Tidak Perlu Risih Berkunjung ke Psikiater

Mungkin ada yang ngeuh tentang bagaimana kerasnya usaha saya menghadapi macet super combo Karang Tengah hingga Sudirman selama menjalani program internship di Cilegon. Setiap hari, tanpa terkecuali, saya harus melewati macet hingga 4 jam untuk pulang ke rumah. Pilihan yang saya pilih sendiri untuk pulang pergi Jakarta – Cilegon, di mana konsekuensinya harus saya telan bulat-bulat.

Ternyata, risikonya jauh di luar dugaan saya. Di penghujung internship, sekitar 2 bulan sebelum berakhir, macet Karang Tengah hingga Sudirman menyisakan hal buruk dan di luar kendali saya. Setiap kena macet, saya ulang, setiap kali kena macet saya bisa keringat dingin dan tanpa sadar emosi saya tidak terkendali. Perlahan, saya menangis karena merasa begitu tersiksa.

Kualitas hidup saya saat itu sudah sangat terganggu, hingga akhirnya saya mencari pertolongan ke psikiater kenalan saya. Iya, saya mendatangi beliau, bercerita mengenai semua masalah dan bagaimana gejolak emosi saya yang tidak terkontrol ketika menghadapi macet. Lalu beliau bilang, ternyata bukan hanya saya yang memiliki stressor serupa, tapi banyak sekali warga Jakarta (umumnya) yang mengalami hal sama.

Beliau saat itu bilang “You are not alone. Pasien saya banyak sekali kok yang profesinya supir taksi, supir Uber, atau pekerja yang harus melalui macet setiap hari. Makanya, kalau suatu ketika bertemu supir taksi dengan emosi tidak terkontrol, sabar ya, bisa jadi itu pasien psikiatri..”

Lalu beliau meresepkan obat untuk mengendalikan emosi saya, ketika saya mulai hilang kendali. Tapi alhamdulillah, obat tersebut hingga hari ini tidak pernah saya tebus. Hanya beberapa obat penghilang sakit kepala saja yang harus ada di tas.

Imbas 1 tahun “dihajar” macet masih berbekas hingga saat ini, saya masih saja keringat dingin ketika terjebak macet hebat di Jakarta, bisa sampai menangis. Traumanya masih menyisakan pilu ternyata, teringat 1 tahun penuh air mata hanya dari sisi kemacetan Ibu kota. Duh… Solusinya hingga saat ini ya saya menghindari pergi ke tempat rawan macet di jam yang bisa dipastikan kendaraan memadat. Ya hanya itu, untuk psikoterapi, saya masih menimbang-nimbang dan mencari psikolog klinis yang bisa menghilangkan trauma saya.

Cerita tidak berakhir seideal di atas, di tengah perjuangan saya melawan gelisah karena trauma, ada kabar burung internal yang bilang bahwa saya gila.. Iya, saya gila, karena saya mencari pertolongan ke psikiater.

Tapi, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain meluruskan kabar bahwa memang saya berobat ke psikiater, tapi bukan karena saya “gila”, semata karena saya merasa kualitas hidup saya berkurang karena sebuah stressor. Untuk saya, hal itu adalah kemacetan.

Tampaknya, pergi ke psikiater masih menjadi aib untuk sebagian warga yang sedihnya berada di kota besar. Stigma “orang gila” bagi mereka yang pergi ke psikiater begitu kuatnya sehingga banyak sekali kasus depresi tidak tertangani dengan benar. Alih-alih diajak pergi ke psikiater, mereka malah akan dimarahi karena dirasa kurang bersyukur, atau malah pergi dirukyah?

Ini hal serius untuk saya sebagai dokter, kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Karena apalah guna fisik bugar bila tidak diimbangi dengan jiwa yang sama sehatnya. Pergi ke psikiater bukan indikasi orang kelainan jiwa, tapi bagi mereka yang merasa kualitas hidupnya mulai menurun tapi masalahnya bukan sakit pada fisik.

Mereka yang insomnia atau susah tidur, mereka yang terlalu mudah merasa cemas, dan mereka-mereka yang jauh sekali dari anggapan “orang gila pinggir jalan yang tidak pakai baju”. Kualitas hidup seseorang itu penting dipertahankan di level baik, bukan buruk. Oleh karena itu bantuan berupa psikiater itu seharusnya menjadi hal yang wajar, sewajar bila kita mencari pertolongan ketika sakit kepala berkepanjangan.

Saya belum berbicara mengenai penyakit yang diharuskan untuk tidak lepas obat, saya hanya mencoba meluruskan sudut pandang masyarakat awam untuk melihat psikiater dari sisi yang benar. Melihat pasien psikiater sama dengan pasien lainnya.

Kenapa?
Karena secara tidak langsung, orang-orang yang dengan mudah mencap “gila” pada pasien psikiater membuat banyak sekali kasus kejiwaan tidak tertangani menyeluruh. Lalu, ketika mereka sudah semakin dalam masuk ke jurang emosi negatif,

 

apa mereka yang mudah mencap gila mau bertanggung jawab?
:)

 

 

 

yuk, sama-sama belajar. Eliminasi kata “gila” untuk mendeskripsikan pasien kejiwaan, bahkan untuk mereka yang kehilangan sadar hingga memakai baju saja harus dipaksa. Mereka bukan “orang gila”, mereka pasien psikiatri, yang sama dengan pasien dokter spesialis manapun. :)

22 thoughts on “Tidak Perlu Risih Berkunjung ke Psikiater

  1. Saya didiagnosa OCD oleh psikiatri. But that’s okay. Saya teratur minum obat dan masih dalam treatment psikiatri. Banyak org sekitar yg mencap saya “gila” karna pergi ke psikiatri. Sakit hati sih tapi saya tetap memilih pergi ke spikiatri dan memutuskan tidak bercerita ketika orang sekitar bertanya sakit saya. Alasannya simple risih dicap ‘gila’ padahal kami tidak gila.

  2. Semenjak anakku sakit dan lama2 jadi rewel banget, aku hampir tiap hari nangis. Awalnya nangis krn diagnosa yg bejibun dan ga biasa, lama2 nangis krn berasa stress, capek, jadi emosian, bahkan ke anakku pun pernah kumarah & kubentak. Padahal Aku sadar dia sakit, tp ga bisa nahan emosi. Pernah kepikiran buat ke psikiater, cm ga yakin. Sampai skg akhirnya anakku meninggal, pun skg masih sering nangis, selain krn rindu, ya nyesal krn dulu sering marah2. Indikasi segera ke psikiater kah dok?

  3. Bubeks saya senang banget baca blog kali ini, pentin banget menurut saya dimana emang bener banget ya kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ga perlu skozofrenia harus ke psikiater karena sebenarnya banyak sekali diagnosis gangguan jiwa menurut PPDGJ. I mean gangguan jiwa tidak mesti cuma skizofrenia. Aaa love it sering-sering nulis kayak gini ya bubeks. Salam dari perbatasan Malaysia-Kalbar. Laaaf. ID twitter: @JihanJi

  4. Setujuuu sama tulisan dr.falla…terima kasih sudah mewakili aspirasi, aku termasuk yg ngerasain kalo ke psikiater dianggap aneh dan yaaitu dicap “gila”.
    btw, suka baca tulisan-tulisan di blog dr.falla.. terus menulis dan menginspirasi yaa bu dokter :)

  5. Aku perempuan single berusia 25th Dok,
    baru saja kehilangan Bapakku,
    belum genap 100hari,
    Beliau pergi bulan Hari Jum’at terakhir Ramadhan kemarin 4 hari sebelum Idul Fitri,
    beliau pergi tiba2,
    aku tak sempat bertemu Beliau disaat2 terakhir,
    Karena aku merantau dan tinggal jauh dari rumah.
    Aku hanya bertemu Beliau saat sebelum dikebumikan,
    hanya sepintas saja melihat wajahnya.

    Sejak saat itu, hariku tak lagi sama,
    aku si Anak Manja yang paling dekat dengan Bapak paling tak bisa mengendalikan emosi,
    dimana saja,
    kapan saja,
    di kantor,
    di jalan,
    di kamar,
    sedang makan,
    nonton tv,
    aku bisa menangis dan terisak tiba2,
    selain karena banyak hal semacam penyesalan bahkan kata maaf yang tak sempat kuucapkan membuatku semakin sedih,
    Bahkan aku sering terbangun tengah malam dari tidurku,
    lalu memngis terisak2,
    Aku sering takut bila ditinggalkan sendiri, aku takut kesepian,
    aku tak suka hujan,
    Aku takut nanti kenangan tentang Beliau datang lagi hingga aku menangis pilu menanggung rindu.

    Selain itu setelah kepergian Bapak, kualitas hubunganku dengan pasangan (baca : Pacar) pun semakin buruk karena Dia sempat bermain hati dengan yang lain saat aku sedang sedih2nya,
    semua bercampur jadi satu,
    Aku jadi sulit mengontrol diri,
    tiba2 rasa sesak dan gemetaran,
    lalu aku menangis terisak lama sekali.
    hampir setiap hari.

    Setiap malam datang aku kesulitan tidur,
    kadang tidurku cuma 2 jam sehari,
    tak tau rasa ngantuk itu menguap kemana.

    Kadang akupun sempat berfikir Dok,
    kalau tak ada saudara, keluarga, teman2 dan Allah yang menguatkan,
    mungkin aku bisa saja depresi karena ini :(

  6. BuBek ambil spesalisasi Kejiwaan saja BuBek :)
    Untuk sosialisasi tentang penyakit kejiwaan yang tidak semata-mata hanya yang “berkeliaran di jalan tidak pake baju”

  7. hy bubeks,
    ada recommend psikiater nggak ?
    aku belakangan ini merasa butuh bantuan psikiater
    cuman untuk nyari sendiri masih kurang paham harus yang seperti apa
    nanya ke orang orang ya tau sendiri pasti dibilang “gila”

  8. Teh falla, terimakasih sudah hadir dengan tulisan tulisan nya yg menginspirasi, bikin “anget” :) . tetep nulis ya teh, aku pasti selalu nunggu tulisan teteh :)

  9. aku, mahasiswi psikologi, pernah memberanikan diri buat curhat ma salah satu dosenku,
    kemudian didiagnosis menderita borderline disorder.

    tapi ngga ada kelanjutan, karena orangtua bukan tipe yang peduli ma psychological issue.

    kata dosenku, hal yang harus aku perangi adalah feeling useless. ngerasa ngga bisa apa-apa. ironisnya aku sering dikatain gitu ma orang terdekatku :(

    anyway, makasih tulisannya teh.
    ngademin. berasa di-ngertiin. :)

    sehat terus ya teh, aku emang jarang kasih komentar,
    tapi aku selalu baca tulisan-tulisan teteh.

  10. Hi, Teh. Saya juga pasien Psikiatri sudah satu tahun belakangan ini. Dengan diagnosa depresi kronis, gangguan psikosomatik dan OCD. Obat2an masih rutin dikonsumsi. Tapi… keluarga tidak ada yang tahu bahwa saya pasien Psikiatri, ya karena saya paham, kalau saya cerita, saya akan di cap “gila”. Luar biasa ya berjuang dengan ‘kondisi berat’ seperti ini hihihi tapi hidup harus tetap berjalan kan, jadi saya wajib menyemangati diri saya sendiri supaya bisa remisi secara sempurna. :-)

  11. Membaca tulisan ini, membawa saya kembali ke tahun 2003 – 2004.
    Di masa itu, seminggu bisa dua kali saya bertemu dengan psikiater.

    Bukan karena apa, tetapi profesi saya sebagai medrep yang mengharuskan saya untuk bertemu dengan psikiater.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *