3 Bulan Menjadi Pejuang ASI

Minggu pertama Kakak lahir sungguh minggu yang paling berat di hidup saya, dan hal paling berat itu datang ketika waktu menyusui tiba. Puting saya luka lebar, darah ke mana-mana. Kaki merejang hebat ketika tiba waktu menyusui. Air mata rasanya sudah tidak tahan. Saya hampir menyerah, beberapa kali terlintas untuk pergi diam-diam membeli susu formula tanpa sepengetahuan suami saya yang memang sangat pro ASI. Sakit sekali rasanya.

Lalu saya mulai membuka artikel ilmiah mengenai proses menyusui, apakah memang sesakit itu awalnya, karena orang di sekitar saya pasti memberikan saran untuk sabar. Tapi naluri keibuan saya berkata lain, ini pasti ada yang salah. Berat Kakak saat itu terus turun, ia selalu tampak kehausan dan terus menangis. Pada artikel tersebut tertulis proses menyusui adalah proses yang indah dan tanpa rasa sakit. Nah kan benar dugaan saya, ada yang salah dengan proses menyusui saya.

Lalu saya memutuskan untuk konsul ke bagian laktasi Kemang Medical Care dan benar saja, Kakak tongue tie dan lip tie. Setelah menjalani insisi proses menyusui merupakan waktu yang selalu saya tunggu dan tunggu.

Ada bayi dalam pelukan saya, saya bisa puas melihat wajahnya, membelai badannya. Ia menempel pada tubuh saya dan tumbuh besar karena nutrisi langsung dari badan saya. Ada seorang anak yang menggantungkan hampir keseluruhan hidupnya dari payudara saya, dari ASI saya. Benar kata artikel itu, menyusui adalah proses yang begitu indah.

Niat memberikan susu formula pun saya buang jauh-jauh.

Masa cuti saya sudah tinggal 1.5 bulan lagi, dan ketika saya bercerita pada kerabat mengenai hal tersebut reaksi pertama mereka pasti

“Lho, nanti ASInya gimana?”
dan ketika saya jawab bahwa saya akan memerah ASI saya, jawaban mereka selalu..
“Repot amat. beli sufor aja. Praktis. Atau kasih makan, biar kenyang, anaknya ga rewel..”

“Nggih..”
Apa sih yang bisa dilakukan saya selain mengangguk dan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan itu. Memang, ketika itu rasanya pesimis luar biasa bisa memberikan ASIP memadai untuk Kakak. Payudara saya seperti musuhan dengan pompa ASI. Sekali pompa saya hanya bisa dapat 20-30 CC.

Lagi-lagi saya hampir menyerah. ASI saya susah sekali dipompa. Tapi bayangan susu formula sungguh saya benci, saya tidak bisa membayangkan Kakak minum susu formula, tanpa kolostrum tanpa immunoglobulin.

Tidak.. Tidak..

Bayangan susu formula yang kerap menghantui justru menjadi semacam pecut untuk diri saya. Tanpa kenal lelah, saya terus memompa ASI saya, sedikit sedikit lalu penuh sebotol, lalu saya letakkan di freezer. Begitu terus. Begitu terus. Setiap hari 1 botol.

Lama kelamaan, yang dipompa bisa banyak. Bisa 50cc. Artinya hanya dibutuhkan 2x pompa untuk bisa memenuhi 1 botol kaca. Akhirnya dalam sehari saya bisa dapat 2 botol kaca. Kadang 2.5 botol kaca jika malam hari saya tidak terlalu mengantuk.

Sabar dan ngotot.
Mungkin hanya itu bekal saya, perlahan persediaan ASIP saya di freezer mulai banyak. Saking senangnya, saya sering bolak balik kulkas hanya untuk melihat koleksi ASIP saya itu, dan setiap melihat jejeran botol ASIP itu hati seperti tenang dan bahagia.

Saya terus pompa untuk memenuhi setiap sudut freezer kulkas. Hingga lama-lama kulkas rumah penuh dan saya memutuskan untuk menyewa freezer ASI.

:”)

*terharu*
Dalam 1.5 bulan saya bisa mengumpulkan lebih dari 100 botol ASI, dari saya yang sekali pompa hanya bisa 50-100cc. :”) :”)

Sekarang saya sudah mulai masuk ke Rumah sakit lagi. Kerja lagi. Nolong orang lain lagi. Dengan stok ASI sebanyak itu, setidaknya kebutuhan Kak Kiko akan terus terpenuhi. Di rumah sakit, saya sempatkan untuk pumping 3x. Dan tebak? Sekali pumping saya udah bisa dapat 200 cc.

:”)

Rasanya luar biasa.
Menyusui memang salah satu pengalaman terindah dalam hidup saya dan menjadi mama perah jelas adalah sebuah hal yang bisa saya ceritakan dengan bangga kelak. Di tengah sibuknya, di tengah deraian imingan susu formula saya mampu bertahan untuk terus memberikan Kakak ASI.

ini cadangan ASI saya di freezer dan ada sekitar 20 botol ASI segar di kulkas biasa untuk diminum Kakak

Dan untuk suamiku sayang, cintanya aku, romonya anakku…

Terima kasih atas semua semangat ketika aku lelah, ketika aku hampir menyerah. You are the best daddy in the world. Terima kasih atas bangun malamnya, atas segelas air dingin di gelas besar ketika selesai menyusui. Untuk obrolan dalam kantuk-kantuk ketika menemani Kakak memasukkan nutrisi dalam tubuhnya. Untuk semua semangat dan keyakinan bahwa aku adalah Ibu yang hebat, yang mampu menyelesaikan tugas untuk memberikan ASI eksklusif ke kakak.

tanpa kamu,
susu formula itu mungkin sudah terbuka.

5 thoughts on “3 Bulan Menjadi Pejuang ASI

  1. Bun sharring dong, saya mengalami hal yg sama seperti Bunda, PD saya klo diperah cuma dpt 30 ml aja, gmn cara bagi waktunya kapan memerah dan kapan harus menyusui langsung? , krn 1 bln lg saya jg hrus kerja, hasil pompaan cm dpt 4 botol aja…

  2. saya udah 2 bln mnjadi ibu,tapi asi saya tidak lancar sedikit.jadi nya anak saya di kasih susu pormula,tpi setiap kali sering d susuin nmun tetep aja sdikit udh berbagai cara juga.apakah sudah 2 bln asi tidak lancar bisa banyak? bgaimna caranya?

    1. Kayaknya kits snasib bun…. Sy Sudan 3 bln brusaha Pompa to hasil msh sama per pumping cuma DPT kurleb 30 ml sj… Sy sudag mnyerah pumping… Krn tmpt pumping di tempat kerja jauh n hasil yg cuma sdikit sy JD males pumping… Tmbahin sufor aj…

      1. Sama bun. Tp suatu ketika.sy coba perah dengan tangan sendiri.. hasilnya beda lho bun.. setelah sy observasi… hasil dr pumping tidak sekuat perahan pakai tangan bunn… semangat terus buat kasih asi y bunn..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *