Tentang Berkelana Keliling Dunia

Beberapa kali dari sejak pacaran, suami saya menunjukkan saya dengan bangga dan pikiran yang seolah ikut berlabuh ke masa lalu mengenai indahnya tempat di luar saya berpijak. Beberapa kali pula ia mengerutkan kening setiap ia bertanya pada saya “Kamu udah pernah ke….” karena setiap pertanyaan itu sebagian besar saya jawab dengan gelengan kepala.

Perlahan tetapi pasti, suami mulai memaparkan pada imaji saya mengenai tempat-tempat yang membuatnya terkesima, yang membuatnya kagum, yang membuatnya merefleksikan kembali arti hidup. Selain itu, iya juga memaparkan mana negara yang indah, yang kotor, yang penduduk lokalnya ramah dan lain sebagainya. Intinya, ia menceritakan banyak hal mengenai indahnya dunia.

Aku hanya bisa berdecak kagum melihat banyak foto di komputer jinjingnya. Saya adalah seorang yang sangat jarang bepergian untuk berlibur, perjalanan saya lebih banyak karena sebuah kebutuhan studi atau menemani ayah dinas, atau mengunjungi kakak kandung saya di Amerika. Sudah, hanya itu. Saya belum pernah menginjakkan kaki saya di Eropa, Australia, Afrika, bahkan sedikit sekali negara Asia yang pernah saya datangi.

Atau bila disimpulkan lagi, bahkan sedikitt sekali kota yang pernah saya singgahi di Indonesia ini.

Mungkin karena iba, atau memang perjalanan keliling dunia itu meninggalkan jejak sedalam itu, Aa memberikan pesan pada saya:
Go travel around the world, and find yourself..”

I nodded.


Salah satu negara yang saya ingin sekali ke sana adalah Belanda, tepatnya ke kota Groningen. Menurut cerita Aa, kota tersebut adalah kota yang memberikannya titik balik mengenai hidup yang dijalani. Perjalanan menemukan jati diri. Aa bercerita mengenai luas kota itu, alat transportasi dan semua hal tentangnya. Lalu, aku mengutarakan niatku untuk pergi ke sana, dan Aa dengan semangat menyuruhku pergi ke sana setelah kegiatan kepaniteraanku selesai.

Ia keukeuh menyuruhku traveling, sendirian, karena kesibukannya sebagai residen orthopedi memang tidak memungkinkan dirinya untuk bepergian. Namun terlihat betul, ia ingin sekali istrinya melihat dunia selain kota tempatnya berpijak. Ia selalu bilang, traveling adalah upaya mengenal diri sendiri. Bersikeras ia menawariku untuk pergi sendiri ke Inggris, kebetulan adik iparku akan berangkat ke sana untuk melanjutkan studinya. Kata Aa, dari Inggris aku bisa pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi. Negara-negara terkenal seperti Prancis, Itali dll.

Tapi saya selalu menolak.
Kenapa? Pertama, saya bukan traveler. Saya hanya merasa diri saya hanyalah seorang turis, yang menikmati tempat wisata. Berfoto, belanja. Liburan bagi saya bukan ajang mengenal diri, liburan bagi saya ya hanya untuk menenangkan pikiran, pergi dari kejenuhan. Saya jauh lebih bisa mengenal diri saya lewat media tulis. Membaca dan menulis. Tidak, saya tidak perlu pergi ke Eropa sejauh itu hanya untuk bisa mengenal diri saya sendiri.

Kedua? Ternyata, setelah saya selami diri saya lagi, yang membuat saya ingin pergi ke tempat-tempat cantik di dunia adalah kehadiran dirinya dan keluarga. Membayangkan saya berada di sana, bersamanya. Bukan sendiri. Bukan dengan teman. Tapi, ya, bersamanya, dan keluarga kecil saya kelak. Apa artinya saya bisa melihat menara Eiffel, jika saya hanya berdiri sendiri tanpa ada keluarga kecil saya yang juga menikmati?

dari dulu, orientasi hidup saya adalah membangun keluarga kok, tidak muluk tapi juga tidak mudah. Dan hingga sekarang, impian itu masih terbangun, malah semakin kokoh. Tidak, cita-cita saya ternyata bukan keliling dunia..

cita-cita saya,
berlibur bersama keluarga kecil saya. 🙂

Selamat jalan-jalan.

3 thoughts on “Tentang Berkelana Keliling Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *