“Emang hidup lo dah selesai, Nong?”

Jadi, karena tadi saya nulis blog yang berjudul “ya biarkan saja”, saya jadi teringat pembicaraan saya sekitar beberapa tahun lalu dengan Kambing.

Saat itu, Kambing udah di negara nun jauh di sana, mengejar cita-citanya untuk selesai kuliah S2 lalu cari kerja di sana dan pulang ketika gelar doktor udah diraih. Kambing ini agak-agak kaget gitu waktu saya bilang saya mau nikah sama pacar saya saat itu, yang sekarang jelas udah jadi suami saya. Pertanyaannya dia yang pertama itu kurang lebih..

“Emang hidup lo udah selesai, Nong?” (jidat saya jenong, red)

Waktu itu sih seingat saya, saya cuma nanggepinnya dengan santai aja, ga terlalu panjang karena saya lebih tertarik menceritakan tentang sosok si pacar, saya ga sempet mikir apa-apa. Tapi malam ini, seakan pertanyaannya kembali bergema di kepala, dan saya merasa tampaknya tulisan ini harus segera dieksekusi nih daripada meluap lagi kaya ide tulisan yang udah-udah.

Hidup saya udah selesai?
Belom. Jelas banget belom.
Ketika menikah bahkan status saya masih dokter baru lulussss yang bahkan sumpah dokter saja belom. Boro-boro lagi ambil spesialis atau gelar master. Lulus aja baru kok.
Ketika menikah, saya belom bepergian ke manapun di dunia ini — yang menurut beragam artikel, katanya sih, bepergianlah keliling dunia sebelum menikah. Saya boro-boro keliling dunia, ke Bali aja ga ada setahun sekali.
Saat itu, mimpisaya belum semua tercapai, okelah ada 1 novel terbit, tapi deretan mimpi liar masih menari-nari di kepala.

Jelas hidup saya belom selesai, tapi tokh saya tetap menerima ajakan gila pacar saya untuk menikah, di usia yang cukup muda, dan dengan kenekatan level bungee jumping tanpa tali.
.
.
ketika memutuskan menikah saya sama sekali tidak memikirkan milestone dalam hidup, sayapun tidak pernah menetapkan target harus checklist apa dulu sebelum akhirnya menikah. Artinya, saya menempatkan pernikahan ya sebagai fase dalam hidup, bukan sebagai tujuan maupun akhir dari perjalanan.

Saya menganggap semua mimpi saya tidak akan terganggu akan hadirnya suami, saya berpikir ketika itu masa depan saya — terlebih mimpi saya — tidak akan terkatung-katung hanya karena saya menikah.
Buat saya, pernikahan bukan sebuah pegnghalang saya untuk melanjutkan sekolah, untuk bisa keliling dunia, untuk bisa membangun karir.

Pernikahan kan bukan akhir dari perjalanan, tapi hanya sebuah fase dan perubahan kehidupan. Seharusnya sih tidak ada hubungannya mengenai hidup yang telah selesai atau belum ya. Untuk saya, mempunyai cheerleader yang standby 24 jam tanpa lelah dan seorang yang tak berhenti menjadi motivator malah membuat saya semakin yakin bahwa mimpi-mimpi saya yang memang tersusun rapi sebelum saya menikah memang layak diperjuangkan.

Saya sih selalu percaya, pasangan yang baik akan menghormati mimpi-mimpimu, sekonyol apapun itu. Jadi ya, selamat bermimpi dan menghadapi fase baru kehidupan. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *