Tidak Ada yang Perlu Diperbandingkan

Dari cerita-cerita Ibu, Ayah saya itu adalah tipe laki-laki yang…. yaaa… Laki banget dan agak cenderung keras pada gender gitulah. Ayah, menurut cerita Ibu, hampir tidak pernah menggantikan popok anak-anaknya, memandikan mereka atau menyuapi makanan. Tugas Ayah sebagai bapak tidak lebih dari mengajak main kala sore hari, itupun tidak lama, karena kata Ibu, ketika kami sudah rewel Ayah akan langsung mengembalikannya ke Ibu.

Ya,
memang ayah saya seperti itu.
Ayah juga tidak suka berada di dapur,
tidak pernah sekalipun saya melihat Ayah membantu Ibu mencuci piring. Padahal sih saya yakin, 7 tahun kuliah di Jepang ditambah beberapa tahun kerja di Jerman dan Skotlandia pastilah Ayah biasa melakukan hal di dapur sendirian. Jadi, saya berkesimpulan bahwa Ayah memang tidak mau berada di dapur, bukan tidak bisa.
Ayah juga sangat jarang mengambil nasinya sendiri, ntah karena Ibu memang tipe yang sangat manut dan runut tak pernah nuntut pada suami, atau memang permintaan Ayah seperti itu, jujur saya kurang tau jelas, yang pasti apa yang dimakan Ayah selalu diambilkan oleh Ibu. Ayah ya tinggal makan saja.. Beres..
:))
Itu Ayah,
berbeda dengan suami saya.
Dari Kakak lahir, kami seperti memiliki peraturan tidak tertulis bahwa saat malam hari adalah saat “piket” Ajuno masalah pergantian popok. Apalagi, bulan pertama kelahiran bayi itu, bayi sering sekali buang air besar. Saat malam, suami saya dengan sabar dan telaten mengganti popok Kakak dan mengembalikannya ke tempat tidur.
Hal tersebut berlanjut hingga saat ini. Suami saya tidak keberatan masalah memandikan, memberikan ASIP, menidurkan Kakak hingga lelap dan menungguinya ataunya hanya sekedar menemani Kakak merangkak di lantai. Terlebih ketika saya harus jaga malam, praktis suami saya yang menggantikan posisi saya menjadi orang terdekat Kakak di rumah kan..
Suami saya juga tidak pernah keberatan mencuci piring, buatnya mencuci piring ya bagian dari pembagian tugas saja. Ketika saya sudah masak atau mengepel, maka tugasnya mencuci piring. Atau ketika saya mengambil alih bagian piring, maka tugasnya membersihkan meja atau menyetrika. 
Intinya sih, rumah tangga kami berdiri di atas kesetaraan gender. Artinya, kami tidak pernah memandang pekerjaan ini sebagai pekerjaan perempuan atau pekerjaan itu sebagai pekerjaan laki-laki. Karena tokh saya terbiasa ke bengkel sendiri, rakit dresser sendiri, mengganti bola lampu dan pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan laki-laki lainnya.
Lalu, mana yang lebih baik?
Ah, buat saya, 
tidak ada yang perlu diperbandingkan.
Ayah saya tetap laki-laki paling hebat dalam hidup saya, terlepas dari semua hal yang dilakukannya di rumah.
Suami sayapun bukan laki-laki tanpa cela, bila harus dijabarkan ya suami saya tak lepas dari perbuatan ngeselin yang membuat jidat saya berkerut saking herannya.
..
Intinya,
laki-laki memiliki sikapnya tersendiri menghadapi sesuatu. Laki-laki dewasa memiliki nilai yang dianut yang kadang, berbeda dengan nilai yang dianut perempuan. Laki-laki dewasa pasti tau benar apa yang dilakukannya, kita wanita ini yang sering ribet memperhatikan hal kecil yang justru menjadi bola api panas yang menyerang balik karena saking ribetnya dibahas.
Ya kaya uraian saya di atas ini,
terkadang perempuan terlalu repot membandingkan dan menjadi menyampingkan kenyataan bahwa laki-laki dan ego adalah sebuah kesatuan. Bahwa laki-laki memegang nilai yang terkadang berbeda dengan perempuan.
Bersyukur bila sedang segelombang,
tapi ketika sedang berbeda artinya kita disuruh menyamakan harmoni agar bebunyian berbeda tetap enak didengar.
Selamat saling mengerti. πŸ™‚

4 thoughts on “Tidak Ada yang Perlu Diperbandingkan

  1. Falla, boleh bagi di blog kamu mengenai ASIP yang kamu jalani dari Kak Kiko Lahir sampai sekarang? Pasti sangat helpfull buat calon ibu yang akan kembali bekerja setelah melahirkan. Thanks ya. πŸ™‚

  2. ini sama bngt ceritanya kyk kehidupan rumah tangga orang tuaku dan rumah tangga aku teh.. Suamiku walaupun sudah capek tapi tak pernah sungkan membantuku. Bahkan saat bayi kita rewel suamiku tak pernah takut untuk menenangkannya, saking telatennya bayiku lbh seneng dan dekat secara emosional dengan bapaknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *