Merindukan Kesederhanaan

Beberapa minggu lalu,
entah karena PMS atau apa, saya bilang ke suami pokoknya hari itu saya mau makan Jeans Chili Chicken di Gandaria City,

lalu berangkatlah kami ke sana,
ndilalah,
di sana lagi ada Market Museum, semacam bazaar isi makanan dan fesyen terkini gitu. Target pasarnya sih anak muda, dari ABG sampai dewasa muda. Isi Market Museum ini mostly sih barang-barang yang dijual online gitulah.

..

Tiba-tiba ada segerombolan ABG, dedek gemes yang bawa-bawa minuman berwarna merah darah, okelah kalau cuma warna merah darah,
minuman tersebut dikemas dalam kantong donor darah. Dengan warna merah darah, tambah persislah kaya darah yang biasa saya resepkan pada pasien yang membutuhkan penambahan HB secara cepat.

ini bentuk kantong donor darah, nah darahnya itu adalah semacam minuman ntah isinya apa..

Ga selesai ketakjuban saya karena dedek gemes itu minum dari kantong darah, teman di sebelahnya ga kalah absurd. Dia minum dari….

botol dot bayi.

Iya,
botol dot bayi.

Bisa bayangin ada manusia usia usia dewasa minum dari botol dot?
Nah itu.

kurang lebih begini, isinya sih tampak seperti minuman rasa coklat., Ntah apa.

itu yang saya sebutkan di atas cuma 2 fenomena minuman atau makanan zaman sekarang. Ada juga trend makan dengan piring digantikan dengan talenan. Iya, talenan buat motong berbahan dasar kayu dijadikan alas makan. Banyak banget cafe di jakarta yang menggunakan talenan ini sebagai pengganti piring. Tampilannya? Cantik. Makannya? Repot. Karena talenan didesign lurus, jadi ketika makan, maka makanan akan berisiko tinggi untuk tumpah ke samping.

Gusti…

Oke, lalu saya pulang.
Lalu, saya mampir sebentar ke klinik teman saya di daerah Kemang. Bercengkrama dengan teman saya di parkiran motor, ditemani kopi  sachet dalam gelas beling. Sederhana, tanpa gelas berbentuk toples. Tanpa tampilan yang memiliki nilai posting Instagram yang tinggi. Hal yang sudah saya lakukan bertahun-tahun, tidak pernah tergerus zaman pun tidak pernah menjadi trend.

Hanya dengan 3 gelas kopi sachet yang dibeli di warung sederhana, kami bercerita mengenai banyak hal. Tentang karir, tentang anak, tentang rencana ke depan.

Sebuah obrolan yang tidak sama sekali saya abadikan di Instagram karena tampilannya yang usang, dengan harga 3000 rupiah. Kehangatan kopi sachet dalam gelas beling kecil adalah nilai kesederhanaan kultur Indonesia sebenar-benarnya. Kultur ngobrol dan kultur ngopi.

..

Ah,
saya memang sudah tua, karena saya sama sekali tidak tertarik beli minuman dalam kantong donor darah atau ngenyot botol dot lalu diunggah ke Instagram.

Kemewahan kita berbeda, Dek,
kemewahan saya adalah kesederhaan, yang hangatnya tercipta dari obrolan yang berisi ide juga gagasan, berisi hidup juga cita-cita.

Jadi bagaimana,
sudah mulai merindu kesederhanaan?

5 thoughts on “Merindukan Kesederhanaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *