Bramastha Nemanja Senna Hadinoto

“Eh kok bayinya cenderung ga membesar dan ketubannya sedikit nih, Falla? Kenapa ya, jangan-jangan penurunan fungsi plasenta? Konsul dr. Yuditia di bagian Fetomaternal RSCM ya..”

Siang itu, harusnya kontrol kehamilan seperti biasanya, di usia kehamilan 34 minggu, tapi dr. Iko memberitakan hal yang membuatku dan suami lumayan deg-degan. Aku diresepkan 2 ampul pematang paru, kalau-kalau Kakak harus dilahirkan prematur. Duh…

Senin, aku konsul ke dr. Yuditia, spesialis kandungan fetomaternal di RSCM Kencana lantai 5, dari hasil USG 4D Fetomaternal, didapatkan janin kecil (small baby)  di persentil 30. Sebenarnya, ukuran Kakak masih normal, tapi hanya di persentil 30. Jumlah air ketuban juga dinyatakan sedikit kurang, namun menurut dr. Yuditia, kehamilan masih dapat dipertahankan dan dipantau dari minggu ke minggu.

Minggu 35, janin masih kecil, ketuban masih kurang. Lagi-lagi konsul fetomaternal. Fungsi plasenta ada penurunan, tapi masih bisa ditahan. Aku dan suami berdoa, semoga masih bisa ditahan setidaknya hingga minggu 37, itupun berdoa lebih kencang supaya bisa lahir di waktu yang seharusnya.

Minggu 36 berlanjut minggu 37, lagi-lagi janin masih di persentil 30, air ketuban masih kurang. Kembali konsul fetomaternal, hasil masih sama.

Dokter Iko memutuskan untuk menterminasi kehamilan tepat di minggu 38, atau 1 minggu setelah fetomaternal terakhir karena dikhawatirkan fungsi plasenta yang terus menurun dan Kakak yang terlilit tali pusar 2x.
Kami pasrah.

Rencana operasi sesar dijadwalkan Senin, 29 Desember 2014 pukul 7 malam, kami sudah harus masuk rumah sakit untuk konsul anak hari Minggu 28 Desember 2014 pukul 9 malam.

yang nganter aja rame bener 😐 ada Mbah Uyutnya langsung dateng dari Semarang

lagi CTG

Senin, 29 Desember 2014

Hari H operasi, karena jadwal operasiku malam, paginya aku masih “bandel” jalan-jalan cari sarapan. Aku jalan kaki dari RSCM Kencana menuju ke RSCM Mata Kirana untuk makan soto. :)) Jam 12 siang, udah harus puasa makan, yang boleh masuk hanya air putih dan jam 5 sore harus puasa total.

baru selesai pasang infus

 Pasang infus untuk dimasukkan profilaksis, isinya gentamycin. Aku ada riwayat alergi, maka dilakukan slow drip agar apabila alergi maka reaksi yang ditimbulkannya pelan-pelan dan mudah diberhentikan. Tapi mudah-mudahan reaksi alerginya tidak muncul.

editan Aa, resek.
mau berangkat ke ruang operasi!

18:00 Berangkat ke ruang operasi dan dilakukan persiapan

sudah di ruang transisi operasi, Aa udah ganti baju untuk ikut nemenin di dalam

masih bisa selfie, padahal yaa degdegan

Momi numpang narsis

18:30 masuk ruang operasi mayor.

udah dalam keadaan terbius

Operator operasinya dipegang langsung oleh dr. Budi Wiweko, Sp.OG (k), dengan didampingi 1 dokter anestesi, 2 dokter spesialis kandungan muda sebagai asisten operasi dan 1 dokter spesialis anak sebagai “penangkap bayi” untuk resusitasi.

Operasi dimulai dengan laporan operator mengenai nama pasien dan tindakan apa yang akan dilakukan, lalu berdoa bersama. Sayatan yang dilakukan adalah sayatan melintang supra pubik minimal, atau hanya seukuran diameter kepala bayi dengan pengeluaran bayi melalui tarikan forcep (tang).

Operasi berjalan sesuai rencana, hingga..

“A, kok telingaku gatel? Garukin.. Kepala juga gatel, garukin..”
*Aa garukin*

..

Sayatan sudah mulai terbuka dan siap mengeluarkan kepala bayi.. Daerah kepalaku masih gatal.

Dokter Iko : “Bantu dorong ya, Dok..”
Dokter anestesi : “Siap, Dok..” … “Sudah, Dok.. Tapi belum keluar bayinya, Dok..”
Dokter Iko : “Dorong lagi, Dok!”
Dokter Anestesi : “Belom bisa, Dok.. Besar juga bayinya sampe keras gini…”

Aku : …
Suami : *bantu ikutan dorong* “Dikit lagi, Dik.. kepalanya udah mulai keliatan..” Suara Aa udah mulai bergetar.
Aku : “A, badanku makin gatel..”
Suami : “Sabar, Dik.. Sebentar lagi..”

Dokter Anestesi : “Sip, Dok…”
Dokter Iko : “Oalah… lilitan tali pusarnya yang bikin susah..”

Lalu tangis pertama itu terdengar, seiring dengan air mataku dan suami yang ikut mengalir.

Tangisan pertama yang hanya bisa ku dengar karena Kakak masih diresusitasi oleh dokter anak, tangisan pertama yang menandakan perjalanan baru kami menjadi orang tua. Penanda bahwa tanggung jawab kami semakin berat, sebuah kebahagiaan melimpah ruah karena kehamilanku yang terbilang  berat akhirnya lewat juga.

Pukul, 19:10, hanya sekitar 6 menit dari sayatan pertama di perut, Kakak keluar. Iya, hanya 6 menit. Tapi rasanya lama sekali, ditambah proses yang agak macet karena terlilit tali pusar, tapi semua terbayar ketika untuk pertama kalinya aku melihat wajah putraku, anak laki-laki darah dagingku yang nantinya akan menjadi penjaga tuaku, cah lanang jagoanku.

Ia tertidur, tampak nyenyak, dengan muka sedikit pucat tampak kedinginan. Disandingkan di samping mukaku dan ciuman pertama itu mendarat di pipi lembutnya. Mohon maaf pada wanita yang nantinya mendampingi anakku saat ia dewasa, karena ciuman pertama hidupnya hanya dariku, Ibunya..

Air mataku mengalir, deras. Tapi senyumku lebar nyaris tertawa terbahak. Anak laki-lakiku terlahir sempurna ke dunia. Jemarinya lengkap, tangisnya keras. Aku merasa sempurna..

Sudah mendengar tangis pertama Kakak, tapi Kakak masih diresusitasi
banjir air mata
setelah ciuman pertama

Setelah ciuman pertama itu, Kakak harus segera dinaikkan ke ruang transisi bayi karena suhu badannya hanya 35.5, terlalu berisiko bila harus dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD), jadwal operasi malam memang membuat ruangan operasi jadi super dingin, bahkan aku harus diberikan blower hangat tambahan agar tidak hipothermia. Bahkan dokter spesialis di dalampun beberapa kali mengeluh mengenai AC yang super dingin.

Sekitar 19:30, operasi selesai, luka sudah dijahit dan ditutup perban, aku dialihkan ke ruang recovery. Kakak sudah berada di ruang bayi. Bergantian keluargaku melihatku sembari menunjukkan padaku foto Kakak yang diambil dari ruang bayi.

Tak lama..
“Aa, badanku makin gatel. Ini sih reaksi alergi ini.. Bukan gatel biasa..”

Ternyata gatal yang ku rasakan selama operasi adalah gatal alergi gentamycin yang diinfuskan padaku untuk profilaksis, badanku mulai memerah, bentol dan semakin gatal. Setelah konsul anestesi, dokter anestesi memberikanku obat penghambat alergi yang berefek kantuk padaku. Aku kemudian tertidur, dan terbangun sudah di kamar.

:)

Kakak sedang diadzankan Romo :”)
Kakak sudah di kamar rawat, tapi aku masih teler :))

..

Hari itu, Senin 29 Desember 2014, pukul 19:10, anak laki-laki kami lahir dengan selamat sempurna, Bramastha Nemanja Senna Hadinoto dengan panjang 49 cm dan berat 2595 gram. Hari yang kami tunggu, hari yang kami selalu pinta dalam doa.

Alhamdulillahirabbilalaamin. Terima kasih telah melengkapi hidup kami, Kak Kiko… Jangan bersedih ya, karena kamu adalah doa yang terkabulkan.

Cium sayang,
Ibu dan Romo dan semua yang menyayangi Kakak. :)

8 thoughts on “Bramastha Nemanja Senna Hadinoto

  1. semua cerita teteh punya "nyawa". membuat otang yg baca ikut merasakan. dan pas baca ini, aku nangis teeehh.. semoga kak kiko, teteh dan ajuno sehat dan dibahagiakan selalu ya teh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *