Saya, yang tanpa rona menyala

Jika saya membicarakan tentang saya,
saya akan mendeskripsikan diri saya sebagai perempuan dengan tinggi 152 cm dan berat badan 53 kg. Atau mungkin, saya akan berkata bahwa saya adalah seorang Ibu dengan 1 anak laki-laki, atau saya akan berkata bahwa pekerjaan saya adalah seorang dokter.

Tapi mungkin, tidak bagi suami saya,
ketika dirinya mendeskripsikan saya,
mungkin yang terlintas dalam benaknya adalah sosok saya yang mengenakan boxer miliknya dipadukan dengan singlet longgar; dengan mata sayu terbangun di pagi hari untuk menyapanya ketika akan menjalani hari.

Ketika ia meminta saya menjadi bagian dirinya,
artinya ia meminta keseluruhan isi saya,
yang tanpa rona merah
yang tanpa pemulas bibir
yang tanpa tabir concealer.

Ia meminta saya yang telanjang, apa adanya.

Saya bersyukur, saya bisa menjadi diri saya apa adanya di depan dia.
Ia tak peduli akan apa yang saya kenakan ketika akan tidur. Ntah itu mengenakan daster lusuh, atau kaos belel. Atau ketika saya membuka baju ketika akan mandi.

Atau ketika saya memuntahkan makanan saya karena tidak enak badan.

Awalnya saya mengira, bahwa menjadi seorang istri adalah seni memanipulasi diri agar tetap terlihat menggairahkan bahkan ketika tidak sedang mengenakan rok pas badan dengan belahan dada rendah atau cutting belakang yang menunjukkan kulit.

Ternyata, bukan tentang itu,
menjadi istri adalah perasaan diterima sebagai manusia.

Sebuah penerimaan maha tinggi dari pasangan yang rela menikahi manusia yang membuang hajatnya, yang meluapkan emosinya dan meledak amarahnya hanya karena waktu makan terlewatkan.

Tulisan ini,
lagi-lagi untuk kamu.
Laki-laki yang tetap melihat saya sama dengan atau tanpa gincu,
dengan atau tanpa baju.

Tetaplah bersama, kamu.
Kita rayakan gurat yang perlahan timbul di muka,
karena menua bersamamu
adalah hal yang membuatku tetap merasa muda.

2 thoughts on “Saya, yang tanpa rona menyala

  1. Bagus banget teh tulisannya, apalagi kata-kata 'menjadi istri adalah perasaan diterima sebagai manusia' rasanya memang itulah anugrah yg paling indah bila ada seseorang yg mau menerima kita secara keseluruhan dan apa adanya tanpa syarat

  2. Menarik quotenya…..

    …”menjadi istri adalah perasaan diterima sebagai manusia.”

    Sangat mengena akan sekian banyak tulisan pendukungnya, ikut merasakan apa jadinya nanti jika saya memiliki pasangan hidup yang sangat kurindukan, untuk kulimpahkan semua hidupku bersama dia sang wanita idamanku di ujung sana.

    Mungkin, tidak peduli juga jika pasanganku tidurnya ngorok, bahkan pemalu, atau ukuran tubuh yang membesar dimana2. Jika memang aku telah mencintainya, maka akan kujaga selalu dan kurawat dengan segala usahaku untuk mencukupi kebutuhannya….

    Terima kasih atas inspirasinya…(“,)

    salam
    @yossie3660

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *