Memuji Bukan Flirting

Siang ini, saya membaca beberapa tweet dari Mbak Dira Larasati mengenai kultur orang asing yang mudah memuji tanpa menjilat. Mbak Dira ini dulu sempat kuliah S2 di Korea dengan beragam teman dan background budaya, salah satunya ya kultur memuji ini.

Di Indonesia, lucunya, memuji dianggap flirting atau menjilat. Atau memang demikian adanya, sayapun kurang mengetahui pasti.

Tapi pernah suatu hari, saya berkenalan dengan seorang pria yang memiliki gaya unik dan cenderung selera saya. Muka mas-nya bersih sekali, lalu dengan tulus saya bilang padanya “Mas, mukanya bersih sekali…” Masnya hanya tersipu malu dan tertawa. Kemudian kami berpisah untuk menuju aktivitas masing-masin

Sore harinya, saya bertemu lagi dengan si mas itu,
karena kami sudah bersiap pulang, si Mas membawa tas coklat berbahan dasar kulit; berbentuk kotak klasik.
Lalu, lagi-lagi dengan senyum lebar, saya bilang kepadanya
“Mas, tasnya bagus sekali. Beli di mana?”
Si mas menunjukkan wajah keheranan, lalu bertanya pada saya
“Kenapa sih daritadi muji?”

Saya yang awalnya biasa saja, jadi tidak enak juga, karena kultur memuji memang tidak sekental di negara lain.
Saya bilang pada masnya dengan tulus
“Hahaha, ketika saya muji, artinya ya saya memang suka. Bukan karena basa-basi atau apa sih. Hahaha. Simply memang saya kagum saja.”

Lalu kami berdua mulai tertawa dengan suasana yang lebih cair.

Kultur memuji,
mungkin tampak aneh atau seperti menjilat,
tapi memang harus diakui, banyak sekali orang Indonesia ini yang memuji untuk mencari muka. Sering lihat kan foto selfie yang sebenarnya biasa saja tapi dipujinya berlebihan?
Nah..

Saya memang terlahir dari keluarga yang ringan memuji, bukan memuji untuk melebih-lebihkan tapi sebagai apresiasi terhadap pencapaian yang memang seharusnya mendapatkan pujian. Ibu saya tidak segan memuji penampilan saya, nilai di rapor saya atau penampilan saya di atas panggung,

Lalu,
saya dapat suami juga dari kultur keluarga penuh pujian. Keluarga suami saya malah jauh lebih sering melontarkan pujian dibanding keluarga saya. Sesimpel rambut baru, atau kacamata baru atau apa saja diapresiasi dengan sewajarnya oleh mereka.

Kalimat seperti “Btw, I love your makeup..” atau “Your black dress looks good on you.” sering sekali terlontar dari mulut suami saya. Awalnyapun sempat saya mengira bahwa yang dilontarkannya basa basi, bayangkan saja dia sudah memuji penampilan ketika pertama kali jalan kok. :)))

Tapi, lama kelamaan saya sadar,
pujian yang biasa kami lontarkan memang bukan bentuk jilatan melainkan bentuk apresiasi. Lagipula, siapa juga yang tidak happy ketika apa yang dilakukannya mendapatkan minat di hati orang-orang terkasih?

Selama niatnya memang baik dan yang terpenting karena kita memang menyukai sesuatu,
memuji tidak ada salahnya kok.

πŸ™‚

2 thoughts on “Memuji Bukan Flirting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *