IMG_2886

Kembali ke Kopi

Sarah, seorang teman serumah ketika kami menjalani masa koas di Cibitung pernah berkata “Ada Nduno (she calls me Nduno), pasti rumah bau kopi.”

Saya tidak pernah sadar mengenai kebiasaan saya menyesap kopi di pagi hari sebelum Sarah berkata demikian. Setiap pagi, 1 cangkir kopi masuk lewat mulut dan di situ, saya tau, saya siap memulai hari.

Lalu tiba-tiba, ritual ngopi saya hilang. Tidak tau ini hanya kebetulan, atau memang begitu adanya. Momen saya berhenti menyesap kopi adalah ketika Herjuno hadir dalam hidup. Ia penyuka kopi, saya juga saat itu, tapi tiba-tiba saya merasa letih dengan pahitnya kopi. Saya memilih memulai hari dengan segelas teh, manis.

Sudah beberapa bulan belakangan ini, ritual kopi itu kembali. Herjuno? Masih di sisi. Jadi, saya anggap kehadirannya tidak memiliki makna apapun pada berputarnya dunia perkopian di pagi saya. Ritual kopi beberapa bulan terakhir ini lebih pekat, lebih hitam dan lebih pahit. Bila dulu saya cukup dengan segelas coffee mix sachet,

pagi saya akhir-akhir ini terbuat dari kopi hitam. Ristretto, Americano atau Coffee Klasik Nescafe.

Hitam

Tanpa gula.

..

Saya menenggak pahitnya,

ntahlah,

setelah sesapan demi sesapan, hari saya membaik.

mungkin sekedar petunjuk, bahwa kopi saya masih lebih pahit dari hari ini.

IMG_2886

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *