Menjadi Ibu yang Belajar

Saat hamil, saya pernah melontarkan pertanyaan di timeline mengenai buku apa yang bagus untuk mendalami tentang parenting, jawaban yang saya dapatkan bermacam-macam. Banyak yang membantu, tak sedikit yang kurang memberikan info. Namun yang menjadi catatan saya adalah ada seorang Ibu yang memiliki anak kurang lebih usia 3 tahun yang berkata

“Ngapain sih baca buku? Jadi ibu itu ga usah pake teori, nanti bisa sendiri kok..”
Tweet ibu tersebut tidak berhenti sampai di situ, ia malah memention saya terus menerus yang garis besar isinya adalah jadi ibu ga usah kebanyakan teori, jadi ibu ga usah banyak belajar dari artikel atau ibu karena pada dasarnya jadi ibu itu naluri. Intinya, nanti juga bisa sendiri, kalau kebanyakan teori malah jadinya ribet.

Lho kok gitu?

Sebetulnya sih jempol udah ingin banget bales mention, tapi untung suami menahan dengan dalih yaa namanya juga orang, pasti beda-beda prinsip.

Jauh sebelum Kakak lahir, selain menyiapkan keperluan Kakak, saya juga menyiapkan ‘isi kepala’ saya dengan ilmu yang saya dapat dari manapun; buku, internet, obrolan dengan kawan, dokter, bidan, psikolog, perawat, orang tua. Semua informasi tersebut saya saring, saya pilah yang sekiranya sesuai dengan hati saya.

Saya belajar bagaimana perilaku bayi, bagaimana ini, bagaimana itu. Hampir semua hal yang menarik diri saya, saya cari literaturnya. Saya pelajari, kadang saya ceritakan kembali ke suami apabila ilmu yang saya dapat itu menarik untuk dibahas.

Singkatnya, saya memang memenuhi kepala saya dengan beragam teori mendidik dan mengasuh anak.

29 Desember 2014
Kakak lahir.
Apakah ilmu yang saya baca berguna? Iya. Sangat.
Apakah saya praktikkan dalam cara saya mengasuh anak? Tidak semua.

Pada akhirnya memang benar kata orang, menjadi ibu adalah instinct, menjadi ibu adalah sebuah naluri alamiah. Hubungan yang kian lama kian mesra ke anak membuat saya mengetahui mana ilmu yang bisa saya pergunakan ke Kakak, mana yang tidak.

Dalam membesarkan anak, teori yang sudah saya pelajari susah-susah itu pada akhirnya akan menjadi fleksibel sesuai kebutuhan. Kadang sesuai dengan teori yang dikemukakan buku parenting, kadang sedikit melenceng, kadang malah tidak sesuai sama sekali. Tapi saya sebagai seorang ibu tidak pernah menyesal mengenai semua ilmu yang ada di kepala ini.

Dunia pengasuhan anak memang sudah berlangsung semenjak Adam dan Hawa diciptakan, artinya tokh orang-orang tua sesepuh kita berhasil aja tuh mendidik anak-anaknya dengan baik walau tanpa buku dan ilmu memadai. Lalu, apa gunanya dong belajar lagi?

Buat saya, walau pengasuhan anak sudah berlangsung sedemikian panjangnya tapi dunia kesehatan dan dunia pendidikan selalu berkembang. Itulah mengapa (untuk saya) seorang Ibu harus tetap belajar. Misalkan, beberapa tahun lalu ASI tidak populer, justru lebih populer susu formula yang mencerminkan status sosial, tapi berbekal penelitian para ahli, ASI menjadi minuman wajib bagi bayi dan susu formula hanya bisa diminum atas perintah dokter. Tuh, ilmu berkembang kan? Bayangkan kalau ada ibu yang malas belajar dan cuek aja kasih susu formula ke anaknya yang baru lahir, kan nutrisi yang didapat tidak maksimal.

Atau sesimpel pemberian makan pada bayi. Zaman dahulu kala, atau mungkin kita yang sedang membaca blog ini, bayi-bayi piyik sudah diberi makan dan minuman selain susu. Tapi ilmu berkembang, penelitian terus dilakukan dan didapatkan konsensus bahwa waktu paling ideal untuk memberikan makanan padat selain susu adalah saat bayi berusia 6 bulan. Simpel kan? tapi bila ibu tidak mau belajar, maka ibu itu akan dianggap sebagai ilmu kurang sayang anak karena membahayakan nyawa si anak itu sendiri.

Sekarang mengenai cara pemberian makan. Dulu makanan pertama bayi mungkin bisa langsung nasi, tapi sekarang semua ada tahapannya. Ya masuk sereal dulu, sayuran lembek dsb. Ada cara pemberian makan BLW, ada cara pemberian makan dengan cara disuapi dsb. Ya itulah perkembangan ilmu.

Penelitian yang terus berjalan bisa saja akan berbeda di generasi anak cucu kita. Cara mengasuh yang hari ini kita anggap benar mungkin bisa dianggap salah nantinya seiring penelitian yang terus berjalan.

Tapi apapun yang terjadi, jangan pernah berhenti belajar karena ilmu itu sifatnya dinamis. Setiap tahunnya pasti ada ilmu baru dan ilmu lama sudah tidak terpakai lagi.

Abaikan saja mereka yang menyuruhmu berhenti belajar, atau sok pintar karena haus akan teori….

Karena saya percaya,
menjadi seorang ibu memang yang dibutuhkan adalah naluri, tapi naluri akan semakin tajam bila sebelumnya kepala sudah penuh dengan ilmu.

..

One thought on “Menjadi Ibu yang Belajar

  1. Saya orang kampung mpung mpung teh, saking kampungnya, stlh kenal internet, saya pakai buat byk belajar. Saya tau BLW dr internet. Anak saya? Sudah tak pernah menyuapi sejak 1 th. Kecuali saya yg selo dan kangen pengen nyuapi. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *