Bersatu Bukan Berarti Menyatu

Ketika memutuskan untuk bersama dalam sebuah hubungan, memang seakan keduanya adalah dua yang menjadi satu, sebuah dwitunggal yang menggemaskan dan sarat romantika. Walau tidak sepenuhnya salah, dwitunggal dalam sebuah hubungan tidak bisa diterapkan dalam berbagai aspek, terutama ketika keduanya sedang menjalani peran dalam masyarakat sebagai makhluk sosial.

mengapa saya menyebut demikian? ya karena sebagai manusia, kita membutuhkan sosialisasi. Membutuhkan kawan dan waktu.

Beberapa waktu lalu, ketika suami saya jaga malam RSCM saya pamit ke dia untuk bertemu seorang kawan lama, awalnya kami hanya pergi ke bar dekat rumah dan beranjak malam, ia mengajak saya pergi ke sebuah club di Jakarta. Saya mengiyakan, alasannya sederhana, saya belum pernah pergi clubbing. hahahaha.

Sebelum pergi, saya menyampaikan pesan kepada Pak Juno bahwa setelah dari bar, saya akan lanjut pergi ke sebuah club di bilangan Jakarta Pusat.

Ternyata, di sana ada beberapa orang yang saya kenal, mengingat memang kami adalah teman lama, jadi wajar bila saya bertemu orang-orang yang juga saya tau baik di sana. Berbicara sejenak, ditemani musik yang terlalu berisik untuk mengobrol.

Di tengah pergantian DJ, seorang teman lama saya menghampiri “Juno mana?” ia berkata ringan, ditemani sebuah minuman berperisa cola dioplos dengan minuman berkadar cukup untuk memeriahkan malam.

“Jaga..” Jawab saya.

“Woh, dia tau lo di sini? Kalau ngga, ya biar semua 1 suara, jadi ga ada masalah abis ini..”

“Tau..”

Ia tidak berkata setelahnya, hanya sebuah tatapan heran mungkin, mengapa kok ya suami lagi jaga malam, istri berada di club dengan kawan-kawan lamanya.

Ada  1 hal yang saya syukuri dari diri Bapak Residen Kami Tercinta, ia membiarkan saya memiliki hidup sendiri. Sebuah hal sederhana yang pada praktiknya, tidak semua pasangan memiliki kesadaran yang sama.

Seorang kawan pernah mengaku pada saya, bahwa ia sempat memacari seorang perempuan yang hidupnya hampir persenan skala besar bergantung pada kawan saya ini. Kasarnya, ia hampir tidak pernah berkumpul mandiri bersama teman-teman sepergaulannya, seluruh hidupnya bila tidak sedang di rumah atau kuliah, ia sedang bersama si pacar (baca: kawan saya). Bila butuh sesuatu, maka ia tidak akan pergi sendiri, melainkan menunggu kapan kawan saya ada waktu untuk menemani. Bahkan sebelum tidur, percakapan via ponsel dijalani setidaknya 1-2 jam sepanjang malam, padahal sorenya kawan saya ini baru mengantar si pacar pulang.

Kawan saya tidak pernah protes, karena memang saat itu, kawan saya merasa tidak ada yang memberatkan. Memang sih, perempuan ini juga tidak tergolong banyak menuntut, hanya saja, ia hampir tidak memiliki hidup di luar keluarga, sekolah dan pacarnya. Mereka akhirnya putus, menyisakan sebuah catatan tanpa pernah ia sadari. Bahwa manusia itu, selain memiliki peran sebagai seorang pendamping, juga memiliki peran sebagai makhluk sosial.

Lebih dari itu, pasangan yaa.. pasangan. Bukan tempat menggantungkan segala harapan, bukan?

..

Ok, kembali ke saya,

Pak Juno memang hampir tidak pernah melarang saya pergi dan bergaul, bahkan tanpa dirinya. Tapi juga dengan senang hati menemani saya bila memang kehadirannya tidak dirasa mengganggu suasana. Saya tidak mau disclaimer diri saya bahwa saya melakukan hal sama, karena terkadang sekali dua kali saya ngambek juga kalau ia pergi futsal, tapi sebisa mungkin saya memberikannya waktu untuk sendiri,

tanpa saya.

Bukan karena saya membiarkannya untuk menikmati menjadi lajang, tapi ia berhak menikmati dirinya.

Hubungan itu memang antar dua orang yang memilih untuk bersatu,

tapi bukan selalu menyatu.

Di balik sebuah hubungan yang kuat, mereka dibentuk dari pondasi perseorangan yang tetap, mereka memiliki nilai dan kebutuhan yang bisa saja berbeda. Saya dan mau saya, dia dan mau dia. Saya dan teman-teman saya, dia dan teman-teman dia.

Memberikan keleluasaan untuk bersosialisasi sendiri tanpa ditemani pasangan, memang kadang sulit diterima masyarakat, anggapan bahwa seorang istri itu harus ke mana-mana manut suami dan bila pergi tanpa suami maka dianggap tidak patuh, masih tetap ada.

Tapi, who cares sih?

Hubungan adalah tentang 2 buah roda, berjalan beriringan, memiliki kerjanya sendiri-sendiri, tapi tidak perlu menyatu untuk membuat kendaraan itu.. berjalan ke arah yang benar.

30 thoughts on “Bersatu Bukan Berarti Menyatu

  1. Setelah baca postingan teh falla, spontan berkaca-kaca. Aku gadis 21 tahun yg sudah lebih dari 3 tahun menjalin hubungan dengan laki-laki yg tidak pernah melarang aku pergi kemanapun, justru memberikan kesempatan untukku berkembang.
    Tapi terkadang masih kurang bersyukur karena menggangap ‘tidak sayang’, tapi kembali lagi mencari orang seperti itu jarang bahkan susah. at least terimakasih teh. Aku merasa beruntung memiliki pendamping yg tetap memberi aku ruang untuk berkembang. Sukses terus teh falla, ditunggu blog selanjutnya :))

  2. habis baca ini saya jadi mendapat penyegaran… bahwa memang demikianlah seharusnya sebuah hubungan…
    saya dan calon suami saya menjalani hubungan jarak jauh. kadang jika malam tiba saya ingin telepon, calon suami sudah ada janji duluan untuk bermain dengan teman-temannya. kadang merasa sebal juga tapi toh kita masih bisa melakukan hal yang lain misal menelpon orang tua atau bisa juga melakukan aktivitas lain yang dirasa bisa mengalihkan perhatian kita dari rasa sebal karena ditinggal main. makasih ya teh buat tulisan ini… 🙂

  3. Baru kali ini saya komen di blog-nya teh Falla. Teh Falla tetap menulis ya! Saya suka sekali tulisan teh Falla. Dulu saya punya seseorang seperti ini, tapi saya bodoh melepaskannua. Ehe. Terima kasih sudah berbagi teh.

  4. wahhh ini pas sekali, saya jg sering bgt diliat dgn tatapan aneh klo pergi ke kumpulan tmn2 tanpa suami, ada yg nyangka ga mau ngakuin suami,ada yg mikir hidup berumah tangga ko masing2 , pdhl yah betul selain berperan menajdi seorang istri/ ibu , saya tetap saya yg butuh menajdi dirinya sndri

  5. Nyentil banget teh! Tp kalau sudah 5 tahun, pasangan maksa harus selalu pasang foto berdua di semua medsos dan jarang bolehin pergi-pergi gitu, enaknya diapain teh ? :))

  6. persis teh, pacarku juga ngasih aku kebebasan asal tau batasan. Suka aneh ajasih kalo lagi kondangan datengnya sendiri langsung ditodong pertanyaan “ko sendirian? sama yg kemaren udh putus?” padahal pacaran ga mesti kemana-mana berduaan sih :)))

    1. saya juga ngebebasin pasangan utk “sibuk” dengan lingkungan dan teman2 nya sendiri. tapi sejak kebohongan2 yg dia kasih demi membuat saya nyaman dan tidak curiga.

      apakah wajar kalo saya mengekang dia? bahkan menurut saya dia tergolong orang yg suka fling (lihat postingan teh falla ttg fling).

      kondisinya kita sudah setahun pacaran, putus krn dia berbohong spt itu dan belakangan ini balikan lagi.

  7. Hai teh falla,
    Aku suka baca tulisanmu dan postingan itu (sedikit) mengingatkan memori hihih tapi suka dan setuju banget sama tulisan teh falla *big hug*

  8. aku suka banget baca-baca tulisan teh falla dari dulu sebelum teh fall merit, apalagi kalo tentang hubungan. Tulisan ini pas banget untuk aku dan sipacar teh, sama-sama gak pernah ngelarang satu sama lain mau main atau bergaul dengan siapa asal masing-masing tau kemana dan dengan siapa. Kebetulan aku sama sipacar LDR an jadi yaaaa sebel juga sih teh tau sipacar sering abisin waktu kumpul sama temen-temennya di waktu ‘telepon’ kita berdua. Tapi toh, doi juga kasih kebebasan ke aku untuk me time sama diri aku juga lingkungan aku.
    Kan nanti pas ketemu, usel-usel sayangnya bisa lama 🙂

  9. Akhhhh sukaaa!! Tapi kadang aku bingung kak kalo ada pasangan yang kalo pasangannya itu ngekang dia malah demen -__- dgn alasan tandanya dia sayang, ha? Dunia kita kan bukan soal pasangan melulu :))

  10. Makasih Teh, tulisannya aku suka :))
    Njalanin bareng se-kota (sama2 kuliah merantau) selama 3 tahun, sekarang lanjut ldr hampir setahun. Aku sama Mas ttp saling beri ruang utk ‘kehidupan’ sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *