(Belajar) Melihat Anak Secara Utuh

Buat saya, salah satu tantangan terbesar dalam mengawal anak tumbuh dewasa adalah berlapang dada dan berbesar hati bila ia memilih untuk tidak “perform” di sekolah. Agak berat untuk saya dan suami, karena kami memang diberikan rezeki lebih dan mungkin berkah untuk orang tua bahwa kami melewati masa sekolah dengan mulus.

Ayah dan Ibu saya selalu sumringan setiap saya terima raport, saya pernah menjadi jejeran lulusan terbaik, saya lulus kuliah dengan IPK memuaskan. Saya dipuji guru karena mampu menjawab soal yang mungkin setengah kelas tidak tau jawabannya. Hampir tidak ada cela.

Orang tua saya berasal dari generasi yang jauh di atas saya, di mana nilai akademik adalah nilai penting dan tolak ukur kualitas si anak. Begitupun suami saya, Bapak dan Moms adalah orang yang begitu concern dengan pendidikan dan tolak ukur keberhasilan adalah mengawal anak-anak mereka masuk ke perguruan tinggi terbaik di negeri ini.

Hampir 3 dekade kami dibesarkan dengan cara seperti itu, berdecak kagum pada mereka yang bisa mendapatkan nilai bagus di rapot, ingin tau bagaimana mengatur waktu belajar.

buruknya,

kami pernah menganggap remeh orang-orang yang memilih untuk menggambar, menari dan bernyanyi. Hanya karena mereka tidak memiliki nilai super power di rapot.

Setelah memiliki anak, kami tersadar. Bahwa misi yang tidak mungkin untuk kami bisa membawanya persis seperti kami. Kiko, anak kami, kami menyebutnya anak yang ajaib. Ia pernah mengalami keterlambatan perkembangan motorik kasar karena ligament hiperlaxity, ia harus melewati fisioterapi untuk mengejar ketertinggalannya. Awalnya, dokter memprediksi bahwa fisioterapi bisa selesai dalam 6 bulan, tapi ya, Kiko selesai dalam waktu 3 bulan.

Sejak bayi, anak memiliki jalannya sendiri. Setiap anak tumbuh dengan polanya tersendiri, dengan kemampuan dan bakat yang berbeda. Kami percaya, hal itu akan ia bawa hingga ia duduk di usia sekolah kelak.

kami,

orang tuanya, mempersiapkan hati yang lebih lapang bila suatu hari nanti, Kiko akan tumbuh menjadi anak yang tidak terlalu cemerlang di ruang kelas. Bahwa nilai hidup sesungguhnya adalah ketika ia menekuni dengan baik hal yang ia pilih sendiri, secara sadar.

Tugas orang tua, yang perlahan kami sadari bukanlah bagaimana mencetak nilai baik di atas rapot, tapi bagaimana mengarahkan ia menemukan mana hal yang membuatnya bahagia dan berkembang di waktu yang sama. Mana yang membuat anak bekerja dan bersungguh-sungguh di satu bidang dan menjadi ekspertise di dalamnya.

Tugas orang tua jauh lebih berat dari menciptakan anak yang siap masuk sekolah unggulan, tapi ini tentang menciptakan generasi penerus Indonesia yang unggul di bidang yang ia pilih sendiri, secara sadar penuh, secara hadir utuh dan dengan tanggung jawab yang ia pikul sendiri.

Ya,

kami tidak punya hak apa-apa akan pilihannya kelak,

bahkan bila suatu hari anak-anak kami memilih dan buruknya, atas hal yang ia pilih ia harus sedikit mengorbankan nilai akademis,

Insya Allah, hati kami lapang untuk itu.

8 thoughts on “(Belajar) Melihat Anak Secara Utuh

  1. Loveeeee! Tulisannya bagus banget bu Dok. Saya ngalamin sendiri ortu ga mendukung pilihan saya dan lumayan bikin depresi, hehe. Tapi dari situ belajar, kelak saat jadi ortu saya harus lebih bijaksana. Keep writing ya bu Dok <3

  2. Teteeeh, bapakku hampir selalu menuntut anak-anaknya untuk unggul di akademik. Itu mungkin bagus ya teh, tp ketika adikku mungkin yg bakatnya bukan di akademis beliau justru tidak mendukung bakat yg lainnya 😐 bapakku harus baca tulisan teteh ini maaah 🙁

  3. Saya suka sekali dengan kata2 ini..”Tugas orang tua, yang perlahan kami sadari bukanlah bagaimana mencetak nilai baik di atas rapot, tapi bagaimana mengarahkan ia menemukan mana hal yang membuatnya bahagia dan berkembang di waktu yang sama. Mana yang membuat anak bekerja dan bersungguh-sungguh di satu bidang dan menjadi ekspertise di dalamnya.”..ijin share bole yaa..:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *