Dia yang Begitu Mengerti

Tidak banyak orang yang mampu bertahan bertahun-tahun dengan perempuan itu, dengan segala keribetan juga keanehannya. Tak sedikit pula yang berusaha mendekatinya lalu kabur tanpa basa basi, ada juga yang langsung tak mau ketika dikenalkan oleh sahabatnya sendiri.

Perempuan itu saya.

Mantan pacar saya tidak banyak, hanya 1 yang menyentuh tahunan, sisanya tak lebih dari 6 bulan. Hampir semua bubar jalan karena tidak mendapat kecocokan, sisanya karena saya tak bisa memegang janji untuk setia. Sebutlah begitu.

Saya bukan perempuan yang memiliki ciri khas, saya cenderung biasa saja, hanya mood saya sering berubah. Saya bisa berminggu-minggu tidak keluar rumah tapi di lain waktu bisa setiap hari ingin mencari hiburan di luar. Saya bisa sangat menyenangi sesuatu hingga larut di dalamnya, lalu ku tinggalkan dengan alasan bosan. Hanya satu yang bisa membuat saya tenggelam tanpa terbenam, menulis. Saya menulis apa saja, di mana saja. Di kertas, di komputer, di tisu, di kaca mobil. Pagi, siang, malam, shubuh. Ketika bosan, ketika senang, ketika marah, ketika sedih. Di buku tulis, di twitter, di blog, di path.

Ketika teman-teman kampus saya sibuk memperjuangkan nama almamater dan belajar mendapat nilai terbaik, saya malah memilih untuk sibuk menjadi volunteer di acara musik, menjadi kontributor di majalah lifestyle. Teman saya memang banyak, tapi sahabat saya tidak. Selama hidup saya hanya memiliki kurang dari 10 orang teman yang saya anggap sebagai sahabat sejati, sisanya adalah teman dekat atau teman, bahkan hanya sekedar kenalan. Ya karena itu tadi, tidak banyak yang mampu menerima diri saya yang kadang menyebalkan ketika sedang dinamis menghadapi suatu hal. Ketika mengutarakan mau, atau ketika tidak suka akan sesuatu.

Hingga suatu hari datanglah dirinya,
seorang yang menjabat tangan saya di ruang poli penyakit dalam, seorang yang hari ini menjadi bapak dari anak laki-laki saya,
mungkin di antara banyak orang di lingkungan saya berpikir, mengapa dirinya mengorbankan segalanya untuk bersama saya.
Atau mungkin, ada juga yang bertanya, mengapa saya berkata ya pada ajakannya berjuang bersama hingga mati.

Ini jawaban saya.
Dia adalah orang yang paling mengerti mengenai minat saya. Walau saya adalah seorang dokter, tapi saya sama sekali tidak memiliki keinginan kerja di ruang gawat darurat. Saya tidak suka suasana IGD, di sana semua orang bermuka panik, banyak yang memuka memohon untuk diselamatkan nyawa anggota keluarganya, tidak sedikit yang marah-marah karena prosedural rumah sakit. Intinya, saya tidak suka bekerja di ruangan itu. Dia mengerti, dia bilang, menjadi dokter itu panggilan begitupun dengan dokter yang kerja di IGD, itupun panggilan. Dokter yang tidak mau kerja di IGD bukan berarti ia tak mau menyelamatkan nyawa orang, tapi mereka bekerja untuk kesehatan dari sisi lain.
Itu pertama kalinya saya merasa sangat diterima. Karena sejauh itu, hanya ia yang mengerti mau saya.

Dia tidak pernah protes mengenai hobi menulis saya. Ia menganggap ratusan ribu tweet yang sudah tertulis adalah limbah hobi saya. Bukan untuk mencari perhatian atau sebagai budak internet. Ia mengerti dan sadar hidupnya harus sedikit banyak terkespos karena saya senang menulis tentang dirinya di blog ini. Ia selalu bertanya kapan saya akan menulis novel baru, membantu saya membuat riset, mencarikan nama untuk tokoh dalam tulisan saya. Untuk pertama kalinya saya merasa hebat hanya karena kemampuan saya menulis. Seumur hidup saya menganggap diri saya bodoh karena lemah di akademis ilmu pasti, saya tidak pandai matematika, saya tidak bisa fisika. Dua puluh tahun lebih saya berada dalam pikiran bahwa saya tidak pintar, hingga ia datang dan menyadarkan bahwa manusia memiliki keperkasaannya masing-masing, dan cara saya merangkai aksara adalah kemampuan yang bisa disandingkan dengan kemampuan dirinya mengerjakan soal olimpiade fisika.  Ia bukan sekedar menjadi pengikut, tapi ia berusaha menikmati apa yang saya senangi. Ia temani saya menulis, ia ajari saya menggambar. Ia berusaha cari tau apa novel yang saya suka, ia membaca hasil karya saya.

Dia bisa mengikuti ritme hidup saya yang berubah-ubah. Ada masanya saya senang sekali pergi dari bar ke bar, lalu seketika saya bosan dan hanya ingin di rumah saja berminggu-minggu. Ada kalanya saya mau terus ke mall untuk mencari hiburan, lalu beberapa hari kemudian saya malas sekali ke mall dan hanya ingin duduk di kedai kopi sepi menikmati sunyi. Keberadaannya membuat saya menikmati setiap waktu, walau kadang saya juga harus mengalah untuk mengantarkannya ke bengkel atau mengisi waktu di kedai kopi sunyi ketika saya ingin ke mall yang ramai. Ia menyeimbangkan saya dengan mengikuti ritme hidup saya.

Dia tak pernah menganggap saya lemah walau saya tidak bisa membaca peta. Dengan sabar ia mengetik petunjuk belokan demi belokan. Saya beritau sesuatu, dia adalah orang, selain kakak kandung saya yang bisa menjelaskan saya tentang jalan. Kemampuan ruang yang lemah tak pernah ia masalahkan, sabarnya memberi penjelasan membuat saya merasa diterima kekurangannya. Perempuan tak bisa membaca peta? Itu saya. Dan ia mengerti bahwa saya tidak bisa membaca peta, maka ia bantu saya dengan urutan belok yang detail. Ia menyempurnakan saya.

Dia tidak terganggu dengan penampilan saya. Ia tidak pernah protes tentang sepatu boots saya, atau celana jeans sobek, atau tentang flanel kebesaran atau mengenai fedora berwarna merah terang. Ia santai menanggapi saya yang memakai lipstik warna merah menyala, ungu tua atau nude dengan efek muka saya yang seperti pasien anemia. Ketika laki-laki lain mendamba rambut wanita yang panjang terurai, dia tidak pernah sekalipun untuk meminta saya memiliki jenis rambut seperti itu. Rambut pendek saya ia hargai, ia anggap sebagai jati diri.

..

Dia.
Dia yang menerima kurang saya, dia yang tak pernah lelah akan mau saya, dia yang selalu ada ketika saya jatuh dan hampir terluka.

Dia.
Dia yang berusaha menyeimbangkan langkah saya, walau terkadang mundur beberapa langkah untuk berlari lebih jauh. Dia yang menanggapi setiap ide saya, dia yang mendengarkan setiap pengetahuan yang baru saya terima.

Dia.
Dia yang merentangkan kembali sayap saya yang telah patah karena sempat tak percaya cinta, dia yang membangunkan saya bahwa hidup itu jauh lebih indah dari mimpi.

..

Hari ini, kami sudah memiliki seorang anak laki-laki yang sungguh priyayi. Tapi lucunya saya masih sangat bersyukur dimiliki,

dan memiliki mereka.

🙂

6 thoughts on “Dia yang Begitu Mengerti

  1. Selamat malam
    terimakasih mbak fala, karena membaca postingan ini membuat saya sadar betapa berharganya orang yg ada di samping saya yg bisa menerima semua kekurangan saya dan beruntungnya saya terpilih dari ribuan bahkan jutaan wanita di dunia ini.
    membaca tulisan mbak fala membuat saya tanpa sadar meneteskan air mata bahagia, bersyukur. saya ucapkan berjuta juta terimakasih tulisan ini begitu menyentuh hati saya.

  2. teteeeeh, grauk!

    ini bikin merinding ih bacanyaaa :')

    sama teh, aku juga ngga bisa baca peta… boro2 peta, utara selatan timur barat aja ngga tau gmana bedainnya :DDD

    kalo kata suamiku "selama kamu menjadi dirimu, aku suka kamu ko" :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *