas panggul.

Kok masuk susu formula sih? Males nyusuin ya?
ngga, saya sudah berjuang, hingga anak insisi, hingga saya harus terapi abses payudara, tapi ASI tidak juga adekuat.

Kok pake baby sitter? Manja ya?
ngga, roda ekonomi keluarga saya berputar karena kerja suami dan istri, maka istri saat ini tidak punya pilihan selain harus membantu di bidang finansial.

Kok kok kok dan kok lainnya.

Iya, semua punya 2 sisi.
yang terlihat, dan yang tidak diceritakan.

9 thoughts on “Kok Baby Sitternya Ga Dikasih Makan?

  1. Ini gara-gara foto viral itu ya Kak? Saya awalnya berempati karena mungkin yang pertama kali nge-share kurang tau kondisinya, cuma modal iba dan kasihan. Tapi saya mulai eneg dengan caption atau komentar orang yang re-share yang asal judge sang “majikan”. Alhamdulilah meskipun belum punya baby, tapi saya udah beberapa kali ikut kakak saya ke mall dengan mengajak baby sitter, jadi lumayan tau kondisi dibalik si mbak yang milih untuk tidak makan atau malah duduk pisah meja.

    Sejauh yang saya tau, baik langsung dari pengamatan saya atau dari cerita kakak saya & si mbak sendiri ketika saya tanya kenapa gamau makan bareng itu emang berasal dari si mbak sendiri, bahkan teman-teman “sejawat”-nya juga begitu. Si mbak bilang kalau ga suka dengan makanan-makanan di mall, ga cocok dengan lidah katanya, apalagi kalau makan di restoran “luar jawa”, dibeliin ayam K*C aja jarang mau makan, lebih enak goreng sendiri hahaha. Si mbak malah sering kalau tau mau diajak keluar dia makan dulu di rumah, biar ada alasan udah kenyang kalau ditawarin makan jadi bisa momong baby selagi orangtuanya makan.

    Semoga lebih banyak orang yang menghargai apa yang “tidak terlihat” jadi ga asal memberikan penilaian dan cap buruk, agar tidak ada hati yang tersakiti 🙂

  2. Ini bener banget.
    Mbakku jangankan makanan2 luar macam sushi, spaghetti, wong daging aja ga doyan, pdhl kalo kita makan di luar ya seringnya ke tempat yg isinya makanan2 itu.
    Kalau ditanyain apalagi, selalu blg ga mau makan.
    Ujung2nya malah kita paksa, soalnya ga enak bgt kan kalo kita makan tp mbaknya ga makan, ga diabisin jg gapapa deh. Biar ga jadi gunjingan.

  3. Iya nih mbak falla, kebanyak masyarakat kita itu gamau liat dari 2 sisi.

    Kakaku juga bawa baby sitter kemana-mana, kadang dia nya mau ikut makan, kadang dia gamau makan, alasannya “ga biasa makan itu” (semacam sushi dll)

    Kecuali kalau kita sekeluarga makan vakso, pasti dua ngikut makan hhii (makanan org indonesia dari semua kalangan kan hhii).

    Terbiasa nyinyir mungkin ya mbak, jadi nya begitu. Sama kaya Ibu Asi yg komentar sama Ibu Sufor. Bahkan temenku itu suka berargumen “banyak duit ya say, anaknya dikasih Sufor mahal”

    Eh maaf jadi manjang hhii

  4. Sukaa kalimat terakhirnya bu dokter “Iya, semua punya 2 sisi.
    yang terlihat, dan yang tidak diceritakan”. Thanks for sharing 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *